![]() |
| Pic from OWOP Group |
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Selasa, 25 Oktober 2016
Make (to the) Up
Hmm... Melihat gambar ini, apa yang sedang Anda pikirkan? #PertanyaanKepo #AlaAlaFacebook
Minggu, 02 Oktober 2016
Alasan
Alasan, ya aku akui, saat ini aku tengah beralasan--lebih tepatnya mencari-cari alasan. Mencari-cari alasan untuk tidak setoran tulisan, mulai dari nggak ada ide, writer block, sampai bilang (sok) sibuk. Begini pake bilang pengen nulis buku? *sodorinkacagede
Alasan. Lagi-lagi kita sebagai manusia emang sering banget beralasan. Mulai dari alasan yang masuk akal, sampai alasan yang akal-akalan, semuanya kita cari-cari, biar apa yang kita lakukan mendapat pemakluman. Kayak gini masih ngaku pengen meraih "mimpi"? *sodorin kaca lagi
Alasan. Tak hanya soal cita-cita, impian dan keinginan, alasan juga sering kita kemukan bahkan kepada Tuhan.
Sabtu, 24 September 2016
Terima Kasih, Bukan Aku.
Ceritanya tadi pagi, tepatnya ba'da subuh, aku nyempetin diri buat buka youtube.Sebenarnya nggak ada yang penting-penting amat yang harus dicari pagi buta gini, ditambah lagi beberapa kerjaan rumah sudah menanti. Tapi, demi sebuah kalimat, "Sayang, daripada mubazir nggak ke pake (red: kuota malam paket internet masih banyak tapi masa berlaku udah mau habis)," maka jadilah pagi tadi aku men-download beberapa video ceramah Aa Gym. #BukanPencitraan
So, selama lebih kurang satu jam, alhamdulillah ada tiga video yang berhasil aku download. Jadilah pagi tadi, iseng-iseng sambil bersih-bersih rumah, aku putar video yang barusan aku download. Nggak bisa nontonnya sih, tapi yang penting bisa denger suaranya. :D
Menjelang akhir sesi ceramah yang berjudul "Menyikapi Takdir" ada satu hal yang menarik dan sayang kalau aku simpen sendiri.
Selasa, 30 Agustus 2016
Yang Terbaik
Alhamdulillah... setelah tiga minggu nggak posting, akhirnya hari ini bisa posting lagi. #Senengbanget
Hhmmm.... Ngomong-ngomong, teman-teman pernah dengar atau bahkan sering kan ya... berdo'a atau pun mendo'akan teman kita dengan kalimat kurang lebiih seperti ini,
Hhmmm.... Ngomong-ngomong, teman-teman pernah dengar atau bahkan sering kan ya... berdo'a atau pun mendo'akan teman kita dengan kalimat kurang lebiih seperti ini,
Sabtu, 11 Juni 2016
Lapak 1.5 x 0.5 m
Yuhuuu... Cici is back.
Seperti janji kemaren, hari ini In syaa Allah bakal mulai posting-posting cantik lagi. *kibas-kibas jilbab*
Eh, ini judulnya apa banget ya... Sampe ngomongin lapak-lapakan segala. Apa karena di sosmed sekarang pada rame yang buka lapak? *Eh, bukannya kamu juga, Ci?*
Iya, sih. Hahaha. Oke fix. Lupakan. Back to topik.
Jadi gini nih ya... Kadang kita *eh, atau aku aja?* suka ngiri liat orang-orang yang pada punya usaha. Yang usahanya udah gede dan punya cabang di mana-mana. Bisa mempekerjakan orang, bantu orang, buka sekolah gratis, de el el. Duh, pokoknya suka ngiri sih kadang ya... Jadi pengen juga punya lapak kayak mereka.
Tapi, akhir-akhir ini aku jadi berpikir. Hei! Bukankah kita masing-masing sebenarnya sudah diberi lapak oleh Allah? Lapak yang sebenarnya. Lapak yang perniagaannya nggak akan pernah rugi. Lapak yang bakal bisa mewujudkan semua mimpi. Lapak yang bisa kasih kita apa aja. Jangankan penghasilan sembilan, atau sepuluh digit per bulan, bahkan seratus digit sekali pun, bisa diwujudkan. Lapak yang nggak bakal buat kita kecewa. Lapak yang nggak perlu bayar uang sewa. Lapak yang nggak bakal direbut orang. Lapak yang nggak bakal pernah berkurang.
