Yetno menghempaskan badannya ke atas kasur kamar kosan. Jadwal kuliah dan beberapa agendanya hari ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Terlebih lagi, Pak Jaka, dosen mata kuliah Hukum Pernikahan, memberikan tugas kelompok yang membuat seisi kelas kompak berekspresi "Yaaaah..." dengan muka lemas. Ya, karena tugas kelompok yang diberikan memang sulit dan payah, terlebih bagi Yetno. Bukan, bukan karena Yetno mahasiswa yang kurang cerdas dalam memahami materi, tapi yang membuat kondisi sulit bagi Yetno, karena ia harus sekelompok dengan Anggi, perempuan yang tak jarang membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ya, Yetno menyukai Anggi, teman sekelasnya sejak awal pertemuan mereka di semester 3. Anggi adalah mahasiswi pindahan dari Universitas lain.
"Assalamu'alaikum. Maaf, ruang akademik sebelah mana, ya?" tanya seorang gadis berparas ayu dengan balutan gamis dan jilbab unggu.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Rabu, 20 April 2016
Selasa, 12 April 2016
Putri Kentang (Part 2-End)
Putri Kentang part 1, baca di sini
***
Tong sampah yang tak teralu besar di sudut kamar penuh dengan bola-bola kertas berbentuk sembarang. Bukan bola sebenarnya, mungkin lebih tepat jika menyebutnya gumpalan kertas yang diremek-remek, ini entah sudah kertas yang keberapa, dan nyaris, jika aku tak bisa mengendalikan diri, habis sudah satu rim kertas HVS, hanya untuk menulis sebuah surat, surat untuk Pini.
'Tuhaaan... Kenapa sesulit ini???' Aku meremas-remas kepalaku yang plontos.
Menulis surat. Ya, mungkin terlihat aneh dan kuno untuk zaman serba canggih seperti sekarang. Tapi, apalah dayaku, ponsel pintarku seakan tak ada gunanya bila aku berhadapan dengan Pini. Bukan karena aku menjadi gagu ketika hendak menghubunginya--walaupun sebenarnya itu salah satu alasannya--tapi, alasan utamanya adalah karena Pini tidak punya ponsel pintar. Jangankan ponsel pintar, ponsel yang tak pintar pun dia tak punya. Karena seperti kalian tahu, Pini hanyalah gadis dari keluarga sederhana, gadis penjual kentang. Namun, kesederhanaan--dan paras ayu--yang dimilikinya inilah, yang membuatku jatuh cinta.
'Tuhaaan... Kenapa sesulit ini???' Aku meremas-remas kepalaku yang plontos.
Menulis surat. Ya, mungkin terlihat aneh dan kuno untuk zaman serba canggih seperti sekarang. Tapi, apalah dayaku, ponsel pintarku seakan tak ada gunanya bila aku berhadapan dengan Pini. Bukan karena aku menjadi gagu ketika hendak menghubunginya--walaupun sebenarnya itu salah satu alasannya--tapi, alasan utamanya adalah karena Pini tidak punya ponsel pintar. Jangankan ponsel pintar, ponsel yang tak pintar pun dia tak punya. Karena seperti kalian tahu, Pini hanyalah gadis dari keluarga sederhana, gadis penjual kentang. Namun, kesederhanaan--dan paras ayu--yang dimilikinya inilah, yang membuatku jatuh cinta.
Jumat, 08 April 2016
Selasa, 05 April 2016
Putri Kentang
Aku tak tahu pasti sejak kapan aku punya kebiasaan seperti ini. Duduk menunggu seseorang tiap sore di teras rumah. Seseorang yang mungkin bagi kebanyakan orang, tidak begitu penting. Ya, bisa jadi, karena dia memang bukan orang penting seperti para pejabat ataupun artis ibu kota. Namun bagiku, dia teramat penting. Karena dengan memandanginya di setiap sore, membawa gairah tersendiri bagiku, bagi masa depanku tentunya.
Memperhatikan caranya tersenyum dengan semua orang, membuat hatiku berdesir, apatah lagi saat dia benar-benar menyambutku dengan senyumnya, hatiku meleleh. Ingin langsung kutemui ayahnya, dan mengajaknya ke kantor KUA. Dia gadis bermata bulat, dengan hitung mancung dan bibir merah munggil. Kulitnya tidak terlalu putih memang, namun bersih. Kelihatan sekali dia adalah gadis yang pandai merawat diri. Ah sungguh istri idaman para suami. Kerudung sederhana, yang menjulur ke dada, tidak terlalu panjang memang, tapi cukup menambah anggun penampilan dan pancaran kecantikkannya.
Rabu, 30 Maret 2016
Jodoh dikejar Deadline
"Aaaakkk... Ini kenapa, sih? Kenapa harus ada deadline-deadline-an gini?" Aku mengacak-acak rambut, mendengus sebal, manyun. Entah kenapa setiap kali aku kesal atau bingung, reflek reaksiku selalu begini--membuat gerakan yang akan disambut oleh komentar sahabatku, Rina.
"Kamu kenapa lagi sih, Dar? Itu rambut yang tadinya lurus, bisa jadi keriting loh, gara-gara kamu acak-acak gitu terus." Kalimat standar yang selalu diucapkan Rina setiap kali melihat reaksiku yang seperti ini. Tapi kali ini ada yang berbeda, karena otomatic reply-nya itu tidak disertai dengan ekspresi datar atau sebal. Justru kini dia memasang wajah menahan tawa.
"Ini nih, mamaku, kenapa coba pake nyuruh-nyuruh anaknya cepetan nikah? Pake dikasih deadline lagi! Udah kayak tugas kuliah aja tauuk, pake deadline segala." Aku mendengus sebal. Rina malah tertawa, nyaris menyemburkan kuah bakso yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Udah aku duga. Haha."
"Maksud kamu?" Aku mendelik.
"Kamu kenapa lagi sih, Dar? Itu rambut yang tadinya lurus, bisa jadi keriting loh, gara-gara kamu acak-acak gitu terus." Kalimat standar yang selalu diucapkan Rina setiap kali melihat reaksiku yang seperti ini. Tapi kali ini ada yang berbeda, karena otomatic reply-nya itu tidak disertai dengan ekspresi datar atau sebal. Justru kini dia memasang wajah menahan tawa.
"Ini nih, mamaku, kenapa coba pake nyuruh-nyuruh anaknya cepetan nikah? Pake dikasih deadline lagi! Udah kayak tugas kuliah aja tauuk, pake deadline segala." Aku mendengus sebal. Rina malah tertawa, nyaris menyemburkan kuah bakso yang baru saja masuk ke mulutnya.
"Udah aku duga. Haha."
"Maksud kamu?" Aku mendelik.
Selasa, 29 Maret 2016
Sandal Toska
"Jadi sandal kesayangan lo yang hilang kemaren udah ketemu?" tanya Pini yang baru saja pulang dari mengajar private malam ini. Sepertinya dia penasaran, setelah tadi aku memberi kabar bahwa sandal kesayanganku yang hilang beberapa minggu lalu, tiba-tiba ditemukan.
"Iya, gue nemu di balik pintu toilet kampus," jawabku datar.
"Terus, kenapa wajah lo sedih gitu? Bukannya lo seneng sandal lo udah ketemu?" Pini mengambil posisi duduk di sampingku, di atas tempat tidur, sembari melemaskan otot-otot kakinya.
"Ada yang aneh sama sandal gue," kataku sembari menerawang kondisi sandal kesayangan yang kutemukan.
"Terus, kenapa wajah lo sedih gitu? Bukannya lo seneng sandal lo udah ketemu?" Pini mengambil posisi duduk di sampingku, di atas tempat tidur, sembari melemaskan otot-otot kakinya.
"Ada yang aneh sama sandal gue," kataku sembari menerawang kondisi sandal kesayangan yang kutemukan.
Kamis, 03 Maret 2016
Lara
Panggil aku Lara. Aku gadis berusia 23 tahun. Seperti
namaku, kisah cintaku juga melara. Karena aku hanya bisa bermimpi
tentang cinta. Cinta yang entah kapan akan bersambut.
Ya. Mungkin aku tidak tahu diri, jatuh cinta pada Leo,
lelaki super terkenal bak boy band di kampusku. Tidak hanya tampan, Leo
juga lelaki yang ramah dan baik hati. Aku kenal betul dengannya, karena
rumah kami berdekatan. Sejak dulu kami susah bertetangga. Tapi entah
kenapa,
Kamis, 28 Januari 2016
Bayang-bayang Marni
Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper), temanya STORY
BLOG TOUR, setiap member lain yang sudah diberi urutan absen
melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Aku Cici mendapatkan giliran untuk membuat episode lima dalam serial STORY BLOG TOUR ini.
Cerita sebelumnya
1. Depi : LelakiYang Tertelan Waktu
2. Lisma : Sepenggal Harap
3. Kiki : Sebuah Salam dan Bayang Masa
4. Faizi : Sebuah Awal dari Sebuah Akhir
Dan inilah episode lima. Cekidot~
***
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan kondisi Kardi saat ini. Kecelakaan itu membuatnya harus dirawat berbulan-bulan di
Rumah Sakit. Rabu, 27 Januari 2016
Cakrawala
"Uh! Sebel. Sebeeeeeeeell!!! Kenapa sih, mereka itu pada
rese banget? Ngata-ngatain aku mulu bisanya. Iiiihhh... Pengen aku
cabik-cabik tuh orang."
"Eh... eh... Anak mama kenapa ini? Pulang-pulang kok malah
cemberut? Terus ngomel-ngomel nggak jelas. Ntar cepet tua loh," goda
mama yang mendapatiku ngedumel pulang sekolah, masih lengkap dengan
seragam putih biru, bahkan sepatu yang belum dilepas.
"Iiih... Mama. Orang lagi kesel juga. Malah digodain." Aku memasang wajah cemberut dan pura-pura memalingkan muka dari mama.
"Hehe... Lagian kamu, nggak biasanya pulang sekolah
cemberut kayak gini? Ada apa? Cerita dong sama mama," pinta mama seraya
duduk dan merangkul pundakku. Ah, mama. Sentuhannya selalu berhasil
membuatku nyaman.
"Itu loh ma...
