Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Oktober 2016

Green Bean Choco Juice ala Cici

Masih ingat tulisan kemarin? Sarapan anti mainstream ala Cici. Gimana udah ada coba? Hahaha.

Tenang aja, di tulisan kali ini, Cici nggak bakal kasih tips yang "absurd" kayak kemarin lagi kok. Tapi kali ini beneran resep. Resep yang kemarin baru aja dicoba, dan hasilnya... Ulalala. Cukup memanjakan lidah. #nagih

Jumat, 28 Oktober 2016

Sarapan Anti Mainstream ala Cici

Ceritanya kemarin aku bikin lontong buat sarapan. Nah, karena pagi ini lontongnya masih ada sisa, tapi gulainya udah habis, maka aku manfaatkan saja apa yang ada. Ya ini dia... Si bubur kacang ijo--yang belum naik haji--yang jadi sasaran.

FYI, ini bubur kacang ijo yang aku buat sore semalam, jadi karena masih ada sisa juga, aku masukin kulkas, maka bertemulah si bubur dengan lontong di dalam kulkas. Tapi mereka nggak deket-deketan apalagi pegang-pegangan, soalnya bukan muhrim. *Ini sebenarnya cerita apa sih?* #PembacaKezel

Kamis, 13 Oktober 2016

Positif Saja


Entah kenapa, seminggu terakhir banyak banget dapat kabar teman-teman lagi pada hamil. Entah itu yang memang sengaja memberi tahu (berbagi kabar bahagia), atau pun yang tanpa sengaja ketika asik chatting, akhirnya memberi tahu bahwa dia sedang hamil. Alhamdulillah, benaran ikut senang. :)

Kenapa? Ya karena aku yakin, sesuatu itu menular, termasuk kehamilan. Hehehe. Entah ini mitos atau tidak, dulu para ibu-ibu komplek--waktu aku masih tinggal di komplek perumahan dan kadang ngumpul sama ibu-ibu--pernah bilang, "Eh, si A hamil ya? Wah, hati-hati nih, biasanya kalau udah hamil satu, nular ke yang lain," celetuk salah seorang ibu.

Rabu, 12 Oktober 2016

Samba Lado Pucuk Ubi


Yuhuuu... Ini dia menu sederhana yang berhasil bikin aku selera makan lagi setelah tiga hari. Ya... This is Samba Lado Pucuk Ubi ala Cici. Eh, mungkin lebih tepatnya resep mama yang dimodifikasi oleh Cici. Haha.

Langsung aja sih ya... bagi yang pengen tahu and penasaran gimana rasa maknyus-nya ini samba lado. Yuk dicoba! Gampang kok. Oh ya, tapi aku bakal cuma kasih resep samba ladonya aja ya... Karena yang sayur pucuk ubinya, itu disayur bening biasa kok. Jadi gampang. Nggak perlu diresepinlah ya... Pasti udah pada pinter semua. Hehehe *Bilang aja males, Ci* Hahaha

Let's Cekidot~

Jumat, 05 Agustus 2016

Trik Nitip Doa (Jodoh) ala Cici

Hai reader...! Apa kabar semua? Udah pada baca postingan aku sebelumnya kan, ya? Itu tuh... yang soal jomblo. *Kedip* Bagi yang belum baca, boleh baca dulu kok, biar makin nyambung ama tulisan yang sekarang, walaupun sebenarnya dibaca terpisah juga nggak papah. Tapi, kalau pengen makin deket jodohnya, ya harus baca dua-duanya. Hehe. Klik di sini
Oke, langsung aja. Postingan kali ini juga masih berbau-bau jomblo, jodoh, dan doa. Ya, karena masalah jomblo, jodoh dan kawan-kawannya ini, emang nggak bakal ada habisnya untuk dibahas. Selalu aja jadi topik yang menarik di sana sini, termasuk di kalangan mereka yang udah punya suami/istri. Hihihi.

Senin, 25 Juli 2016

Cake Coklat Simple Tanpa Mixer

Yuhuu... Akhirnya jadi juga bikin cake kayak gini, dan ini pertama kalinya aku bikin kue sendiri. Alhamdulillah langsung berhasil. Yupppie!!! *lompat-lompat girang
#abaikantoppingyangradaberantakkan

Karena biasanya, aku cuma bantuin mama aja, cuma bantuin ngocok telur pake mixer. Bahan-bahan yang dimasukin, berapa takarannya, berapa lama manggang/ngukusnya, aku nggak pernah tahu. Yang aku tahu cuma satu. Jadwal makannya. Hahaha.