Seperti janji kemaren, hari ini In syaa Allah bakal mulai posting-posting cantik lagi. *kibas-kibas jilbab*
Eh, ini judulnya apa banget ya... Sampe ngomongin lapak-lapakan segala. Apa karena di sosmed sekarang pada rame yang buka lapak? *Eh, bukannya kamu juga, Ci?*
Iya, sih. Hahaha. Oke fix. Lupakan. Back to topik.
Jadi gini nih ya... Kadang kita *eh, atau aku aja?* suka ngiri liat orang-orang yang pada punya usaha. Yang usahanya udah gede dan punya cabang di mana-mana. Bisa mempekerjakan orang, bantu orang, buka sekolah gratis, de el el. Duh, pokoknya suka ngiri sih kadang ya... Jadi pengen juga punya lapak kayak mereka.
Tapi, akhir-akhir ini aku jadi berpikir. Hei! Bukankah kita masing-masing sebenarnya sudah diberi lapak oleh Allah? Lapak yang sebenarnya. Lapak yang perniagaannya nggak akan pernah rugi. Lapak yang bakal bisa mewujudkan semua mimpi. Lapak yang bisa kasih kita apa aja. Jangankan penghasilan sembilan, atau sepuluh digit per bulan, bahkan seratus digit sekali pun, bisa diwujudkan. Lapak yang nggak bakal buat kita kecewa. Lapak yang nggak perlu bayar uang sewa. Lapak yang nggak bakal direbut orang. Lapak yang nggak bakal pernah berkurang.
Jumat, 29 April 2016
Khawatir
Dalam menjalani hidup ini, terkadang kita sering merasa khawatir dan takut. Khawatir kerjaan tidak beres, lalu dimarahi bos. Khawatir saat telat bayar SPP lalu alpa study. Khawatir tidak dapat jodoh. Khawatir tidak ada uang untuk makan. Khawatir ini dan itu. Bahkan, tidak jarang kekhawatiran itu hanya sekedar kekhawatiran saja, dan masih praduka belaka. Tidak ada korelasi, bahkan bukti sama sekali jika itu benar-benar akan terjadi. Ah, kita memang terkadang terlalu khawatir.
Kamis, 28 April 2016
Dear Mantan (?)
Akhir-akhir ini lagi marak banget para pengguna sosial media yang bikin meme atau ngedit picture atau sejenisnya pakai tagline "Dear Mantan" yang ditambah dengan kalimat "Maafkan aku yang dulu". Hhmmmm... Nggak perlu disebutin lah ya, contohnya yang kayak gimanaaa... tinggal buka aja tuh beranda Facebook masing-masing, bakal langsung bertebaran meme yang dimaksud. Atau bagi kamu yang nggak nemu meme yang aku maksud--karena mungkin teman FB nya anak baik semua--bisa tanya sama uncle google, tinggal ketik aja "Meme Dear Mantan", dalam sepersekian detik--kalau internet kamu lancar tentunya--bakal muncul berbagai gaya "Meme Dear Mantan".
Oke, aku nggak bakal bahas lebih lanjut tentang "Meme Dear Mantan" yang kadang bikin miris ini. Syukurlah meme yang menggambarkan betapa sebenarnya yang buat meme kayak gini masih ada rasa "ngarep" ama mantannya, pengen balikan. Atau minimal, dia pengen bilang, "Nyesel kan ninggalin gue kemaren? Liat gue yang sekarang. Gigit jari, gigit jari deh lo." Yaaah... mungkin lebih kurang gitu kali ya, yang ingin disampaikan dari meme "Dear Mantan" ini. Sungguh miris. Pamer diri yang sekarang, hanya untuk "balas dendam". Fiyuuuh *lap keringet*
Oke, aku nggak bakal bahas lebih lanjut tentang "Meme Dear Mantan" yang kadang bikin miris ini. Syukurlah meme yang menggambarkan betapa sebenarnya yang buat meme kayak gini masih ada rasa "ngarep" ama mantannya, pengen balikan. Atau minimal, dia pengen bilang, "Nyesel kan ninggalin gue kemaren? Liat gue yang sekarang. Gigit jari, gigit jari deh lo." Yaaah... mungkin lebih kurang gitu kali ya, yang ingin disampaikan dari meme "Dear Mantan" ini. Sungguh miris. Pamer diri yang sekarang, hanya untuk "balas dendam". Fiyuuuh *lap keringet*
Jumat, 25 Maret 2016
Kulkas, ada?