Selasa, 26 Januari 2016
Lampu Persegi Enam
"Beli. Enggak. Beli. Enggak. Beli. Enggak." Aku mengatupkan jemari satu per satu. Menghitung, mencoba megambil keputusan.
"Maaf Bu, jadi beli tiketnya?"
Ngek. Ibu?
Selasa, 19 Januari 2016
Chatting Rese-Resolusi Part 3
Hai hai... Yang udah pada nggak sabar mau intip lagi chatting-an Tommy dan Bagas, langsung aja. Cekidot~
Masih dari handphone yang sama, handphone Bagas.
Masih dari handphone yang sama, handphone Bagas.
***
04 JANUARI 2016
04 JANUARI 2016
Tom, gue barusan dapet tulisan bagus nih. Lo baca deh. 12.12
Tulisan apa tuh? 12.13
Punya siapa? 12.13
Anak2 di grup kita?
Punya siapa? 12.13
Anak2 di grup kita?
Minggu, 10 Januari 2016
Misteri Sebuah Kunci dan Sesosok Bayangan
Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper), temanya STORY BLOG TOUR. Di mana member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Aku Cici mendapatkan giliran untuk membuat episode ketiga dalam serial story blog tour ini.
Episode 1 : Senandung Malam - Nadhira Arini
Episode 2 : Rumah tua - Rizka Zu Agustina
Dan inilah episode ketiga. Cekidot~
Kamis, 07 Januari 2016
Chatting Rese-Resolusi part 1
Di sebuah chat room Whatsapp Bagas dan Tommy. Chat room Bagas.
27 DESEMBER 2015
Woi Cuy! Banggguuuuuuuuunnn! 07.45
Gak pake tereak juga kallliii... 07.45
Gue udah bangun dari tadi. Emang kayak lo. Jam segini baru bangun, heh? 07.45
Wkakakkka. Tau aja lo. 07.46
Eh, gimana resolusi lo? Udah akhir tahun nih. Belum ada tanda-tandanya gue liat. Wkakaka. 07.46
Berisik! 07.46
BHAHAHAHAHA *devil laugh* 07.47
Makanya cuy, jangan kaku banget lo sama cewek.07.47
Kalau gitu mulu, ya gak bakal kawin-kawin lo. 07.47
Makanya cuy, jangan kaku banget lo sama cewek.07.47
Kalau gitu mulu, ya gak bakal kawin-kawin lo. 07.47
Kayak lo udah kawin aja. Pake ngajarin gue
Chatting Rese-Resolusi part 2
Yuhuuu... Buat kamu yang udah nungguin and nggak sabaran mau ngintip chattingan-nya Tomy sama Bagas, langsung aja Guys. Cekidot ~
01 JANUARI 2016
Happpyyyy New Year, Broooo... 00.01
Buat resolusi apa lagi tahun ini? 00.02
Resolusi nikah, ya? *oopss 00.02
Lo begadang ya tadi malam? 05.14
Sama Gita?
Senin, 09 November 2015
"Mengetuk" pintu
Hufh. Kuhempaskan badan yang penat di atas kasur kamar kosan. Tas selempang yang setia menemani perjalanan kuliahku selama tujuh semester ini, kuletakkan sembarang di samping kasur. Kunyalakan kipas angin mini yang terletak di samping tempat tidur. Syukurlah siang ini dosenku nggak jadi masuk, jadi aku bisa istirahat. Jarang-jarang bisa istirahat siang kayak gini. Dan kebetulan anak-anak kos yang lain belum pulang, jadi aku bisa bocan--bobok cantik. Siapa tahu nanti mimpi dilamar pangeran, kan lumayan. Hehehe.
Angin sepoi-sepoi mulai membelai rambutku yang basah oleh keringat. Oh, betapa nikmatnya bisa tidur siang seperti ini, pikiranku pun mulai melayang entah kemana. Terlena bersama belaian mesra angin dari kincir mini yang berputar di sampingku. Baru saja aku terlena dan hendak memejamkan mata, saat terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
Tok... tok.. tok...
"Assalamu'alaikum." Ya ampuuun, ini siapa sih yang datang siang-siang begini. Nggak bisa banget liat orang seneng apa, yah?
"Wa'alaikumussalam," jawabku lirih, masih dengan kepala menekur ke bantal.
Tok... tok... tok...
"Assalamu'alaikum." Terdengar ucapan salam untuk kedua kalinya.
"Wa'alaikumussalam. Iya sebentar," jawabku malas. Dengan tampang kusut dan mata setengah terbuka, aku menyambar kerudung instan di belakang pintu kamar. Bukan jilbab lebar seperti yang kebanyakan digunakan para penghuni kos ini. Tapi setidaknya aku sudah menutup aurat selalu, kan? Menutup aurat versi aku tentunya. Kulangkahkan kaki menuju pintu depan sambil misuh-misuh dalam hati, Hmm... Awas ya, kalau yang datang ini abang-abang galon yang sok kegenitan itu, terus belagak minta tagihan galon siang-siang gini. Langsung aku usir dan bilang mulai hari ini penghuni kos nggak minum air galon lagi, cukup nampung air hujan aja.
Tok... tok... tok...
Ketukan ronde ketiga, membuatku semakin sebal. Iya, iya. Sebentar. Ni orang nggak sabaran amat sih.
"Ya, cari siapa?" kataku ketus seraya membuka pintu. Namun perasaan kesal karena ada yang mengganggu rencana bocan-ku tiba-tiba menguap bersama panas udara hari ini, saat mendapati seorang pria dengan tinggi 170-an, berkulit sawo matang, rambut rapi dengan sedikit "acakan cakep" di bagian jambul, berdiri di hadapanku.
Oh Em Ji. Ini bukan mimpi kan? Ada angin apa, siang-siang gini ada pangeran cakep nyamperin aku ke kosan? Aku menepuk-nepuk pipi, meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi.
"Eh. Reyna ada?" tanya pria itu sambil menunduk-nunduk sopan, sambil menyugingkan senyuman yang membuatku meleleh. Aku terpana.
"Maaf, Reyna ada?" tanyanya lagi, membuyarkan lamunanku.
"E eh." Aku gelagapan, ketahuan melamun. "Oh, Reyna. Reyna... masih di kampus, ya di kampus." jawabku menebak-nebak, karena memang mungkin dia masih di kampus. Ya ampun, ini cowok cakep amat sih, siapanya Reyna coba? Pacar? Kayaknya nggak mungkin deh, Reynakan jilbaber gitu, masa punya pacar. Kalau emang bukan pacar Reyna, berarti boleh dong buat aku? Khayalanku mulai beraksi lagi.
"Oh. Ya udah, kalau nggak ada. Saya titip ini aja, ya." Cowok berkemeja coklat dengan lengan panjang yang sedikit digulung itu menyerahkan kantong plastik berukuran lumayan besar padaku. "Itu dari ibunya Reyna, bilang aja tadi Bang Arya yang antar ke sini."
"Oh ya, nanti aku sampaikan," jawabku. Setelah berterima kasih, diapun pamit. Sebelum dia benar-benar membalikkan badan, "Oh ya, mas ini siapanya Reyna, ya?" tanyaku polos, lalu aku mengutuk diri sendiri karena lancang bertanya tanpa malu.
"Saya abangnya, bukan abang kandung sih. Tapi kami sepupu dan saudara sepersusuan, dan kebetuluan rumah kami berdekatan. Jadi, semalam waktu aku pulang, ibu Reyna nitip itu buat Reyna. Tolong sampaikan, ya." Aku mengangguk mengiyakan, diapun pamit dan berlalu.
Aku kembali ke kamar dengan wajah berseri-seri atau lebih tepatnya mesam mesem sendiri. Dan karena kejadian barusan, gen ngayal yang sedari dulu melekat di diriku mulai beraksi lagi. Aku kembali membaringkan badan dengan indah di tempat tidur sambil mengkhayal menjadi putri dan Bang Arya pangerannya. Aaa... Pasti keren banget deh. Akupun mulai terlarut dalam buaian mimpi--yang kuciptakan sendiri.
Tok... Tok... Tok...
Aduh. Siapa lagi, sih? Dengan berat aku melangkahkan kaki membuka pintu depan.
"Ya, cari si--" Suaraku tercekat saat melihat Bang Arya sudah berada di depan pintu dengan seikat bunga mawar merah di tangannya.
"Sa, maaf kalau udah ganggu istirahat kamu. Tapi aku ke sini cuma mau ngasih ini buat kamu." Bang Arya menyerahkan bunga mawar di tangannya ke padaku. Ya ampuuun... So sweet banget sih. Mukakku merah tomat, bahkan mungkin lebih merah lagi.
"Makasi ya, Bang. Jadi nggak enak, Bang Arya sampai repot-repot gini." Aku menerima bunga mawar itu dan menciumnya. Seperti adegan di tivi-tivi.
"Nggak repot, kok. Untuk gadis secantik kamu, aku seneng-seneng aja direpotin." Kata-kata Bang Arya membuatku makin meleleh.
"Oh ya. Bang Arya kenapa balik lagi? Dan kok tahu namaku Salsa?"
"Karena aku... Aku sayang kamu, Sa." jawab Bang Arya seraya menyentuh pundakku.
"Bang Arya sayang aku?" Bagaimana mungkin baru kenal udah bisa bilang sayang? Mendadak otak khayalanku mulai mendarat di bumi--bisa berpikir logis.
"Iya, aku sayang kamu. Sayang kamu." Kini yang kurasakan bukan hanya sentuhan tangan-romantis, tapi, lebih seperti Bang Arya sedang menggoncang-goncang badanku. Aku mulai linglung.
"Sa, kamu gimana? Ini udah jam berapa? Ayo, Saa..." Hah? Jam berapa? Bang Arya kenapa? Aku semakin bingung. Tubuhku terasa semakin digoncangkan oleh tangannya--yang kurasa bukan tangannya.

"Salsaaa.... Ayo bangun. Ini udah jam berapa?" Hah? Tiba-tiba aku melihat Tantri, teman sekamarku sudah berdiri di samping tempat tidur. "Kamu itu mimpi apa, sih? Siang-siang gini tidur sambil senyam-senyum. Dibangunin dari tadi susah banget lagi," omel Tantri.
"Hehehe..." Aku nyengir. "Mimpi ada seorang pangeran mengetuk pintu hatiku," jawabku sambil cengengesan.