Setelah menunggu beberapa hari (karena sok sibuk), hasil tanya dan browsing sana sini, maka jadilah semalam aku memberanikan diri untuk membuat kue sendiri. Maklumlah, aku termasuk orang yang rada parno kalau diminta bikin sesuatu dengan takaran yang pass. Dan setahu aku, bikin cake-cake begini takarannya kudu pas, bahan-bahannya harus bagus, de el el. Beda banget sama resep-resep makanan (menu utama) yang biasa aku buat, aku bebas berkreasi sesuka hati. Cari resep cuma untuk gambaran umum, ujung-ujungnya... ya suka-suka. Hahaha.

Jumat, 22 Juli 2016

Menikmati Bully (Jomblo) ala Cici

Yuhuuu... Cici is back. Udah lama banget rasanya nggak update blog, ampe karatan gini. *gosok-gosok, bersihin kerak membandel* Hahaha.

Oh ya, mumpung masih bulan syawal dan suasana lebaran, mohon maaf lahir batin ya teman-teman semua. Taqaballahu minna wa minkum. :)

Ngomong-ngomong, kalau udah suasana lebaran gini, biasanya identik dengan satu kata ya... Hmm... apalagi kalau bukan "Nikahan". Di sana sini, bakal banyak banget bertaburan undangan nikah, terutama di daerah Sumatra Barat. #Berdasarkanpengamatanamatirpenulis

Senin, 13 Juni 2016

Tips Sederhana Biar Kantong Plastik dan Kosmetik Lebih Apik

Yuhuuu... Cici di sini. Kali ini mau bagi-bagi tips sederhana untuk pembaca setia.
Ya... Namanya juga tips sederhana ya... Jadi jangan berharap sesuatu yang luar biasa. Hahaha.

Jadi ceritanya ide ini muncul saat melihat tumpukkan plastik di dalam plastik #IniApaCoba yang kalau lagi butuh, susah nyarinya. Musti diubek-ubek sampe bagian terdalam, dan hal ini tentu saja membuat kantong plastik--bekas yang udah setia kamu kumpulin dan rapiin--menjadi berantakan lagi :(
So, dari pada kejadian ini terus berulang dan terkadang malah  menghabiskan waktu untuk mencari-cari ukuran yang pas #UdahKayakMilihBaju, maka terpikirlah untuk membuat kotak ajaib--yang sebenarnya nggak ajaib-ajaib amat--ini. :D

Minggu, 12 Juni 2016

Orak-arik telur sayur ala Cici

Yuhuu...
Masih ada Cici di sini. Kali ini mau bagi-bagi resep nih. Nggak ada resep spesial sih, soalnya di internet juga banyak bertaburan resep yang mirip, atau mungkin sama. Intinya jangan terlalu banyak berharap dari resep yang bakal aku bagikan. Karena (mungkin) resep ini bakal gaje. Hhahaha.

Nah, ini dia nih masakan yang akhirnya aku buat karena ada tumpukkan sayuran dan telur di kulkas. So, jadilah Orak-arik sayur ala Cici. Langsung aja, cekidot~

Rabu, 13 April 2016

BC BC Gemez

Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu udah "gatel" pengen nulis ini. Eh, apa malah dari tahun lalu ya? Ah, pokoknya udah lama sih sebenarnya kerisauan ini ingin ditulis dan disampaikan. Bukan untuk "Sok mengajari" apa lagi "menggurui". Bukan karena merasa "Paling benar" ataupun "cari tenar". Bukan, bukan karena semua itu atau pun alasan yang sejenis dengan itu. Semoga Allah menjauhkannya dariku.

Oke, sekarang langsung aja. Jadi, ceritanya beberapa hari kemarin lagi marak banget BeCa BeCe (baca: Broadcast) tentang bulan Rajab. Yang pada kebagian BC seperti ini pasti udah ngerti dong ya... BC yang dimaksud yang seperti apa. Bagi yang belum tahu, baiklah, akan aku kasih tahu. Ini dia BC-nya. (Rencana mau discreenshoot, tapi kepanjangan. Jadi dicopas aja.)