Setelah kemarin nulis tentang hati yang suka ngedumel dengan yang itu-itu aja, kali ini mau bahas yang berkaitan dengan kajian (lagi).
Hmmm... Jadi ceritanya--entah kenapa--tiba-tiba teringat waktu dulu pernah ikut kajian. Waktu itu bahas tentang apa ya... lupa. Hehehe. Tapi intinya sih, waktu itu Pak Ustadz bertanya sama jama'ahnya (baca:peserta kajian), "Jadi, berapa orang di sini yang sudah ada buku tafsir di rumahnya?"
Dan seketika hening. Peserta kajian saling pandang--sambil menunduk-nunduk tentunya. Karena tak satupun ternyata yang mengangkat tangan untuk menyatakan bahwa dirinya punya buku tafsir di rumah.
Pak ustadz menarik napas, dan melanjutkan pertanyaan, "Kalau kitab fiqih? Siapa yang punya kitab fiqih di rumahnya?" Kembali peserta menunduk dan saling pandang. Pak ustadz menarik napas--lagi.
"Oke. Kalau pertanyaanya saya ganti. Kalau yang ini saya yakin rata-rata pasti angkat tangan dan menjawab ada. Siapa yang di rumahnya ada kulkas?"
Deg. Peserta langsung terdiam--beribu-ribu bahasa. Tertohok dengan pertanyaan yang diajukan. Mereka--termasuk aku, tentunya mulai mengerti ke mana arah pertanyaan dari sang ustadz.
"Ada kan, Bu?" Peserta mesam mesem, cengengesan.
"Kalau tv? Handhpone? Pasti juga ada kan, Bu?" Peserta makin tertohok.
"Kira-kita mahalan mana kulkas sama kitab tafsir, Bu?" Peserta terkunci mulutnya. Merasa tertampar jiwanya.
"Jadi, Bu. Bisa atau tidaknya kita membeli sesuatu, sebenarnya bukan faktor mahal atau tidaknya. Tapi apakah kita mau dan merasa butuh atau tidak. Itu saja. Jika kita merasa lebih butuh kulkas dari kitab tafsir Qur'an dan kitab fiqih, tentu kita akan memprioritaskan kulkas dari kitab-kitab itu. Begitu juga sebaliknya, jika kita merasa kitab tafsir dan fiqih lebih kita butuhkan dalam hidup kita sebagai pedoman dan pencas ruhiyah kita, sebagai jalan kita memahami kalam-kalam-Nya, tentu kita akan prioritaskan membelinya dari pada kulkas, tv, AC, dan lain sebagainya."
Pak ustadz menarik napas sejenak, menatap para peserta kajian. Sepertinya sang ustadz mengerti, bahwa para peserta sedang tertampar jiwanya, maka sang ustadz melanjutkan, "Tidak masalah jika sekarang memang belum ada dan belum merasa butuh, tapi saya akan do'akan, semoga kita semua di sini, termasuk orang-orang yang bisa memilah dan memilih dengan baik, mana yang lebih prioritas dalam kehidupan dunia dan akhiratnya." Pak Ustadz pun tersenyum. Peserta terlihat sedikit lega, termasuk aku.
Dan mulai saat itu, aku sudah mulai bertekad, suatu saat nanti, aku akan beli kitab tafsir dan fiqih. Dan saat tulisan ini dibuat, alhamdulillah...Allah izinkan aku sudah memiliki salah satunya, kitab fiqih. :)
#SemogaNggakSekedarJadiPajangan
Dan seketika hening. Peserta kajian saling pandang--sambil menunduk-nunduk tentunya. Karena tak satupun ternyata yang mengangkat tangan untuk menyatakan bahwa dirinya punya buku tafsir di rumah.