"Pangeran ngetuk pintu aja udah sampe lupa waktu. Tuh, ada yang dari tadi ngetuk pintu ngantarin cinta nggak kamu gubris."
"Hah? Siapa?" tanyaku dengan muka cengo.
"Allah. Udah dari tadi adzan ashar tahu. Udah digedor-gedor sama Allah. Kamunya cuek aja. Tuh, udah mau jam lima. Udah ashar, belum?" tanya Tantri sambil melilrik jam dinding di kamarku.
Astaghfirullah. Hatiku tersentil.
Tok... tok.. tok...
"Assalamu'alaikum." Ya ampuuun, ini siapa sih yang datang siang-siang begini. Nggak bisa banget liat orang seneng apa, yah?
"Wa'alaikumussalam," jawabku lirih, masih dengan kepala menekur ke bantal.
Tok... tok... tok...
"Assalamu'alaikum." Terdengar ucapan salam untuk kedua kalinya.
"Wa'alaikumussalam. Iya sebentar," jawabku malas. Dengan tampang kusut dan mata setengah terbuka, aku menyambar kerudung instan di belakang pintu kamar. Bukan jilbab lebar seperti yang kebanyakan digunakan para penghuni kos ini. Tapi setidaknya aku sudah menutup aurat selalu, kan? Menutup aurat versi aku tentunya. Kulangkahkan kaki menuju pintu depan sambil misuh-misuh dalam hati, Hmm... Awas ya, kalau yang datang ini abang-abang galon yang sok kegenitan itu, terus belagak minta tagihan galon siang-siang gini. Langsung aku usir dan bilang mulai hari ini penghuni kos nggak minum air galon lagi, cukup nampung air hujan aja.
Tok... tok... tok...
Ketukan ronde ketiga, membuatku semakin sebal. Iya, iya. Sebentar. Ni orang nggak sabaran amat sih.
"Ya, cari siapa?" kataku ketus seraya membuka pintu. Namun perasaan kesal karena ada yang mengganggu rencana bocan-ku tiba-tiba menguap bersama panas udara hari ini, saat mendapati seorang pria dengan tinggi 170-an, berkulit sawo matang, rambut rapi dengan sedikit "acakan cakep" di bagian jambul, berdiri di hadapanku.
Oh Em Ji. Ini bukan mimpi kan? Ada angin apa, siang-siang gini ada pangeran cakep nyamperin aku ke kosan? Aku menepuk-nepuk pipi, meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi.
"Eh. Reyna ada?" tanya pria itu sambil menunduk-nunduk sopan, sambil menyugingkan senyuman yang membuatku meleleh. Aku terpana.
"Maaf, Reyna ada?" tanyanya lagi, membuyarkan lamunanku.
"E eh." Aku gelagapan, ketahuan melamun. "Oh, Reyna. Reyna... masih di kampus, ya di kampus." jawabku menebak-nebak, karena memang mungkin dia masih di kampus. Ya ampun, ini cowok cakep amat sih, siapanya Reyna coba? Pacar? Kayaknya nggak mungkin deh, Reynakan jilbaber gitu, masa punya pacar. Kalau emang bukan pacar Reyna, berarti boleh dong buat aku? Khayalanku mulai beraksi lagi.
"Oh. Ya udah, kalau nggak ada. Saya titip ini aja, ya." Cowok berkemeja coklat dengan lengan panjang yang sedikit digulung itu menyerahkan kantong plastik berukuran lumayan besar padaku. "Itu dari ibunya Reyna, bilang aja tadi Bang Arya yang antar ke sini."
"Oh ya, nanti aku sampaikan," jawabku. Setelah berterima kasih, diapun pamit. Sebelum dia benar-benar membalikkan badan, "Oh ya, mas ini siapanya Reyna, ya?" tanyaku polos, lalu aku mengutuk diri sendiri karena lancang bertanya tanpa malu.
"Saya abangnya, bukan abang kandung sih. Tapi kami sepupu dan saudara sepersusuan, dan kebetuluan rumah kami berdekatan. Jadi, semalam waktu aku pulang, ibu Reyna nitip itu buat Reyna. Tolong sampaikan, ya." Aku mengangguk mengiyakan, diapun pamit dan berlalu.
Aku kembali ke kamar dengan wajah berseri-seri atau lebih tepatnya mesam mesem sendiri. Dan karena kejadian barusan, gen ngayal yang sedari dulu melekat di diriku mulai beraksi lagi. Aku kembali membaringkan badan dengan indah di tempat tidur sambil mengkhayal menjadi putri dan Bang Arya pangerannya. Aaa... Pasti keren banget deh. Akupun mulai terlarut dalam buaian mimpi--yang kuciptakan sendiri.
Tok... Tok... Tok...
Aduh. Siapa lagi, sih? Dengan berat aku melangkahkan kaki membuka pintu depan.
"Ya, cari si--" Suaraku tercekat saat melihat Bang Arya sudah berada di depan pintu dengan seikat bunga mawar merah di tangannya.
"Sa, maaf kalau udah ganggu istirahat kamu. Tapi aku ke sini cuma mau ngasih ini buat kamu." Bang Arya menyerahkan bunga mawar di tangannya ke padaku. Ya ampuuun... So sweet banget sih. Mukakku merah tomat, bahkan mungkin lebih merah lagi.
"Makasi ya, Bang. Jadi nggak enak, Bang Arya sampai repot-repot gini." Aku menerima bunga mawar itu dan menciumnya. Seperti adegan di tivi-tivi.
"Nggak repot, kok. Untuk gadis secantik kamu, aku seneng-seneng aja direpotin." Kata-kata Bang Arya membuatku makin meleleh.
"Oh ya. Bang Arya kenapa balik lagi? Dan kok tahu namaku Salsa?"
"Karena aku... Aku sayang kamu, Sa." jawab Bang Arya seraya menyentuh pundakku.
"Bang Arya sayang aku?" Bagaimana mungkin baru kenal udah bisa bilang sayang? Mendadak otak khayalanku mulai mendarat di bumi--bisa berpikir logis.
"Iya, aku sayang kamu. Sayang kamu." Kini yang kurasakan bukan hanya sentuhan tangan-romantis, tapi, lebih seperti Bang Arya sedang menggoncang-goncang badanku. Aku mulai linglung.
"Sa, kamu gimana? Ini udah jam berapa? Ayo, Saa..." Hah? Jam berapa? Bang Arya kenapa? Aku semakin bingung. Tubuhku terasa semakin digoncangkan oleh tangannya--yang kurasa bukan tangannya.

"Salsaaa.... Ayo bangun. Ini udah jam berapa?" Hah? Tiba-tiba aku melihat Tantri, teman sekamarku sudah berdiri di samping tempat tidur. "Kamu itu mimpi apa, sih? Siang-siang gini tidur sambil senyam-senyum. Dibangunin dari tadi susah banget lagi," omel Tantri.
"Hehehe..." Aku nyengir. "Mimpi ada seorang pangeran mengetuk pintu hatiku," jawabku sambil cengengesan.
"Pangeran ngetuk pintu aja udah sampe lupa waktu. Tuh, ada yang dari tadi ngetuk pintu ngantarin cinta nggak kamu gubris."
"Hah? Siapa?" tanyaku dengan muka cengo.
"Allah. Udah dari tadi adzan ashar tahu. Udah digedor-gedor sama Allah. Kamunya cuek aja. Tuh, udah mau jam lima. Udah ashar, belum?" tanya Tantri sambil melilrik jam dinding di kamarku.
Astaghfirullah. Hatiku tersentil.
Kamis, 29 Oktober 2015
Miss. Tulis
Yuhuuu...
Jadi ceritanya beberapa waktu lalu dapat tantangan nulis duet dari salah seorang temen di grup. Awalnya sih nggak bisa ikutan, karena lagi 'sok sibuk' dan HP lagi ngambek. Hiks. Tapi ternyata eh ternyata, HP aku ngambeknya nggak lama karena segera aku bawa ke dokternya kemarin. Hehe.
So, dengan berbekal todongan dadakan dari Dini, dan deadline yang mepet, finally jadilah cerpen seperti di bawah ini. Selamat menikmati, Guys!
Oh ya, cerita ini ditulis dengan dua sudut pandang, sudut pandang aku (Cici) dan Dini. Nama-nama tokoh yang ada di tulisan ini juga asli loh. Mereka semua temen-temen aku di grup. Tapi, untuk ceritanya sendiri tentunya nggak, itu hanya fiksi. Buat seru-seruan aja. Hahaha.
Oke, let's cekidot.
***
PoV-Dini
Pagi ini indah. Pagi ini cerah. Pokoknya pagi ini sebunga-bunga jilbab yang aku pakai dah. Tau kenapa? Nana hari ini mau traktir kami berempat nonton film. Yeaaay!!! Nana kesayangan banget deh! Tau aja kantong lagi kosong dan kita pengen banget nonton film itu. Yoiii, walaupun beda-beda emosi, tapi soal film aksi sih kami bakal beraksi. #Eh
Kami janjian di depan Depok Town Square (Detos). Terlihat di sana sudah ada Ruru dan Zu. Eh, tapi kenapa si Zu mukanya ditekuk begitu yak? Aku pun menghampiri mereka.
"Hoi, yang lain mana?" tanyaku.
"Belum dateng," sahut Zu masih dengan muka tertekuk.
"Lo kenapa, Zu?" tanyaku.
"Biasa... Nih, si Miss.Tulis Ruru. Gak bisa liat orang seneng dikit. Gue kan mau cerita tentang gue ketemu cowok cakep di kereta tadi. Eh, dia seperti biasa nyuruh gue nulis. Ilang udah mood gue buat cerita," jawab Zu dengan bersungut-sungut. Duh, Zu! Kalo cemberut jadi tambah gendut. #Ups
"Hahahaha. Lah, elo kan tau banget dia kagak suka dengerin cerita. Miss Tulis kan lebih suka baca cerita. Lo juga sih, lagian ngapain cerita ke dia?" kataku sambil tertawa.
"Abis bete nungguin kalian. Kan enak kalo bisa ngobrol gitu." Bibir Zu sudah sedikit bisa tersenyum.