Senin, 11 April 2016

MEMULAI

Seberat-beratnya melangkah, lebih berat lagi untuk memulai. Ya. Memulai. Memulai apa saja. Kerja, memasak, menyelesaikan tugas kuliah, menyelesaikan skripsi, menuntaskan tumpukan cucian, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Dan tentunya tak terkecuali menulis.

Butuh tekad dan kemauan yang kuat dari dalam diri sendiri untuk bisa memulainya.
Mulai memikirkan kerisauan-kerisauan di hati lalu menuangkannya dalam tulisan.
Mulai untuk peka lebih peka menangkap ide-ide yang berkeliaran.
Mulai untuk meluangkan waktu untuk benar-benar menulis, bukan sekedar menunggu waktu luang.

Untuk memulai, akan ada banyak alasan memang.
Mulai dari rasa malas, malu, takut, dan sebagainya.

Namun, jika kita tidak pernah memberanikan diri untuk memulai, maka sudah dapat dipastikan kita tidak akan pernah sampai--pada tujuan kita--menjadi penulis.

Karena, bukankah untuk sampai pada tangga sepuluh, kita harus melewati tangga satu, dua, tiga, dan seterusnya? Maka, mulailah naiki anak tanggamu sekarang. Langkahkan kaki, jangan takut.
Karena, tak kan pernah sampai orang yang tak pernah memulai.

Dan untukmu yang sudah memulai langkah, jangan berhenti. Teruskanlah. Karena jika kamu berhenti, maka akan sulit untuk memulai lagi.

Semangat memulai, semangat meneruskan langkah.

Semoga jejak-jejak goresan pena, mengantarkan kita ke Jannah-Nya.

-Cici Putri-
@ciciliaputri09


Kamis, 31 Maret 2016

Mati Lampu yang (Tak) Dirindu


Saat menyebalkan itu adalah ketika tugas menumpuk untuk segera dikerjakan, lalu mendadak mati lampu. Atau saat kamu kelaparan dan berniat untuk memasak mie rebus yang tinggal sebungkus, pakai magic com mini--karena nggak punya kompor #anakkos, lalu mati lampu. Cek dompet uang tinggal seribu. Oh sungguh tragis. Sabar ya qaqa. Hehehe

Oke. Apapun itu, mati lampu adalah keadaan yang hampir tak pernah ditunggu oleh siapapun. Kalau pun ada yang menanti atau berbahagia dengan datangnya momen mati lampu ini, aku rasa dia adalah penjual lilin. Atau mereka adalah pasangan yang ingin terlihat romantis (Baca: pengen Candle light dinner) dengan modal tipis. :D 

Tapi entah kenapa, walaupun aku termasuk kategori orang kebanyakan--yang tidak merindui hadirnya mati lampu, namun akhir-akhir ini, aku merasa mati lampu adalah momen yang "membahagiakan" bagiku, bahkan aku tunggu-tunggu. Wow. Sebegitu berartinya kah mati lampu hingga harus aku tunggu? *Udah kayak jodoh* #eh

Hmm... sejujurnya bukan mati lampunya yang spesial, tapi karena dengan mati lampu aku bisa melakukakan hal spesial. Yap, apalagi kalau bukan menulis, menyelesaikan deadline dan komitmen yang sudah aku buat, untuk menulis tiap hari--walau tak jarang rasa malas menghampiri. Hihihi.

*Ya ampun... Si Cici, mau nulis malah nunggu mati lampu. Emang nggak gelap apa?*

Hahaha. Jadi, mati lampu yang (terkadang) aku rindukan di sini adalah mati lampu saat di kantor. Karena saat mati lampu inilah aku punya kesempatan untuk menulis. Saat mati lampu nggak ada kerjaan kantor yang bisa dikerjakan, karena semua kerjaan kantor rata-rata mengandalkan komputer yang tentunya butuh listrik. So, momen ini tentunya tidak aku sia-siakan begitu saja. Maka dengan cekatan aku pun memainkan duo jempol di ponsel pintarku. Menuangkan ide--yang entah apa--ke dalam sebuah aplikasi note, yang kemudian akan aku pindahkan (Baca: Copy paste) ke blog nantinya.

So, ketika hati dan tangan ini sudah gatel pengen nulis, tapi di kantor banyak kerjaan, maka mati lampu menjadi momen yang dirindu. #SemogaPakBosNggakBacaPostinganIni. 

Hmm... Mati lampu. Sebenarnya banyak lagi sih ya, yang pengen aku sampein soal mati lampu ini. Tapi kerjaan juga udah nunggu. Sekian dulu deh.