Pak ustadz menarik napas, dan melanjutkan pertanyaan, "Kalau kitab fiqih? Siapa yang punya kitab fiqih di rumahnya?" Kembali peserta menunduk dan saling pandang. Pak ustadz menarik napas--lagi.
"Oke. Kalau pertanyaanya saya ganti. Kalau yang ini saya yakin rata-rata pasti angkat tangan dan menjawab ada. Siapa yang di rumahnya ada kulkas?"
Deg. Peserta langsung terdiam--beribu-ribu bahasa. Tertohok dengan pertanyaan yang diajukan. Mereka--termasuk aku, tentunya mulai mengerti ke mana arah pertanyaan dari sang ustadz.
"Ada kan, Bu?" Peserta mesam mesem, cengengesan.
"Kalau tv? Handhpone? Pasti juga ada kan, Bu?" Peserta makin tertohok.
"Kira-kita mahalan mana kulkas sama kitab tafsir, Bu?" Peserta terkunci mulutnya. Merasa tertampar jiwanya.
"Jadi, Bu. Bisa atau tidaknya kita membeli sesuatu, sebenarnya bukan faktor mahal atau tidaknya. Tapi apakah kita mau dan merasa butuh atau tidak. Itu saja. Jika kita merasa lebih butuh kulkas dari kitab tafsir Qur'an dan kitab fiqih, tentu kita akan memprioritaskan kulkas dari kitab-kitab itu. Begitu juga sebaliknya, jika kita merasa kitab tafsir dan fiqih lebih kita butuhkan dalam hidup kita sebagai pedoman dan pencas ruhiyah kita, sebagai jalan kita memahami kalam-kalam-Nya, tentu kita akan prioritaskan membelinya dari pada kulkas, tv, AC, dan lain sebagainya."
Pak ustadz menarik napas sejenak, menatap para peserta kajian. Sepertinya sang ustadz mengerti, bahwa para peserta sedang tertampar jiwanya, maka sang ustadz melanjutkan, "Tidak masalah jika sekarang memang belum ada dan belum merasa butuh, tapi saya akan do'akan, semoga kita semua di sini, termasuk orang-orang yang bisa memilah dan memilih dengan baik, mana yang lebih prioritas dalam kehidupan dunia dan akhiratnya." Pak Ustadz pun tersenyum. Peserta terlihat sedikit lega, termasuk aku.
Dan mulai saat itu, aku sudah mulai bertekad, suatu saat nanti, aku akan beli kitab tafsir dan fiqih. Dan saat tulisan ini dibuat, alhamdulillah...Allah izinkan aku sudah memiliki salah satunya, kitab fiqih. :)
#SemogaNggakSekedarJadiPajangan
Kamis, 24 Maret 2016
Itu-itu aja. Itu-itu lagi.
Pernah ngerasa bosan nggak sih, kalau datang ke sebuah acara atau pengajian, terus ustadznya nyampein ceramah yang udah mainstream banget? Alias itu-itu aja, itu-itu lagi, sama kayak yang udah disampein sama ustadz-ustadz lainnya. Pernah terlintas di pikiran pengen protes atau ngedumel? "Ustadz, please...aku udah tahu. Bisa ganti materi aja nggak sih, Tadz? Itu mulu deh. Sholat lagi, sholat lagi. Sedekah lagi, sedekah lagi." Pernah ngedumel kayak gitu?
Bahkan pernah nih ya...waktu itu, aku ngajakin temen buat datang kajian, terus temenku bilang gini, "Bosan loh kak, datang ke kajian kayak gitu. Paling isinya itu lagi, itu lagi."
Hmmm... aku sih No comment waktu itu. Cuma bisa berekspresi "Oh", kemudian berlalu dengan ekspresi, "Ya udah, terserah kamu. Aku pergi."
Selasa, 15 Maret 2016
(Bukan) Nasehat
Kali ini aku bakal bagiin sebuah lagu buat kalian semua. Sebuah lagu yang bikin aku "cukup kuat" saat dulu mengalami ujian yang cukup menguras pikiran dan jiwa. Ampe rasanya... aku nggak tahu lagi mau ngapain. Nyesek banget. Perang dingin. Pergolakan batin. Tapi... itu semua sekaligus pelajaran berharga banget buat aku, hingga aku akhirnya tahu, bahwa Allah itu emang super duper Amazing. Pokoknya Allah itu love banget deh. Thank you Allah for everything you've done to me.