Ruru yang dibicarakan sejak tadi hanya diam memangku bukunya. Heuh! Sahabatku yang satu ini memang aneh. Sepertinya kebiasaan dia membaca buku membuat dia punya sindrom nggak bisa mendengarkan cerita orang lain. Makanya dia lebih senang orang lain menulis untuknya.
"Ru, lagi baca buku apa?" tanyaku mencoba membuka pembicaraan.
Ruru hanya mengangkat bukunya agar aku bisa membaca judul buku tersebut. Aku dan Zu tertawa berbarengan karena melihat judul buku itu. Bisa dong kalian bayangin kalau judul bukunya 'Nikah, kan?' kalian semua pasti bakal ketawa.
And, as always Miss.Tulis ini hanya bersikap datar, seolah-olah kami cuma angin semriwing yang datang. Sebal sih, tapi mau gimana lagi, kan? Untungnya tak lama kemudian sahabat-sahabatku yang rusuh lainnya datang. Nana dan Cici.
"Sorry ya lama. Gue jemput Cici dulu tadi," kata Nana meminta maaf.
"Hah? Lo jemput Cici dari Pekanbaru?" tanya Zu polos seperti biasa.
"Bukanlah, dodol. Si Cici kan lagi ikut tantenya di Tangerang," jawab Nana sambil menggetok kepala Zu yang disambut tawa kami tanpa Ruru.
"Psst... Ruru baca apa sih? Serius banget," tanya Cici.
Aku bertatapan dengan Zu, kemudian...
"Hahahahaha," tawa kami meledak.
Nana dan Cici yang tak tahu apa-apa, mengernyit sebal.
"Apaan sih?" desak Nana.
"Udah masuk dulu aja yuk. Keburu mulai filmnya. Tar gue ceritain," rayuku pada Nana. Secara, udah panas gilak di luar sini.
***
PoV-Cici
"Wah... Keren banget ya filmnya tadi. Pengen deh, punya pacar jagoan kayak si Zacky," komentar Zu ketika kami baru keluar dari bioskop.
"Iya. Udah cakep, baik, jago bela diri lagi. Siapa sih yang nggak mau?" Nana menimpali.
"Hu... maunya. Ngarep niy yee..." kata Dini.
"Alah elo, Din. Emang lo gak mau?" Sungut Zu.
"Loh. Gue kan nggak bilang nggak mau. Tapi gue cuma bilang, kalian pada ngarep." Dini membela diri.
"Trus, emang lo nggak ngarep, Din?" Aku menimpali.
"Ya pengen juga dong. Haha" Dini tertawa garing. Tiga pukulan mendarat di badannya. Ya, hanya tiga pukulan. Minus satu dari kami berempat. Karena seperti biasa, Si Ruru Miss.Tulis nggak bakal ikut-ikutan soal beginian.
"Au... Sakit tau..." Dini cemberut.
"Bodoooo..." paduan suara kompak Zu, Nana, dan aku, komplit dengan cibiran.
"Eh. Eh... liat deh. Si Miss.Tulis beneran no comment ya..." Zu mencolek lenganku. Sedang yang diomongin berjalan santai di depan kami yang rusuh dari tadi. Santai? Lebih tepatnya jalan serius sendirian, sesekali menatap misterius--tatapan yang sulit aku terjemahkan--buku di tangannya.
"Ru, gimana menurut lo film tadi?" Aku mencoba menjajari langkahnya, di depan.
"Biasa aja," jawab Ru datar.
Hah? Biasa aja? Aku melotot. Gak percaya. "Kalau pemainnya? Ganteng gak?" tanyaku lagi. Kali ini pasti jawabannya beda, aku yakin.
"Biasa aja," jawab Ru cuek. Ekspresi datar makin menjadi.
Gubrak! Ni anak beneran datar, apa nggak punya perasaan sih? Film segitu keren dibilang biasa aja. Pemainnya yang super ganteng itu juga dibilang biasa aja. Uh! Sebel. Padahal kan aku cuma niat mencairkan ekspresinya yang beku. Uh! Aku berbalik ke belakang. Zu, Nana, dan Dini memegang perut menahan tawa.
Tiba-tiba...
"Eh. Ada apa tu di sana? Kok pada rame-rame?" tanyaku entah pada siapa.
"Mana, mana?" Zu clingak-clinguk kiri-kanan.
"Bukan di sana. Tapi di sanaaaa..." Nana mengamit dan memalingkan wajah Zu ke arah yang kubicarakan.
"Meet and Greet bareng Eko Candriko, penulis buku Nikah, kan?" Dini mengeja tulisan yang terpampang di banner dekat kerumunan. Lalu tertawa, "Jodoh lo nih, Ru. Penulis buku yang lo pegang sekarang datang ke sini. Haha."
"Serius? Mana?" Ru antusias.
Aku, Zu, Nana dan Dini bersitatap. Heran. Tumben nih anak bisa kasih ekspresi lain, selain ekspresi datar? Apa jangan-jangan dia jatuh cinta?
Aku, Zu, Nana dan Dini bersitatap. Heran. Tumben nih anak bisa kasih ekspresi lain, selain ekspresi datar? Apa jangan-jangan dia jatuh cinta?
"Udah, Ru. Buruan sana. Ambil posisi paling depan. Lo mau minta tanda tangan, kan? Siapa tahu dapat tanda hati sekalian." Nana tertawa garing.
Ruru mendekati kerumunan. Sedangkan kami, memilih mendekati outlet ice bubble di dekat podium, warna-warni bubble telah memanggil untuk segera dinikmati.
Di luar perkiraan, bukannya menerobos kerumunan untuk maju paling depan lalu minta tanda tangan, Ruru malah berdiri mematung di barisan paling belakang. Menatap lamat-lamat pemuda yang duduk di podium mini, di depan para fans nya. Hingga acara Meet and Greet itu bubar, Ruru masih berdiri mematung di sana. Matanya masih terpaku pada sosok pemuda di depannya. Entah sadar atau tidak, Ruru kini malah jadi makhluk paling mencolok di area Meet and Greet tadi. Karena hanya tinggal dia sendiri yang masih berdiri di sana, sedangkan yang lain sudah bubar beberapa menit yang lalu.
"Uh, dasar Miss.Tulis banget nih si Ruru. Liat deh!" Nana menyikut lenganku yang tengah asik menghabiskan tetes terakhir ice bubble.
"Aduh. Apa sih, Na?" Aku ngomel.
"Itu, Si Ruru. Gila ya dia. Masa masih di sana aja. Gak tahu apa udah pada bubar?"
"Udah. Kita samperin aja deh. Kasian juga liat dia masih di situ sendirian. Kayaknya udah kesambet deh."
"Hush. Jangan asal ngomong. Udah yuuk ki--" Tak sempat Dini menyelesaikan perkataannya, karena seorang pemuda lebih dulu datang menghampiri Ruru.
"Maaf, mau minta tangan, ya?" Sapa pemuda itu sopan. Yang ditanya gelagapan.
Eko? Kami berempat saling pandang.
***
PoV-Dini
Sumpah yak! Baru kali ini banget aku lihat Ruru jadi cewek normal. Gimana nggak? Lihat deh! Mukanya ada ekspresinya gitu. Tersipu malu-malu waktu penulis buku favoritnya nyamperin dia. Kita berempat cuma bisa melongo.
"Guys, ini nggak bisa dibiarin. Kita harus jodohin Ruru sama orang itu!" sahutku antusias.
"Gue setuju banget saran lo, Din. Kayak hidayah buat muka datarnya Ruru tuh." sambut Cici tak mau kalah.
"Tapi gimana caranya? Lihat tuh kelakuan si Ruru." kata Nana membuat kita berempat menoleh ke arah yang sama. Yaps, Ruru masih mematung kayak sapi ompong. Ckckck. Ekspresinya itu loooh... kayak dia ngeliatin buku yang dia suka pake banget. Di mukanya tuh kayak ada tulisan 'Ini punya gue. Ini punya gue!'.
"Kok bengong?" Dari jarak yang agak jauh kami mendengar Eko berkata begitu pada Ruru.
"Eh.. Iya. Aku mau minta tanda tangan." Walaupun samar, kita berempat yakin muka Ruru sedikit memerah.
"Gimana bukunya?" tanya Eko sambil memandang wajah Ruru. Aaaak, Ruruuuu beruntung banget siiih. *sambil gigit tisu*
"Bagus. Aku suka sama gaya tulisannya. Dan terlebih aku suka banget sama EYD-nya. Rapih banget," jawab Ruru sedikit berbinar.
Oke, fix. Kalian semua pasti bakal pengen narik Ruru dari situ terus jitak tuh anak. Kesempatan ngobrol sama cowok, masih aja dia bahas soal EYD. Nana udah hampir ambil langkah ngajak ribut Ruru tapi ditahan Zu. Udah berasa kayak benteng takeshi.
"Waw, baru kali ini ada orang yang memuji bukuku dari segi EYD. Kayaknya kamu tau banyak ya soal kepenulisan?"
Ngek-Ngok. Ternyata Eko sama anehnya kayak Ruru. Kita berempat pun melongo lagi.
"Ng... nggak juga. Aku cuma suka banget baca buku," kata Ruru tersipu.
"Wah, menarik. Oh, ya. Namamu siapa? Siapa tau kita bisa bekerja sama dalam hal kepenulisan." Waw, tawaran yang sangat menggiurkan.
"Ruru. Hmm.. boleh." Yah, Si Miss.Tulis keluar aslinya lagi. Datar.
"Oke. Ada kartu nama, Ru?"
Ruru pun memberikan kartu namanya pada Eko.
"Kayaknya kita nggak perlu usaha jodohin mereka lagi deh. Tuh udah kemajuan banget," kata Zu sambil memperbaiki posisi kacamata yang ditaruh di atas kepala.
Setelah Eko pergi, kami pun menghampiri Ruru. Apalagi kalau bukan untuk menggodanya.
"Ehem.. Cie... Gimana Ru perasaannya?" godaku.
"Iya, Ru. Kok bisa sampe bengong lama gitu ngeliatin doi? Apa bedanya sama penulis lain?" tanya Cici dengan suara manjanya.
"Nanti deh gue tulis di email."
Tettooott... Haaffft, Miss.Tulis beraksi lagi. Untungnya, dia sahabat kita. Coba kalo maling, udah kita gebukin dan kita geret ke kantor polisi buat digantung, eh, diinterogasi.