Sssstt... terakhir. Yang pengan aku sampein. Apapun kondisi yang kita hadapi, jangan mengeluh. Hadapi aja. Just enjoy it. Seperti mati lampu yang terkadang (tak) dirindu. :D

#HappyWriting
#OneDayOnePost

Kamis, 24 Maret 2016

Itu-itu aja. Itu-itu lagi.


Pernah ngerasa bosan nggak sih, kalau datang ke sebuah acara atau pengajian, terus ustadznya nyampein ceramah yang udah mainstream banget? Alias itu-itu aja, itu-itu lagi, sama kayak yang udah disampein sama ustadz-ustadz lainnya. Pernah terlintas di pikiran pengen protes atau ngedumel? "Ustadz, please...aku udah tahu. Bisa ganti materi aja nggak sih, Tadz? Itu mulu deh. Sholat lagi, sholat lagi. Sedekah lagi, sedekah lagi." Pernah ngedumel kayak gitu?

Bahkan pernah nih ya...waktu itu, aku ngajakin temen buat datang kajian, terus temenku bilang gini, "Bosan loh kak, datang ke kajian kayak gitu. Paling isinya itu lagi, itu lagi."

Hmmm... aku sih No comment waktu itu. Cuma bisa berekspresi "Oh", kemudian berlalu dengan ekspresi, "Ya udah, terserah kamu. Aku pergi."

Selasa, 22 Maret 2016

Ini Idenya

Hal terberat ketika harus membiasakan diri menulis setiap hari itu adalah memikirkan ide tulisan--selain meluangkan waktu tentunya. 

Ide. Hanya tiga huruf. Tapi entah kenapa rasanya sulit sekali mendapatkannya, setelah dapat--pun, lebih sulit lagi mengungkapkan dan menuangkannya dalam kata-kata. Bahkan rasanya lebih sulit dari menggungkapkan cinta. #Eh 

Ide. Banyak yang bilang ide itu ada dimana-mana. Ada pas kita sedang naik angkot, naik ojek, naik delman, naik kereta, naik kapal, naik becak, naik sepeda, naik sampan *ini kenapa deh jadi nyebutin nama segala jenis kendaraan? -___-* Hahaha. Santai Gaes. Cuma mau ngetes kesabaran kamu aja, kok. #plakk

Intinya sih, kita semua pasti sepakat yes... kalau ide itu bisa didapat dari mana aja. Baik ketika kita sadar (sengaja mencari ide), ataupun nggak sadar (ide yang datang tiba-tiba). Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Udah kayak jalangkung. Hihihi.

Nah, ketika ide udah nongol--dan biasanya nongolnya suka nggak liat situasi, suka banget nongol kalau lagi ada kerjaan atau lagi bawa kendaraan #DisituSayaMerasaDilema, masalah selanjutnya muncul, yaitu menuliskannya--seperti yang tadi udah aku bilang. Mengungkapkan ide itu (terkadang) lebih sulit dari pada mencari ide. Huft.

Senin, 21 Maret 2016

The Mahmudah-Kepo Imunisasi

Yuhuuu... 
Cici datang lagi. Kali ini bareng mau bagi-bagi ilmu hasil kajian on line di grup kece. Apalagi kalau bukan grup Reuni Andalusia. Grup tempat ngopi (ngobrol pintar) para muslimah sholehah #Eaaa 
Dan setelah beberapa waktu lalu menyimak curcol para mahmudah seputar kehamilan, kali ini kita habis ngebahas soal vaksinasi. Iyap, bener banget, vaksinasi yang (kadang) menimbulkan kontroversi di sana sini. Hehehe. So, biar para mahmudah (mamah muda sholehah) nggak galau, para admin kece ngedatangin pemateri yang kompeten soal permasalahan ini. So, langsung aja kita simak resume hasil diskusinya di bawah ini. Kalau rekapannya rada "kurang rapih" harap maklum yaaah. Karena ini juga butuh perjuaangan. Hahaha. #Alasan

Langsung aja, ini dia materi dan hasil diskusi kemarin. Cekidot~ 

Senin, 14 Maret 2016

Oleh-oleh Ketemu Bang Tere


Ceritanya kemarin habis ikutan bedah buku "Hujan" bareng Bang Tere Liye. Hmm... Udah pada tahu dong siapa itu Bang Tere? Nggak perlu dijelasin lagi kan yak? Kalau masih ada yang belum tahu, silahkan tanya uncle, uncle google. Hehehe.