Dan ini dia lagu yang dulu sering aku putar biar aku tetap tegar dan percaya pada-Nya.
Selasa, 08 Maret 2016
Ujian "Termudah"
Hai...
Hai... Cici datang lagi. Kali ini mau bahas soal ujian.*Idih apa deh,
Ciiii... ngingetin soal ujian. Udah kayak dosen aja. -,-
Hahaha... Sabar, Gaes. Kali ini nggak bakal bahas soal ujian yang jelimet and bikin otak mumet, kok. Keep calm. *pasang kacamata item*
Cuma mau bahas soal ujian hidup. #NyengirLebar. *Lah, malah bahas ujian hidup. Lebih berat lagi. orz.* Hehehe. Nggak usah lemes dulu, dong... Santai aja. Woles. Woles. :D
Karena ujian hidup itu bukan untuk ditangisi, diratapi, apalagi dihindari. Karena kita nggak akan pernah bisa menghindar. Lah, mau menghindar ke mana coba? Wong yang punya dunia dan seisinya Allah. Terus, kita mau lari ke mana? Apa mau lari ke dunia lain? Hehe. Jadi, kalau Allah udah menetapkan sesuatu untuk kita, baik berupa rahmat (yang biasanya kita lihat sebagai sesuatu yang enak-enak buat kita--padahal belum tentu yang enak itu baik), ataupun ujian (yang biasanya kita anggap sebagai sesuatu yang menyesakkan dada--padahal belum tentu yang menyesakkan dada itu buruk), maka nggak ada yang bisa menolaknya. Apapun itu.
Ujian
itu harus dihadapi dan dilalui dengan sebaik-baiknya. Karenaaaa...
kalau terus-terusan ditangisi--tanpa berusaha mencari solusinya, maka
kita nggak akan pernah lulus, nggak akan pernah naik kelas. Sama seperti
di sekolahan, kita nggak akan naik kelas kalau belum ikut dan lulus
ujian. Kalau kita terusan-terusan menghindar dan nggak berusaha untuk
lulus ujian, mau sampai kapan? Dan emangnya mau tinggal kelas mulu?
Nggak dong, ya... :D
Hahaha... Sabar, Gaes. Kali ini nggak bakal bahas soal ujian yang jelimet and bikin otak mumet, kok. Keep calm. *pasang kacamata item*
Cuma mau bahas soal ujian hidup. #NyengirLebar. *Lah, malah bahas ujian hidup. Lebih berat lagi. orz.* Hehehe. Nggak usah lemes dulu, dong... Santai aja. Woles. Woles. :D
Karena ujian hidup itu bukan untuk ditangisi, diratapi, apalagi dihindari. Karena kita nggak akan pernah bisa menghindar. Lah, mau menghindar ke mana coba? Wong yang punya dunia dan seisinya Allah. Terus, kita mau lari ke mana? Apa mau lari ke dunia lain? Hehe. Jadi, kalau Allah udah menetapkan sesuatu untuk kita, baik berupa rahmat (yang biasanya kita lihat sebagai sesuatu yang enak-enak buat kita--padahal belum tentu yang enak itu baik), ataupun ujian (yang biasanya kita anggap sebagai sesuatu yang menyesakkan dada--padahal belum tentu yang menyesakkan dada itu buruk), maka nggak ada yang bisa menolaknya. Apapun itu.