***
PoV-Cici
Tak disangka pertemuan singkat dua makhluk aneh, eh dua insan alias Ruru dan Eko beberapa waktu lalu menunjukkan kemajuan pesat. Bahkan kami para saksi mata sempat ketinggalan perkembangan info ter-update soal mereka.
"Udah kayak seleb aja tuh, si Miss datar dikepoin," Zu menggerutu.
"Udah kayak seleb aja tuh, si Miss datar dikepoin," Zu menggerutu.
"Iya juga sih ya. Ngapain coba kita ampe kepo segininya, ampe rela nungguin perkembangan kisah cinta mereka di blognya Ruru? Padahal kan, biasanya disuruh baca aja kita ogah." Nana ikutan ngomel.
Dan untuk mengurangi kekesalannya, tentu saja seperti biasa cemilan Dini jadi sasarannya. Maka terjadilah aktraksi rebut-rebutan snack antara Dini dan Nana. Selanjutnya, Zu akan datang sebagai penengah di antara keributan mereka. Atau lebih tepatnya Zu sebagai pengambil kebijakan, eh pengambil snack yang jadi rebutan.
"Dari pada kalian berdua ribut, udah siniin snacknya." Zu merebut snack Dini. Dan Nana hanya bisa pasrah.
"Apppah??? Dilamar???" Aku melotot, menatap layar laptop di depanku. Dini, Zu dan Nana sontak kaget mendengar teriakan dan ekspresiku. Bahkan Zu, nyaris menghamburkan snack sesi terakhir yang barusan berhasil direbutnya dari Dini dan Nana.
"Dilamar??? Maksud lo?" Nana menatap heran.
"Iya, dilamar. Ini nih, baca! Miss.Tulis barusan dilamar ama Eko. Dan parahnya, bisa-bisanya dia nggak ngasih tahu kita," kataku sambil menunjuk layar laptop yang di sana terpampang blog Ruru dengan judul 'Lamaran Mister Penulis'.
"Gila nih si Ruru, udah dilamar aja. And gak ngasih tahu kita. Wah, gak bisa dibiarin ini." Zu menggelengkan kepala, nggak terima. Lebih tepatnya mungkin nggak terima kalau ternyata si Miss.Tulis lebih duluan dilamar dari dia.
"Iya, ini nggak bisa dibiarin. Kita harus buat perhitungan sama Ruru. Bisa-bisanya dia gak cerita ama kita." Nana menimpali.
"Buat perhitungan? Perhitungan apa? Kenapa?" tanya Dini polos. Oh My God, Si Dini oon nya kumat, dan tentu saja ini membuat Nana, Zu dan aku semakin kesal. Tulatit kumat di saat yang tidak tepat.
"Tauk ah, Din. Lo tanya aja sama Zu." Nana melengos. Beranjak duluan menuju mobil.
***
"Ru, lo tuh gimana sih? Masa udah lamaran nggak kasih-kasih kabar? Lo anggap kita apa?" Nana langsung nyerocos ketika sampai di rumah Ruru.
"Iya, lo nganggap kita apa? Masa untuk hal sepenting ini lo nggak ngasih kabar ke kita?" Zu menimpali. Sementara aku dan Dini mengangguk-angguk membenarkan kata-kata Nana dan Zu.
"Aku kan udah ngasih tahu. Udah aku tulis semuanya di blog," jawaban Ruru dan muka datarnya, sontak membuat kami semua makin geram.
Dan akhirnya kami sadar, percuma minta penjelasan, karena ujung-ujungnya bakal dijawab: 'Gue udah tulis semuanya.' Fix, seharusnya kami sadar ini dari awal.
***
Hari yang dinanti-nanti itu akhirnya datang juga. Hari yang dinanti-nanti oleh Ruru, tapi tidak buat kami tentunya. Pernikahan Ruru si Miss.Tulis dan Eko Candriko.
Seperti prosesi jelang ijab kabul biasanya, teman-teman pengantin perempuan pada ngumpul di kamar, menemani calon pengantin. Berusaha menenangkan diri sang pengantin wanita yang perasaannya campur aduk, deg-degan dan bahagia.
Tapi, sepertinya kali ini justru berbeda. Pengantin wanita terlihat biasa aja, datar.
Oh My God, Ruuu... ampe prosesi yang seharusnya paling mendebarkan gini aja ekspresi lo masih datar juga? Kami nggak habis pikir.
"Bagaimana pengantin laki-laki? Sudah siap?" Eko mengangguk.
"Wali? Para saksi? Semua sudah siap?" Pak penghulu menoleh ke arah para saksi dan undangan, semua mengangguk. Termasuk kami yang duduk di ruang dalam, bersebelahan dinding dengan ruang tamu yang dijadikan tempat prosesi ijab kabul. Ruru, duduk manis dengan gaun putihnya, kali ini wajahnya sedikit memerah. Mungkin ada bunga-bunga cinta yang kembali bersemi di hatinya. Aku, Zu, Nana dan Dini duduk bersisian, mengapit sang pengantin.
"Baiklah. Karena semua sudah siap, kita mulai saja ijab kabulnya. Silahkan Pak Parjo dan saudara Eko berjabatan tangan," kata Pak penghulu.
"Sebentar, Pak." Eko terlihat gelagapan.
"Loh, ada apa nak Eko?" tanya Pak Penghulu heran. Sedangkan Pak Parjo, ayah Ruru mengernyitkan dahi, tak mengerti.
"Ada yang punya kertas sama pena nggak?" Eko bertanya ke orang-orang di dekatnya.
"Kertas dan pena? Untuk apa nak Eko?" Kali ini ayah Ruru yang angkat bicara.
"Untuk nulis, Pak. Nulis ijab kabulnya. Karena anak Bapak ini, apa-apa harus ditulis. Saya takut kalau nggak saya tulis nanti dia anggap pernikahan ini nggak sah."
Hahaha... Tawa undangan pecah. Terlebih lagi, kami tentunya, yang tahu betul kebiasaan aneh sang pengantin perempuan. Bahkan Nana, nggak bisa berhenti tertawa hingga prosesi akad benar-benar dimulai.
Selesai.
Dicci (Dini dan Cici)
10.10.2015
Selasa, 18 Agustus 2015
Hidup Tak Sempurna
"Bu, aku ingin merantau". Kataku pada ibu. Saat itu langit sedang memperlihatkan warna jingganya. Pertanda sang malam kan datang menyapa.
"Kenapa kamu ingin merantau, Nak? Bukankah di sini kita sudah bisa hidup damai. Jauh dari hingar bingar kota. Di sini kita bisa menghirup udara segar setiap hari. Masyarakat hidup rukun, dan rasa kekeluargaan masih kuat terasa. Untuk keperluan sehari-hari alhamdulillah, kita juga masih punya kebun untuk digarap. Di sini juga kita dekat dengan sanak saudara, jadi mudah kalau-kalau kita butuh sesuatu." Kata ibu seraya membereskan sampah-sampah bekas anyaman tikarnya. Ibu memang suka mengayam. Beberapa hasil anyaman tikarnya terkadang dijual jika ada yang berminat.
"Tapi Bu, aku ingin kehidupan yang lebih baik. Aku merasa di sini aku tidak bisa berkembang. Aku ingin kehidupan yang lebih maju. Punya rumah gedung, mobil, banyak relasi, pakai dasi, baju rapi seperti orang-orang di televisi bu. Aku ingin merasakan sukses seperti mereka." Aku menjelaskan dengan semangat menggebu.
"Apa kamu sudah pikirkan masak-masak?"
"Sudah, Bu. Aku sudah memikirkan semua ini jauh-jauh hari."
"Lalu, keputusanmu ini sudah bulat? Yakin kamu ingin merantau?" Ibu kembali bertanya, sepertinya ia ingin memastikan seberapa besar keinginanku untuk merantau.
"Iya, Bu. In syaa Allah. Keputusanku sudah bulat. Aku juga sudah menghubungi temanku yang di Jakarta. Dia bilang, jika aku memang ingin ke Jakarta, dia akan bantu mencarikan pekerjaan untukku. Sekarang, aku hanya butuh restu dari ibu. Jika ibu izinkan aku akan berangkat besok lusa. Untuk biaya, ibu tidak perlu khawatir, aku punya sedikit tabungan." Jelasku meyakinkan.
"Baiklah, Nak. Jika keputusanmu itu sudah bulat, ibu merestui. Berangkatlah. Ibu do'akan semoga kamu sukses di rantau sana. Jangan lupa untuk selalu berkirim kabar pada ibu."
"In syaa Allah, Bu. Jika sudah di Jakarta nanti aku akan selalu kirim kabar pada ibu."
"Semoga kamu sukses." Ibu memeluk dan mencium keningku.
Tiiiiiiin... Tiiiiiiiiin....
Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Pengemudi mobil di belakangku terlihat mulai marah-marah, karena aku terlambat merespon si lampu hijau. Jalanan padat. Macet tak dapat dihindari. Pulang malam, berjam-jam antri dan terjebak di jalanan. Itu semua nyaris setiap hari ku rasakan. Ya beginilah ibukota, tempat yang ku pilih beberapa tahun lalu. Saat aku memutuskan pilihan untuk merantau. Kini aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Rumah, mobil dan jabatan. Tapi, satu yang tak bisa ku dapatkan di kota ini, yaitu kedamaian.
Tiba-tiba aku rindu. Rindu saat-saat menghabiskan nasi dengan sambal terasi buatan ibu di ladang. Rindu saat sore hari aku duduk bernyanyi, menemani ibu mengayam tikar ditemani secangkir kopi. Rindu saat ibu marah-marah karena aku masuk rumah dengan kaki berkubang tanah.
Rindu. Ah. Aku rindu semua itu.
Kini aku tahu ibu. Aku ingat kata-katamu. Saat aku hendak berangkat dulu, kau pernah bilang padaku, "Nak, jika kau ingin kehidupan yang sempurna, maka kau takkan pernah mendapatkannya. Tapi jika hatimu mampu menerima semua apa adanya, maka semua kan terasa sempurna. Baik itu teman, kerabat, ataupun harta kekayaan, semuanya tidak ada yang mampu membuat hidup ini sempurna. Yang kita bisa lakukan adalah berusaha untuk menerimanya dengan sempurna dan selalu bersyukur atas apapun pemberian dari-Nya".