Sebenarnya sih, aku nggak terlalu akrab ya sama (karya) beliau, tapi karena kepo dan pernah baca satu karyanya "Bidadari-bidadari surga" dan aku juga suka sama quote-quote nya di FB, maka jadilah kemarin itu pas ada novel terbaru "Hujan" langsung beli, terus ikutan bedah bukunya, kebetulan aja sih, karena ada yang ngadain and nggak perlu ke luar kota. #HemmatBeib. Hahaha

Oke, tanpa basa-basi (lagi) langsung aja aku mau kasih oleh-oleh dari acara kemarin. *Lalu bingung mau mulai dari mana* Whahaha.

Jadi ceritanya setelah Bang Tere mengupas sedikit tentang buku-bukunya, terutama novel Hujan, maka tibalah sesi tanya jawab, dan aku udah nyiapin pertanyaan dua hari sebelumnya buat ditanyain ke Bang Tere. Niat banget kan, yak? Hahaha. Dan pertanyaan yang ingin aku tanyakan kebetulan sama dengan pertanyaan titipan dari temen di salah satu komunitas nulis yang aku ikuti. So, mereka pasti nunggu-nunggu jawabannya dong, termasuk kamu. Iya, kamu. :D

Awalnya hampir aja putus asa nggak dapet bagian buat nanya, karena you know lah ya... Yang mau nanya banyak banget, malah yang nanya juga kadang pake mukadimahnya  puaanjang banget. Hahaha. Tapi, emang gitu sih ya, suka nggak sadar kalau udah ketemu idola. Aku kadang gitu juga. *Oops*

Setelah berjuang angkat tangan di setiap sesi--untung nggak sampe angkat kaki, akhirnya aku kebagian jatah buat nanya di sesi terakhir dan menjadi penanya terakhir. Fiyyuh...*Lap keringet*

So, langsung aja aku kasih bocoran jawaban Bang Tere soal gimana cara dapetin endorse/ testimoni dari Bang Tere. Berikut jawabannya:

Selasa, 08 Maret 2016

Ujian "Termudah"

Hai... Hai... Cici datang lagi. Kali ini mau bahas soal ujian.*Idih apa deh, Ciiii... ngingetin soal ujian. Udah kayak dosen aja. -,-

Hahaha... Sabar, Gaes. Kali ini nggak bakal bahas soal ujian yang jelimet and bikin otak mumet, kok. Keep calm. *pasang kacamata item*

Cuma mau bahas soal ujian hidup. #NyengirLebar. *Lah, malah bahas ujian hidup. Lebih berat lagi. orz.* Hehehe. Nggak usah lemes dulu, dong... Santai aja. Woles. Woles. :D

Karena ujian hidup itu bukan untuk ditangisi, diratapi, apalagi dihindari. Karena kita nggak akan pernah bisa menghindar. Lah, mau menghindar ke mana coba? Wong yang punya dunia dan seisinya Allah. Terus, kita mau lari ke mana? Apa mau lari ke dunia lain? Hehe. Jadi, kalau Allah udah menetapkan sesuatu untuk kita, baik berupa rahmat (yang biasanya kita lihat sebagai sesuatu yang enak-enak buat kita--padahal belum tentu yang enak itu baik), ataupun ujian (yang biasanya kita anggap sebagai sesuatu yang menyesakkan dada--padahal belum tentu yang menyesakkan dada itu buruk), maka nggak ada yang bisa menolaknya. Apapun itu.

"Apa saja yang Allah anugrahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya. Dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Q.S 35:2)
ilustrasi: nyaplok di google
Jadi Gaes, udah jelas ya... Kalau sesuatu itu udah ditakdirkan untuk kita, maka akan datang ke kita. Tapi kalau Allah masih menahannya, masih memberikan kita ujian-ujian lainnya, juga nggak ada yang bisa melepaskannya. Illah huwa--Kecuali Dia. So, nggak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan di dunia ini, kecuali khawatir gimana keadaan kita di akhirat nanti. :)

Ujian itu harus dihadapi dan dilalui dengan sebaik-baiknya. Karenaaaa... kalau terus-terusan ditangisi--tanpa berusaha mencari solusinya, maka kita nggak akan pernah lulus, nggak akan pernah naik kelas. Sama seperti di sekolahan, kita nggak akan naik kelas kalau belum ikut dan lulus ujian. Kalau kita terusan-terusan menghindar dan nggak berusaha untuk lulus ujian, mau sampai kapan? Dan emangnya mau tinggal kelas mulu? Nggak dong, ya... :D

Senin, 15 Februari 2016

Cinta Setengah Sendok


Yuhuuu...