"Apa
saja yang Allah anugrahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada
seorangpun yang dapat menahannya. Dan apa saja yang ditahan oleh Allah
maka tidak seorangpun sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang
Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(Q.S 35:2)
![]() |
| ilustrasi: nyaplok di google |
Jadi
Gaes, udah jelas ya... Kalau sesuatu itu udah ditakdirkan untuk kita,
maka akan datang ke kita. Tapi kalau Allah masih menahannya, masih
memberikan kita ujian-ujian lainnya, juga nggak ada yang bisa
melepaskannya. Illah huwa--Kecuali Dia. So, nggak ada yang perlu
terlalu dikhawatirkan di dunia ini, kecuali khawatir gimana keadaan kita
di akhirat nanti. :)
Jumat, 27 Maret 2015
Bidadari berbaju biru
Lebih kurang minggu yang lalu, aku baru
saja mengikuti salah satu agenda wisata alam yang diadakan oleh komunitas One
Day One Juz atau yang lebih terkenal dengan sebutan ODOJ. Di luar dugaan aku,
ternyata dalam agenda ini ada salah seorang umahat (ibu-ibu) yang ikut membawa
suami dan anak-anaknya. Luar Biasa. Mereka semua terlihat begitu semangat,
terutama anak-anaknya. Umahat ini membawa 3 orang anaknya yang masing-masing
berusia lebih kurang 9 tahun, 7 tahun, dan 5 tahun. Walaupun jalan yang harus
ditempuh untuk mencapai lokasi wisata, yakni air terjun ini tidak mudah, tapi
mereka para mujahid kecil ini terlihat begitu semangat tak kenal lelah.
Bayangkan, dengan usia mereka yang masih kanak-kanak, harus menempuh jalan setapak di dalam hutan
berbukit yang jalannya naik turun dan melewati dua buah anak sungai bebatu, dan
perjalanan ini memakan waktu lebih kurang 30 menit dengan berjalan kaki.
Selama perjalanan ini, aku mendapat
pelajaran berharga dari mereka, terutama si gadis berbaju biru, mujahidah kecil
berusia 7 tahun. Saat perjalanan pulang dari lokasi air terjun menuju tempat
Bus kami diparkirkan, aku berkesempatan mendampinginya karena sang abi dan ummi
masih tertinggal berjalan di belakang kami. Sedangkan dia, si mujahidah cilik
sudah melesat mendahului yang lainnya. Aku pun tidak mau ketinggalan, karena
kebetulan dia berada tepat di depanku, maka akupun berusaha mendampinginya. Maklum,
jalan yang kami lalui tidak mulus, ada beberapa jalan yang terjal dan butuh
kehati-hatian ekstra untuk melewatinya.
Sepanjang perjalanan bersamanya, aku
sempatkan mengajak gadis cilik berbaju biru ini untuk berkenalan dan ngobrol-ngobrol
ringan menanyakan seputar keluarga dan sekolahnya. Yaa.. pertanyaan standar
saat perkenalan untuk memecah kekakuan. Dari obrolan singkat kami, barulah aku
tahu ternyata umurnya masih 7 tahun dan duduk di kelas dua SD. Sungguh masih
sangat muda tentunya. Ketika aku bertanya, “Gak capek?.”
Mujahidah cilik menjawab dengan lugu,”Enggak.”
“Masih semangatkan?” tanyaku memastikan.
“iya, masih.” Jawabnya sambil mengangguk.
“Kenapa kok semangat banget? Kan jalannya
jauh, mendaki, di hutan lagi.” tanyaku ingin tahu, mencoba mendalami apa yang
sebenarnya membuat seorang anak kecil terlihat selalu bersemangat menempuh
perjalanan yang melelahkan ini.
”Hmmm…” dia terlihat malu untuk menjawab.
“Pasti semangat mau nyeritain ke
temen-temen ya, kalau liburannya mendaki bukit di dalam hutan dan sampai ke air
terjuuuunnn” aku berusaha menebak sambil menggoda.
“Hehe.. Iya,” jawabnya sambil mengangguk
pelan, malu-malu.
Luar biasa, pikirku. Ternyata benar, jika
kita punya tujuan dan gambaran jelas tentang kebahagian yang akan kita dapatkan
dalam perjuangan ini, kita pasti akan senantiasa bersemangat menjalaninya, walaupun
jalan yang ditempuh tidak mudah. Oh mujahidah cilik, tanpa sengaja kau telah
mengingatkanku kembali akan pentingnya tujuan.
Selama perjalanan, aku masih berusaha
selalu mendampingi si bidadari berbaju biru itu, beberapa kali sempat aku
menawarkan untuk berhenti sejenak, karena sudah tidak tega melihat dia yang
kelelahan, dan karena akupun sebenarnya juga merasakan kelelahan yang sama,
tapi dia menolak dan berkata,”nanti aja kalau udah capek.”