-cici putri-
"Kenapa kamu ingin merantau, Nak? Bukankah di sini kita sudah bisa hidup damai. Jauh dari hingar bingar kota. Di sini kita bisa menghirup udara segar setiap hari. Masyarakat hidup rukun, dan rasa kekeluargaan masih kuat terasa. Untuk keperluan sehari-hari alhamdulillah, kita juga masih punya kebun untuk digarap. Di sini juga kita dekat dengan sanak saudara, jadi mudah kalau-kalau kita butuh sesuatu." Kata ibu seraya membereskan sampah-sampah bekas anyaman tikarnya. Ibu memang suka mengayam. Beberapa hasil anyaman tikarnya terkadang dijual jika ada yang berminat.
"Tapi Bu, aku ingin kehidupan yang lebih baik. Aku merasa di sini aku tidak bisa berkembang. Aku ingin kehidupan yang lebih maju. Punya rumah gedung, mobil, banyak relasi, pakai dasi, baju rapi seperti orang-orang di televisi bu. Aku ingin merasakan sukses seperti mereka." Aku menjelaskan dengan semangat menggebu.
"Apa kamu sudah pikirkan masak-masak?"
"Sudah, Bu. Aku sudah memikirkan semua ini jauh-jauh hari."
"Lalu, keputusanmu ini sudah bulat? Yakin kamu ingin merantau?" Ibu kembali bertanya, sepertinya ia ingin memastikan seberapa besar keinginanku untuk merantau.
"Iya, Bu. In syaa Allah. Keputusanku sudah bulat. Aku juga sudah menghubungi temanku yang di Jakarta. Dia bilang, jika aku memang ingin ke Jakarta, dia akan bantu mencarikan pekerjaan untukku. Sekarang, aku hanya butuh restu dari ibu. Jika ibu izinkan aku akan berangkat besok lusa. Untuk biaya, ibu tidak perlu khawatir, aku punya sedikit tabungan." Jelasku meyakinkan.
"Baiklah, Nak. Jika keputusanmu itu sudah bulat, ibu merestui. Berangkatlah. Ibu do'akan semoga kamu sukses di rantau sana. Jangan lupa untuk selalu berkirim kabar pada ibu."
"In syaa Allah, Bu. Jika sudah di Jakarta nanti aku akan selalu kirim kabar pada ibu."
"Semoga kamu sukses." Ibu memeluk dan mencium keningku.
Tiiiiiiin... Tiiiiiiiiin....
Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Pengemudi mobil di belakangku terlihat mulai marah-marah, karena aku terlambat merespon si lampu hijau. Jalanan padat. Macet tak dapat dihindari. Pulang malam, berjam-jam antri dan terjebak di jalanan. Itu semua nyaris setiap hari ku rasakan. Ya beginilah ibukota, tempat yang ku pilih beberapa tahun lalu. Saat aku memutuskan pilihan untuk merantau. Kini aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan. Rumah, mobil dan jabatan. Tapi, satu yang tak bisa ku dapatkan di kota ini, yaitu kedamaian.
Tiba-tiba aku rindu. Rindu saat-saat menghabiskan nasi dengan sambal terasi buatan ibu di ladang. Rindu saat sore hari aku duduk bernyanyi, menemani ibu mengayam tikar ditemani secangkir kopi. Rindu saat ibu marah-marah karena aku masuk rumah dengan kaki berkubang tanah.
Rindu. Ah. Aku rindu semua itu.
Kini aku tahu ibu. Aku ingat kata-katamu. Saat aku hendak berangkat dulu, kau pernah bilang padaku, "Nak, jika kau ingin kehidupan yang sempurna, maka kau takkan pernah mendapatkannya. Tapi jika hatimu mampu menerima semua apa adanya, maka semua kan terasa sempurna. Baik itu teman, kerabat, ataupun harta kekayaan, semuanya tidak ada yang mampu membuat hidup ini sempurna. Yang kita bisa lakukan adalah berusaha untuk menerimanya dengan sempurna dan selalu bersyukur atas apapun pemberian dari-Nya".
-cici putri-
![]() |
| Ilustrasi oleh : Santoso Permadi |
Sastrawan Musik
Sastrawan musik. Begitu aku menyebutnya. Pria misterius yang tanpa sengaja aku temui di salah satu sudut perpustakaan berlantai lima di daerahku, diam-diam telah menarik perhatianku. Dia yang jarang bicara, mengasingkan diri dari dunia luar. Setiap hari hanya menghabiskan waktu di ruangannya, menyendiri. Hanya mesin tik tua yang menjadi sahabat setianya. Sekilas tidak ada yang aneh dengan pria paruh baya dan mesin tik tuanya itu, tapi yang menarik perhatianku adalah bagaimana caranya seorang yang sedang menulis menggunakan mesin tik, bisa menghasilkan bunyi ketukan seperti tuts-tuts piano? Bahkan tak jarang ku dengar, dia bukan sedang mengetik, melainkan sedang memainkan piano. Indah sekali. Tak jarang aku terhanyut, dalam nada-nada syahdunya. Pernah aku bertanya pada penjaga perpustakaan, siapa pria di ruangan pojok itu sebenarnya, penjaga perpustakaan tidak bisa memberikan keterangan banyak, ia hanya mengatakan bahwa pria tersebut adalah sastrawan yang meminta tempat untuk beberapa waktu di perpustakaan ini.
"Mau ke ruangan itu lagi, Nay?" Tanya Gita.
"Iya, aku ingin mendengarkan lantunan melodi dari tuts-tuts mesin tik ajaib itu lagi."
"Hmmm..." Gita menarik nafas, "kamu emang pemberani ya, Nay. Pria aneh gitu kok malah kamu kepo-in. Udah kayak fans setia dia aja kamu. Kamu gak takut apa? Kalau tiba-tiba di sana kamu disekap sama dia?"
"Ah, kamu ada-ada aja, Git. Aku malah gak kepikiran sampai ke situ. Lagian aku rasa dia pria baik kok, buktinya pemilik perpustakaan ini memberikan tempat untuknya." Jelasku.
"Ya, itu sih terserah kamu. Kalau masih mau ke sana ya silahkan. Tapi, maaf nih kali ini aku gak bisa nemenin, buku yang aku cari belum ketemu." Gita meneliti satu per satu buku yang berjajar di rak perpustakaan.
"Ya udah deh gak papa. Lagian kamu mah kalau diajak ke sana, bawaannya pingin pulang mulu. Seremlah, kebelet pipislah. Kayak anak kecil. Huuu...!" Aku meledek.
"Iiih... Kamu, Git. Ngeledek ya?"
"Eits... Gak kena." Aku berhasil menghindari cubitan maut Gita, kemudian berlalu meninggalkan Gita yang manyun karena cubitannya tidak berhasil mengenaiku.
Aku berjalan menuju lantai dasar tempat pria itu biasa berada. Tapi, kali ini aku tidak mendapatinya di sana. Kemana perginya pria itu? Batinku. Aku melihat sekeliling, sosok yang aku cari tetap tidak terlihat.
"Mba, yang biasa ke sini kan?" Seorang penjaga menghampiriku.
"Eh. Iya, Pak" Jawabku sedikit kaget.
"Ini ada titipan buat mba," penjaga itu menyodorkan secarik kertas yang dilipat seperti surat ke padaku. Aku heran, "itu dari pria yang biasa di sini, mba. Tapi sekarang beliau sudah pergi. Habis subuh tadi berangkatnya." Terang pak penjaga.
"Oh. Makasi, Pak." Jawabku sambil menerima kertas itu. Perasaan heran bercampur penasaran bergelut dalam diri. Ku buka kertas itu perlahan, dan membaca pesan yang tertulis di dalamnya.
"Menulislah dengan hati, maka akan kau dapati ketenangan diri. Menulislah yang bermanfaat, maka kan kau dapati balasan hingga akhirat."
#TelPic Night
#OWOP
-cici putri-
"Mau ke ruangan itu lagi, Nay?" Tanya Gita.
"Iya, aku ingin mendengarkan lantunan melodi dari tuts-tuts mesin tik ajaib itu lagi."
"Hmmm..." Gita menarik nafas, "kamu emang pemberani ya, Nay. Pria aneh gitu kok malah kamu kepo-in. Udah kayak fans setia dia aja kamu. Kamu gak takut apa? Kalau tiba-tiba di sana kamu disekap sama dia?"
"Ah, kamu ada-ada aja, Git. Aku malah gak kepikiran sampai ke situ. Lagian aku rasa dia pria baik kok, buktinya pemilik perpustakaan ini memberikan tempat untuknya." Jelasku.
"Ya, itu sih terserah kamu. Kalau masih mau ke sana ya silahkan. Tapi, maaf nih kali ini aku gak bisa nemenin, buku yang aku cari belum ketemu." Gita meneliti satu per satu buku yang berjajar di rak perpustakaan.
"Ya udah deh gak papa. Lagian kamu mah kalau diajak ke sana, bawaannya pingin pulang mulu. Seremlah, kebelet pipislah. Kayak anak kecil. Huuu...!" Aku meledek.
"Iiih... Kamu, Git. Ngeledek ya?"
"Eits... Gak kena." Aku berhasil menghindari cubitan maut Gita, kemudian berlalu meninggalkan Gita yang manyun karena cubitannya tidak berhasil mengenaiku.
Aku berjalan menuju lantai dasar tempat pria itu biasa berada. Tapi, kali ini aku tidak mendapatinya di sana. Kemana perginya pria itu? Batinku. Aku melihat sekeliling, sosok yang aku cari tetap tidak terlihat.
"Mba, yang biasa ke sini kan?" Seorang penjaga menghampiriku.
"Eh. Iya, Pak" Jawabku sedikit kaget.
"Ini ada titipan buat mba," penjaga itu menyodorkan secarik kertas yang dilipat seperti surat ke padaku. Aku heran, "itu dari pria yang biasa di sini, mba. Tapi sekarang beliau sudah pergi. Habis subuh tadi berangkatnya." Terang pak penjaga.