Cici is back. Apa kabar readers?
Semoga makin kece and disayang Allah... Aamiin.

Itu judul tulisannya apa bangeeeeeeeeet "CINTA SETENGAH SENDOK" udah kayak judul FTv. Hahaha.

Dan sebenernya ini judul punya temen, yang konon katanya mau dibuat jadi cerpen. Karena dia udah terlanjur ngasih tahu judul cerpennya, ya sudahlah... Judulnya aku pinjem dulu, mumpung ada ide buat nulis. :D
Dan alhamdulillah diizinin. *Horrraaaaiii*

So, ada apa sih sebenernya dengan "Cinta setengah sendok?"
Ini maksudnya apa coba? Hmm... Maksudnya apa, ya? Aku juga bingung. Wkakaka. #ditabok

Oke, jadi gini guys. Sebenernya, ide tulisan ini dapet pas aku sedang makan beberapa hari yang lalu.
*Ceile... yang dapet ide pas lagi makan.

Hahaha... ya gitu deh. Jadi ceritanya

Sabtu, 12 Desember 2015

Rentan

Ini adalah waktu-waktu yang rentan.
Waktu di saat kamu istirahat dari rutinas pekerjaan harianmu.
Waktu di saat kamu bisa bercengkerama mesra dengan keluargamu.
Waktu di saat kamu mengagendakan liburan bersama teman-temanmu.
Menikmati akhir pekan, beristirahat dari penatnya rutinas harian.
Ya, di saat waktu-waktu seperti inilah ada sesuatu yang menjadi rentan--terabaikan.

Saat tilawah ditunda nanti. Karena merasa hari ini hari libur. Segalanya bisa diatur. Nanti saja, toh hari libur. Kita nikmati saja pagi yang lapang ini. Berleha-leha di atas kasur, ataupun bereksperimen terlalu lama di dapur. Hingga akhirnya kita terlupa, hari sudah beranjak senja. Padahal masih ada kewajiban yang belum tuntas tertunaikan dengan sempurna.

Atau terkadang di saat-saat weekend seperti ini, kita justru asik dengan planning jalan-jalan, menghadiri seminar sana-sini, nonton bioskop menikmati film terkini, ataupun kongkow bareng teman sambil ketawa-ketiwi. Hingga lagi-lagi ada sesuatu yang kita lupa. Tilawah.

Ya, begitulah fenomenanya. Itu nyata, dan sering terjadi pada diri kita. Terlalai. Terbuai karena menganggap waktu begitu lapang. Atau berasumsi bahwa ini adalah hari libur, aku akan lakukan apapun yang menyenangkan bagiku, yang bisa merefresh kembali otakku yang telah begitu penat dengan hari-hari yang padat.

Teman, jika weekend adalah waktu refresh untukmu, maka jadikanlah Qur'an salah satu sahabat rehatmu. Sahabat yang seharusnya justru bisa menghilangkan segala penat jiwa dan ragamu. Tunaikan dulu kewajibanmu pada-Nya, maka Dia akan memberikan waktu yang lapang untukmu menikmati hal-hal lainnya. Jangan pernah "mengabaikannya", hanya karena kau ingin menikmati hari yang "berbeda".

Hari boleh weekend, tapi semangat tilawah nggak boleh end.

-Cici Putri-
@ciciliaputri09

#SemangatODOJ
#HappyWeekend

Jumat, 04 Desember 2015

Strategi Al-Kahfi



Hai...
It's jumu'ah. Jangan lupa baca Al-Kahfinya ya...

"Ya elah min, boro-boro pake baca Al-kahfi segala, nyelesein satu juz aja udah ngos-ngosan min."

Ada yang pernah berpikiran atau komen kayak gitu?
Kalau ada, mulai sekarang yuk ah, perbaiki strateginya.
Kita bisa kok, selesein satu juz dan juga dapat pahala baca Al-Kahfi di hari jum'at.

Caranya gimana? *pasang muka cuek, tapi kepo*

Jadi gini manteman,