“Wah, kalau gitu sekarang belum capek
donk.” Kataku
“Capek juga, tapi masih bisa ditahan.”
Jawabnya polos.
Ya Allah,, sekali lagi Engkau beri hamba
pelajaran dari gadis cilik ini. Dia mau menahan lelahnya, demi merasakan
indahnya perjuangan menaklukkan jalan ini. Begitu pula dalam perjuangan dakwah
ini memang akan ada lelah dan payah, tapi jika kita mampu bertahan tentunya
akan ada banyak hal indah yang bisa kita caritakan untuk dijadikan pelajaran.
Setelah beberapa lama berjalan, akkhirnya sampailah kami pada pendakian
terakhir, dan ini adalah pendakian yang paling terjal dari sebelumnya, maka
sekali lagi aku menawarkan,”Mau istirahat dulu sebelum mendaki atau masih
semangat?” tanyaku dengan penuh senyuman melihat ke arahnya.
“Nanti aja, pas sampai atas” jawabnya
mantap
“Seriuuuss….??” Tanyaku menggoda.
“Iya, nanti aja sekalian istirahatnya, pas udah nyampe atas.”
“Oke. Kalau nanti capek dan gak kuat,
bilang ya..” cucuran keringat dan wajah yang mulai pucat perlahan terlihat menggantikan
rona wajahnya, jilbab biru tua yang dikenakannya, mulai terlihat agak miring ke kiri, beberapa helai rambut terlihat mengintip ke luar, seakan ingin ikut meneriakan betapa perjalanan ini membutuhkan energi yang tidak sedikit. Ada rasa khawatir melintas di pikiranku, kalau-kalau nanti
mujahidah cilik ini tidak kuat dan jatuh pingsan. Tapi syukurlah, rupanya dia
masih bertahan.
Saat sampai di tengah
pendakian,”Istirahat dulu deh kayaknya” katanya dengan nafas ngos-ngosan sambil
memegangi kaki.
“Oh mau istirahat? Boleh. Yuukk” kataku.
Kamipun mengambil posisi menepi. Sambil
berselonjor di atas rumput, akupun mengeluarkan botol air minum dari dalam
tasku, dan memberikannya pada bidadari cilik di sampingku. Aku persilahkan dia
minum duluan.
Ketika kami sedang beristirahat, beberapa teman-teman yang lain lewat sambil menyapa dan berujar, “Wah, luar biasanya adinda cilik kita satu ini. Jauh loh padahal, masih semangat aja kayaknya.” Begitulah kira-kira komentar dari beberapa teman-teman yang lewat di depan kami. Dan yang dipuji, hanya diam dan tersipu malu.
Ketika kami sedang beristirahat, beberapa teman-teman yang lain lewat sambil menyapa dan berujar, “Wah, luar biasanya adinda cilik kita satu ini. Jauh loh padahal, masih semangat aja kayaknya.” Begitulah kira-kira komentar dari beberapa teman-teman yang lewat di depan kami. Dan yang dipuji, hanya diam dan tersipu malu.
“Udah pada lewat ya? Yang lain masih ada
gak di belakang?” mujahidah yang satu ini terlihat mulai khawatir, kalau-kalau
dia malah jadi yang terakhir sampai nantinya.
“Gak kok” jawabku. “Abi masih di belakang
kayaknya.” Kataku sambil melihat ke jalan di belakang kami, karena yakin tadi
Abi si mujahidah ini masih di belakang. Ternyata benar saja, selang beberapa
saat, munculah seorang Bapak-bapak muda mengenakan celana gunung, baju kaos
lengkap dengan ransel dan kantong plastik menggelayut di tali ranselnya, dia adalah
abinya si gadis cilik di sampingku.
“Abi, kok sendiri bi? Ummi sama adek mana?”
mujahidah cilik bertanya pada abinya.
“Ummi sama adek naik sampan. Tadi kebetulan
ada yang nawarin naik sampan.” Sang Abi menjelaskan.