"Oh. Makasi, Pak." Jawabku sambil menerima kertas itu. Perasaan heran bercampur penasaran bergelut dalam diri. Ku buka kertas itu perlahan, dan membaca pesan yang tertulis di dalamnya.
"Menulislah dengan hati, maka akan kau dapati ketenangan diri. Menulislah yang bermanfaat, maka kan kau dapati balasan hingga akhirat."
#TelPic Night
#OWOP
-cici putri-
Kamis, 04 Juni 2015
Sepeda Bayu
Sore itu Deni sedang membereskan tumpukan buku dan file-file kuliahnya yang sudah hampir sebulan dibiarkannya bertumpuk-tumpuk tak beraturan di meja dan di sudut-sudut lantai kamarnya. Belakangan ini, Deni sibuk menyiapkan beberapa agenda besar di kampusnya. Di tengah keseriusannya membenahi tumpukan buku dan file-file miliknya, ada sesuatu yang tiba-tiba menyeret perhatiannya. Sebuah foto yang selalu disimpan dalam buku agendanya, tak sengaja terjatuh, hingga membuat pikirannya kini melayang pada kenangan beberapa tahun yang lalu. Kenangan bersama sahabat masa kecilnya. Bayu.
“Kamu masih nyimpen foto itu, Den?” Tanya Ari, teman sekamar Deni yang sedari tadi ikut membantu Bayu membersihkan kamar mereka. Ari tahu betul, bagaimana kedekatan Bayu dan Deni dulu. Sewaktu mereka masih sama-sama duduk di bangku Sekolah Dasar. Deni, Ari dan Bayu, mereka bertiga sudah kenal sejak masih kecil, karena mereka tinggal dan besar di komplek perumahan yang sama.
“Eh... Iya.” Deni tersadar dari lamunannya. Wajahnya terlihat sendu.
“Hmm... Kalau liat foto ini, pasti kamu jadi inget sama Bayu lagi kan? Aku ngerti perasaan kamu, Den. Wajar sih, kalau tiap liat foto ini kamu selalu teringat sama Bayu, karena kalian kan emang deket banget. Sampe-sampe Pak Rahmat, guru ngaji kita dulu kalau ngabsen nama kalian langsung dijadiin satu. Bayu Deni. Bukan dipanggil satu-satu, tapi sekaligus. Karena kalian pasti duduknya selalu bareng. Hehe”
“Ah. Kamu Ri, masa yang diinget bagian itu sih. Haha.” Deni ikut tertawa. Namun, sejurus kemudian tawanya menghilang, ia kembali menatap sendu pada dua anak yang sedang bersepeda dalam foto yang ada di tangannya. Itu adalah satu-satunya foto kenangan yang ia miliki bersama sahabatnya Bayu. Foto di saat Deni baru bisa bersepeda, sedangkan Bayu sudah lama bisa mengendarai sepeda yang bahkan sebenarnya bukan sepeda yang pantas untuk anak seusia mereka saat itu, karena sepeda yang dipakai Bayu adalah sepeda kakaknya yang berukuran lebih besar dari sepeda teman-temannya yang lain.
“Bayu itu curang, Ri.” Kata Deni memecah keheningan.
“Curang? Curang kenapa?” Ari heran.
“Iya. Dia curang. Dia pergi duluan ninggalin kita. Dan dia pergi di saat kami tengah asik menyelami ilmu agama bareng. Waktu itu kamu masih ingat kan? Kita masih sama-sama kelas lima SD. Tapi dia, udah mikir jauh ke depan, melampui pemikiran anak-anak seusia kita waktu itu. Dan kamu tahu apa yang dia katakan waktu aku hampir putus asa untuk belajar naik sepeda?” Ari menggeleng.
“Waktu itu, Bayu mengatakan “Kita boleh saja menganggap diri kita lemah, tapi bila kita menyerah, bagaimana mungkin kita memperoleh jannah.”
“Hah? Bayu bilang gitu? Seorang anak kelas lima SD, bicara layaknya seorang aktivis kampus? Gimana bisa? Trus apa hubungannya sama naik sepeda?” Ari kaget, nyaris tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Deni. Atau Deni sedang mengingau? Pikirnya.
“Haha...” Deni malah tertawa. Ari bengong.“Tepat sekali. Apa yang kamu pikirkan sama seperti apa yang ada dipikiranku waktu itu. Tapi itulah Bayu, kata-katanya memang terkadang aneh, melampaui batas anak seusia kita. Mungkin itu karena dia dibesarkan di keluarga yang taat beragama.”
Ari mengangguk-angguk membenarkan. “Lalu, maksud kata-kata Bayu tadi apa? Aku jadi penasaran apa hubungan naik sepeda sama surga.” Desak Ari.
“Jika bisa bersepeda itu tujuan kita dan kita benar-benar menginginkannya, maka kita gak boleh menyerah, walaupun rasanya sungguh payah, dan harus menahan sakit dan luka karena jatuh berkali-kali. Tapi, itulah pengorbanan. Kita akan tahu manisnya pengorbanan kalau kita udah berhasil nanti. Karena berhasil tanpa pengorbanan itu gak asik. Sama kayak belajar naik sepeda, jatuh itu biasa. Yang gak biasa itu kalau kita nyerah karena jatuh. Ingat aja, yang penting kita harus bisa naik sepeda, fokus sama sepeda, bukan jatuhnya.”
“Hmm.. ya ya ya. Sekarang aku ngerti. Begitu juga dengan kita saat ini. Jika kita ingin memperoleh surga, maka kita tidak boleh menyerah karena lemah. Fokus pada surga, maka kelemahan akan terkalahkan. Gitu kan?” Kata Ari seraya memandang ke arah Deni.
“Ya. Kamu bener.” Deni tersenyum. Kemudian kembali menatap foto yang ada di tangannya. “Bay, terima kasih atas apa yang dulu telah kau katakan padaku, karena kata-katamu itulah aku mampu bertahan hingga saat ini. Aku akan selalu berjuang, Bay. Agar kita bisa bersama di surga. Tunggu aku di surgamu.” Deni menerawang. Peristiwa na’as sepulang mengaji itu, telah merenggut nyawa sahabat kecilnya. Bayu tewas tertabrak mobil yang dikendarai oleh seorang pemuda yang sedang mabuk-mabukan. Bayu menghembuskan nafas terakhir saat hendak dibawa ke rumah sakit, ia sempat mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum akhirnya pergi dengan wajah tersenyum, untuk selamanya.
“Kamu masih nyimpen foto itu, Den?” Tanya Ari, teman sekamar Deni yang sedari tadi ikut membantu Bayu membersihkan kamar mereka. Ari tahu betul, bagaimana kedekatan Bayu dan Deni dulu. Sewaktu mereka masih sama-sama duduk di bangku Sekolah Dasar. Deni, Ari dan Bayu, mereka bertiga sudah kenal sejak masih kecil, karena mereka tinggal dan besar di komplek perumahan yang sama.
“Eh... Iya.” Deni tersadar dari lamunannya. Wajahnya terlihat sendu.
“Hmm... Kalau liat foto ini, pasti kamu jadi inget sama Bayu lagi kan? Aku ngerti perasaan kamu, Den. Wajar sih, kalau tiap liat foto ini kamu selalu teringat sama Bayu, karena kalian kan emang deket banget. Sampe-sampe Pak Rahmat, guru ngaji kita dulu kalau ngabsen nama kalian langsung dijadiin satu. Bayu Deni. Bukan dipanggil satu-satu, tapi sekaligus. Karena kalian pasti duduknya selalu bareng. Hehe”
“Ah. Kamu Ri, masa yang diinget bagian itu sih. Haha.” Deni ikut tertawa. Namun, sejurus kemudian tawanya menghilang, ia kembali menatap sendu pada dua anak yang sedang bersepeda dalam foto yang ada di tangannya. Itu adalah satu-satunya foto kenangan yang ia miliki bersama sahabatnya Bayu. Foto di saat Deni baru bisa bersepeda, sedangkan Bayu sudah lama bisa mengendarai sepeda yang bahkan sebenarnya bukan sepeda yang pantas untuk anak seusia mereka saat itu, karena sepeda yang dipakai Bayu adalah sepeda kakaknya yang berukuran lebih besar dari sepeda teman-temannya yang lain.
![]() |
| Ilustrasi : Santoso Permadi |
“Bayu itu curang, Ri.” Kata Deni memecah keheningan.
“Curang? Curang kenapa?” Ari heran.
“Iya. Dia curang. Dia pergi duluan ninggalin kita. Dan dia pergi di saat kami tengah asik menyelami ilmu agama bareng. Waktu itu kamu masih ingat kan? Kita masih sama-sama kelas lima SD. Tapi dia, udah mikir jauh ke depan, melampui pemikiran anak-anak seusia kita waktu itu. Dan kamu tahu apa yang dia katakan waktu aku hampir putus asa untuk belajar naik sepeda?” Ari menggeleng.
“Waktu itu, Bayu mengatakan “Kita boleh saja menganggap diri kita lemah, tapi bila kita menyerah, bagaimana mungkin kita memperoleh jannah.”
“Hah? Bayu bilang gitu? Seorang anak kelas lima SD, bicara layaknya seorang aktivis kampus? Gimana bisa? Trus apa hubungannya sama naik sepeda?” Ari kaget, nyaris tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Deni. Atau Deni sedang mengingau? Pikirnya.
“Haha...” Deni malah tertawa. Ari bengong.“Tepat sekali. Apa yang kamu pikirkan sama seperti apa yang ada dipikiranku waktu itu. Tapi itulah Bayu, kata-katanya memang terkadang aneh, melampaui batas anak seusia kita. Mungkin itu karena dia dibesarkan di keluarga yang taat beragama.”
Ari mengangguk-angguk membenarkan. “Lalu, maksud kata-kata Bayu tadi apa? Aku jadi penasaran apa hubungan naik sepeda sama surga.” Desak Ari.
“Jika bisa bersepeda itu tujuan kita dan kita benar-benar menginginkannya, maka kita gak boleh menyerah, walaupun rasanya sungguh payah, dan harus menahan sakit dan luka karena jatuh berkali-kali. Tapi, itulah pengorbanan. Kita akan tahu manisnya pengorbanan kalau kita udah berhasil nanti. Karena berhasil tanpa pengorbanan itu gak asik. Sama kayak belajar naik sepeda, jatuh itu biasa. Yang gak biasa itu kalau kita nyerah karena jatuh. Ingat aja, yang penting kita harus bisa naik sepeda, fokus sama sepeda, bukan jatuhnya.”
“Hmm.. ya ya ya. Sekarang aku ngerti. Begitu juga dengan kita saat ini. Jika kita ingin memperoleh surga, maka kita tidak boleh menyerah karena lemah. Fokus pada surga, maka kelemahan akan terkalahkan. Gitu kan?” Kata Ari seraya memandang ke arah Deni.
“Ya. Kamu bener.” Deni tersenyum. Kemudian kembali menatap foto yang ada di tangannya. “Bay, terima kasih atas apa yang dulu telah kau katakan padaku, karena kata-katamu itulah aku mampu bertahan hingga saat ini. Aku akan selalu berjuang, Bay. Agar kita bisa bersama di surga. Tunggu aku di surgamu.” Deni menerawang. Peristiwa na’as sepulang mengaji itu, telah merenggut nyawa sahabat kecilnya. Bayu tewas tertabrak mobil yang dikendarai oleh seorang pemuda yang sedang mabuk-mabukan. Bayu menghembuskan nafas terakhir saat hendak dibawa ke rumah sakit, ia sempat mengucapkan dua kalimat syahadat sebelum akhirnya pergi dengan wajah tersenyum, untuk selamanya.
Senin, 01 Juni 2015
(Hilang)nya Putri Malu
Mentari pagi tersenyum indah.
Lazuardi biru terlihat begitu gagah. Membentang. Memayungi bumi.
Dua orang anak perempuan usia pra sekolah berlarian, berpacu menuju jembatan kecil di komplek perumahan tempat mereka tinggal.
Ada sesuatu yang ingin mereka tuju. Ada sesuatu yang ingin mereka perebutkan untuk dimenangkan, di bawah jembatan. Jembatan kecil yang hanya berukuran tidak lebih dari 5 meter, karena sejatinya jembatan ini hanyalah penghubung antar bibir parit di lingkungan perumahan.
"Horrrreee.... aku sampai duluan. Yeeee.... aku yang bakalan dapat banyak. Yang ini, yang ini, yang ini." Dila berteriak girang, karena kali ini dia berhasil mengalahkan Icha. Tangan mungilnya berhasil menyentuh si putri malu lebih banyak. Ya, itulah kegemaran mereka setiap pagi. Berburu putri malu. Menyentuhnya dan membuat skor terbanyak untuk membuat si putri malu mengatup malu.
"Yahh... aku kalah deh." Kata Icha cemberut.
"Eh. Tapi ini masih ada kok. Ye... aku nemuin yang baru, di sini juga banyak. Satu, dua, tiga, empat, lima, ..." Icha menghitung setiap kali tangannya menyentuh daun si putri malu. Dia baru saja menemukan tempat persembunyian si putri malu yang baru, di bawah jembatan agak menjorok ke dalam.
"Wah... banyak ya di sana? Aku mau dong, Cha?" Dila menyusul Icha ke bawah jembatan.
"Iya. Ayo sini. Banyak di sini." Icha bersemangat.
Dua gadis kecil itu terlihat begitu ceria. Mereka sungguh menikmati permainan sederhana mereka setiap pagi. Berburu putri malu.
"Hmm... boleh juga. Udah lama ya kita gak ke sana".
Dua gadis kecil yang dulu setiap pagi berlarian menuju jembatan, kini sudah beranjak dewasa. Mereka rindu akan kenangan masa kecilnya.
"Wah... ternyata jembatan ini gak banyak berubah ya, Cha." Komentar Dila ketika mereka berdua tiba di jembatan.
"Iya, masih sama seperti dulu. Warna semennya, paritnya, beberapa coretan yang pernah kita buat juga masih ada."
"Iya, Cha. Semua masih sama, kecuali satu. Putri malu kita. Di bawah dan sekitaran jembatan ini udah gak ada lagi putri malu kayak dulu." Kata Dila pelan, wajahnya mulai terlihat sedih. Angin berhembus semilir, membuat kerudung biru yang dikenakannya melambai-lambai.
"Iya, Dil. Kamu bener. Putri malu kita udah gak ada. Apa karena sekarang komplek kita makin ramai? Sehingga dia tak lagi mau tumbuh? Atau kini mungkin dia hanya ada di suatu tempat?" Icha mencoba menerka-nerka. Berpikir. Memelintir, memainkan ujung jilbabnya.
"Hm... mungkin putri malu itu sama seperti kita, Cha." Jawab Dila.
"Sama seperti kita? Maksud kamu?" Icha heran.
"Iya. Keberadaan putri malu sekarang semakin langka. Mungkin karena pembangunan sudah semakin pesat di mana-mana. Sehingga tidak ada lagi tempat untuk mereka hidup bebas dan bersembunyi seperti dulu. Karena dia putri malu, maka tumbuhnya pun malu-malu. Dia malu jika tumbuh dikeramaian, dia malu bila tersentuh. Jika sekarang kita melihat putri malu semakin langka, begitu pulalah putri-putri yang ada di dunia nyata. Rasa malunya seolah telah hilang entah kemana. Tidak malu jika aurat diumbar ke mana-mana. Tidak malu jika berduan dengan yang bukan mahramnya. Tidak malu tertawa dan berbicara yang menggoda lawan jenisnya. Dan banyak lagi tidak malu tidak malu lainnya." Dila menerawang, menatap lepas ke lazuardi pagi.
"Hmmm.... Huft" Icha menghela nafas. "Ya.Kamu bener, Dil." Ichapun ikut melemparkan pandangannya pada lazuardi pagi. Dalam pikiran mereka hadir tanda tanya yang sama.
'Wahai Putri, kemana pergi rasa malu kini?'
-Cici Putri-
@ciciliaputri09
Lazuardi biru terlihat begitu gagah. Membentang. Memayungi bumi.
Dua orang anak perempuan usia pra sekolah berlarian, berpacu menuju jembatan kecil di komplek perumahan tempat mereka tinggal.
Ada sesuatu yang ingin mereka tuju. Ada sesuatu yang ingin mereka perebutkan untuk dimenangkan, di bawah jembatan. Jembatan kecil yang hanya berukuran tidak lebih dari 5 meter, karena sejatinya jembatan ini hanyalah penghubung antar bibir parit di lingkungan perumahan.
"Horrrreee.... aku sampai duluan. Yeeee.... aku yang bakalan dapat banyak. Yang ini, yang ini, yang ini." Dila berteriak girang, karena kali ini dia berhasil mengalahkan Icha. Tangan mungilnya berhasil menyentuh si putri malu lebih banyak. Ya, itulah kegemaran mereka setiap pagi. Berburu putri malu. Menyentuhnya dan membuat skor terbanyak untuk membuat si putri malu mengatup malu.
"Yahh... aku kalah deh." Kata Icha cemberut.
"Eh. Tapi ini masih ada kok. Ye... aku nemuin yang baru, di sini juga banyak. Satu, dua, tiga, empat, lima, ..." Icha menghitung setiap kali tangannya menyentuh daun si putri malu. Dia baru saja menemukan tempat persembunyian si putri malu yang baru, di bawah jembatan agak menjorok ke dalam.
"Wah... banyak ya di sana? Aku mau dong, Cha?" Dila menyusul Icha ke bawah jembatan.
![]() |
| Ilustrasi : Santoso Permadi |
"Iya. Ayo sini. Banyak di sini." Icha bersemangat.
Dua gadis kecil itu terlihat begitu ceria. Mereka sungguh menikmati permainan sederhana mereka setiap pagi. Berburu putri malu.
***
"Eh, Cha... Kita main ke jembatan yuk." Ajak Dila."Hmm... boleh juga. Udah lama ya kita gak ke sana".
Dua gadis kecil yang dulu setiap pagi berlarian menuju jembatan, kini sudah beranjak dewasa. Mereka rindu akan kenangan masa kecilnya.
"Wah... ternyata jembatan ini gak banyak berubah ya, Cha." Komentar Dila ketika mereka berdua tiba di jembatan.
"Iya, masih sama seperti dulu. Warna semennya, paritnya, beberapa coretan yang pernah kita buat juga masih ada."
"Iya, Cha. Semua masih sama, kecuali satu. Putri malu kita. Di bawah dan sekitaran jembatan ini udah gak ada lagi putri malu kayak dulu." Kata Dila pelan, wajahnya mulai terlihat sedih. Angin berhembus semilir, membuat kerudung biru yang dikenakannya melambai-lambai.
"Iya, Dil. Kamu bener. Putri malu kita udah gak ada. Apa karena sekarang komplek kita makin ramai? Sehingga dia tak lagi mau tumbuh? Atau kini mungkin dia hanya ada di suatu tempat?" Icha mencoba menerka-nerka. Berpikir. Memelintir, memainkan ujung jilbabnya.
"Hm... mungkin putri malu itu sama seperti kita, Cha." Jawab Dila.
"Sama seperti kita? Maksud kamu?" Icha heran.
"Iya. Keberadaan putri malu sekarang semakin langka. Mungkin karena pembangunan sudah semakin pesat di mana-mana. Sehingga tidak ada lagi tempat untuk mereka hidup bebas dan bersembunyi seperti dulu. Karena dia putri malu, maka tumbuhnya pun malu-malu. Dia malu jika tumbuh dikeramaian, dia malu bila tersentuh. Jika sekarang kita melihat putri malu semakin langka, begitu pulalah putri-putri yang ada di dunia nyata. Rasa malunya seolah telah hilang entah kemana. Tidak malu jika aurat diumbar ke mana-mana. Tidak malu jika berduan dengan yang bukan mahramnya. Tidak malu tertawa dan berbicara yang menggoda lawan jenisnya. Dan banyak lagi tidak malu tidak malu lainnya." Dila menerawang, menatap lepas ke lazuardi pagi.
"Hmmm.... Huft" Icha menghela nafas. "Ya.Kamu bener, Dil." Ichapun ikut melemparkan pandangannya pada lazuardi pagi. Dalam pikiran mereka hadir tanda tanya yang sama.
'Wahai Putri, kemana pergi rasa malu kini?'
-Cici Putri-
@ciciliaputri09
Langganan:
Postingan (Atom)