“Oh, naik sampan ya..” katanya dengan
ekspresi yang bisa dikatakan biasa saja. Datar.
Tak ada kecemburuan ataupun penyesalan. Tidak ada terlihat raut sedih, ataupun pertanyaan-pertanyaan keluhan seperti, kenapa tadi aku duluan ya? Kalau gak duluan pasti bisa naik sampan sama Ummi, gak perlu capek-capek jalan. Lagian kenapa ummi curang sih pake naik sampan segala? Atau raut-raut kecawa lainnya, sama sekali tak ada terlukis sedikitpun di wajahnya. Yang terlihat hanya senyuman kebahagian karena dia mampu melewati perjalanan yang tidak mudah ini. Sungguh, sekali lagi aku belajar. Betapa tidak perlu mempersoalkan nikmat yang didapatkan oleh orang lain, cukup berbahagialah dengan apa yang sudah ada pada diri kita.
Tak ada kecemburuan ataupun penyesalan. Tidak ada terlihat raut sedih, ataupun pertanyaan-pertanyaan keluhan seperti, kenapa tadi aku duluan ya? Kalau gak duluan pasti bisa naik sampan sama Ummi, gak perlu capek-capek jalan. Lagian kenapa ummi curang sih pake naik sampan segala? Atau raut-raut kecawa lainnya, sama sekali tak ada terlukis sedikitpun di wajahnya. Yang terlihat hanya senyuman kebahagian karena dia mampu melewati perjalanan yang tidak mudah ini. Sungguh, sekali lagi aku belajar. Betapa tidak perlu mempersoalkan nikmat yang didapatkan oleh orang lain, cukup berbahagialah dengan apa yang sudah ada pada diri kita.
“Masih mau istirahat, atau lanjut jalan
sama Abi?” Abi sang mujahidah bertanya sambil berjalan-jalan kecil mengatur
nafas.
“Lanjut jalan sama abi ajalah, bi.” Diapun
berdiri dan berjalan mengikuti abinya dan mengambil posisi berdampingan.
Aku berjalan pelan di belakang mereka,
sambil terus memperhatikan gadis cilik berbaju biru di depanku. Mujahidah cilik
mendongak ke atas, melihat ransel dan kantok plastik yang bergelayut di tali
tas ransel sang abi, lalu berkata “Abi berat bawanya, bi? Ada yang mau
dibantu?” tanyanya dengan tulus dan polos pada sang abi.
“Gak, gak apa kok.” Jawab Abi sambil
tersenyum, lalu menggandeng tangan bidadari ciliknya.
| ilustrasi: nyaplok di google |
Dan untuk kesekian kalinya, kembali aku
disadarkan olehnya, si gadis cilik berbaju biru. Ya Allah, betapa di kondisi sulit seperti
inipun, di mana badan terasa lelah, kaki seakan mau patah dan keringat mengalir
deras ke segala arah, dia justru dengan tulus menawarkan bantuan kepada orang
lain. Padahal bisa ku lihat dengan jelas, bahwa beban tas ransel dan kantong
plastik yang disandang sang abi dipunggungnya, sebenarnya tidak terlalu
membebani bagi seorang laki-laki. Tapi, sepertinya rasa kepeduliannya terhadap
orang yang dicintai, membuat ia tak lagi memikirkan itu semua. Yang ia tahu,
perjalanan ini melelahkan, dan pasti abi perlu bantuan.
Sungguh, perjalanan kali ini, aku rasa
bukan sekedar wisata jasadiyah, melainkan juga perjalanan ruhani yang
mengajarkan begitu banyak arti dalam kehidupan. Karena sesungguhnya pelajaran
hidup ini, bisa kita dapat dari siapa saja, termasuk dari seorang anak kecil sekalipun.
Kepadamu Syifa, sang mujahidah, bidadari
cilik berbaju biru. Terima kasih karena tanpa sengaja kau telah mengajari dan
mengingatkanku kembali tentang arti perjuangan, semangat, peduli dan empati. Semoga
kelak, Allah menjadikanmu salah satu pejuang untuk menegakkan islam di bumi
pertiwi. Aamiin.
Wisata Alam ODOJ RIAU.
15 MARET 2015
Langganan:
Postingan (Atom)




