Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prosa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

Dimana kamu?

Hei... Apa itu?
Kenapa kulihat bulir bening di matamu?
Perlahan kulihat ia jatuh.
Berselancar di pipi merahmu.

Rabu, 19 Oktober 2016

Hitam Putih

pic: malam narasi owop
Mataku tertutup.
Bukan, bukan tertutup.
Mungkin lebih tepat sengaja kututup.

Senin, 26 September 2016

1 x 24

Gambar: kabarmuslimah.com 
Hari ini, lebih kurang 1x24 jam sudah,
kau menyandang status sebagai seorang istri.

Istri.
Hanya lima huruf.
I-S-T-R-I.
Lima huruf yang pencapaiannya luar biasa.
Didambakan gelarnya oleh setiap wanita,
melebihi gelar sebagai sarjana.

Sabtu, 24 September 2016

Terima Kasih, Bukan Aku.

Ceritanya tadi pagi, tepatnya ba'da subuh, aku nyempetin diri buat buka youtube.Sebenarnya nggak ada yang penting-penting amat yang harus dicari pagi buta gini, ditambah lagi beberapa kerjaan rumah sudah menanti. Tapi, demi sebuah kalimat, "Sayang, daripada mubazir nggak ke pake (red: kuota malam paket internet masih banyak tapi masa berlaku udah mau habis)," maka jadilah pagi tadi aku men-download beberapa video ceramah Aa Gym. #BukanPencitraan

So, selama lebih kurang satu jam, alhamdulillah ada tiga video yang berhasil aku download. Jadilah pagi tadi, iseng-iseng sambil bersih-bersih rumah, aku putar video yang barusan aku download. Nggak bisa nontonnya sih, tapi yang penting bisa denger suaranya. :D

Menjelang akhir sesi ceramah yang berjudul "Menyikapi Takdir" ada satu hal yang menarik dan sayang kalau aku simpen sendiri.

Jumat, 23 September 2016

Cici Banting Stir (?)

WARNING!
Tulisan ini mengandung curhat dan kata-kata "berbahaya" lainnya. Waspada terjangkit virus kangen tulisan Cici.

*Ini tulisan apa-apaan, awalnya aja udah ada warning menyebalkan. -_-
Hahaha.

Selasa, 30 Agustus 2016

Yang Terbaik

Alhamdulillah... setelah tiga minggu nggak posting, akhirnya hari ini bisa posting lagi. #Senengbanget

Hhmmm.... Ngomong-ngomong, teman-teman pernah dengar atau bahkan sering kan ya... berdo'a atau pun mendo'akan teman kita dengan kalimat kurang lebiih seperti ini,

Jumat, 22 April 2016

Ada Kala

Ada kala, 
saat ingin bercerita,
kau tak tahu tahu memulai dari mana.

Ada kala,
saat ingin menulis, 
tanganmu mendadak kaku, 
seolah terbelenggu, 
dan kata-kata menguap entah ke mana.

Ada kala, 
saat kau ingin pergi, 
namun hati tak ingin lari. 
hanya bisa mengatur rasa, 
agar luka tak semakin parah.

Ada kala, 
saat kau ingin berteriak, 
di tepi pantai, agar suaramu hilang ditelan ombak.

Ada kala, 
saat kau ingin berdua saja. 
Bersama seseorang yang kau cinta, 
bersamanya menghabiskan masa.

Ada kala, 
saat kau memang (benar-benar) kehilangan ide untuk menuangkan kata, 
maka saat itulah hadir tulisan yang saat ini kau baca.

Ada kala, 
saat kau tersadar telah khilaf, 
karena membaca tulisan gaje punya.

Ya. Ada kala.
Ada kala, hingga akhirnya kau ingin menimpuk seseorang yang telah membuat tulisan gaje nan abstrak ini, dengan buku yang sedang kau baca.

*ditumpuk pembaca
*tangkep bukunya

#IniTulisanApa
#GaJe
#ODOP

Kamis, 14 April 2016

Sebuah senyuman

Aku ingin tersenyum. Selalu tersenyum. Bukan karena aku selalu merasa bahagia. Tapi, karena aku ingin bahagia.

Aku tahu, tersenyum di saat hati menangis, itu tidak mudah. Memaksakan agar bibir menarik otot-ototnya ke kiri dan ke kanan, di saat sesungguhnya ia ingin mengkerut saja, itu tak mudah.
Butuh kekuatan hati. Butuh usaha berkali-kali. Bahkan juga, bergolak dengan emosi.

Tapi biarlah. Mungkin ini terasa susah, Namun mencobanya... kurasa juga tak salah.

Karena aku tahu,
Tersenyum memang tidak akan menyelesaikan masalah.
Tapi, dengan tersenyum, semuanya akan terasa lebih mudah.

Maka,
Tersenyumlah :)

-Cici Putri-

Senin, 11 April 2016

MEMULAI

Seberat-beratnya melangkah, lebih berat lagi untuk memulai. Ya. Memulai. Memulai apa saja. Kerja, memasak, menyelesaikan tugas kuliah, menyelesaikan skripsi, menuntaskan tumpukan cucian, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Dan tentunya tak terkecuali menulis.

Butuh tekad dan kemauan yang kuat dari dalam diri sendiri untuk bisa memulainya.
Mulai memikirkan kerisauan-kerisauan di hati lalu menuangkannya dalam tulisan.
Mulai untuk peka lebih peka menangkap ide-ide yang berkeliaran.
Mulai untuk meluangkan waktu untuk benar-benar menulis, bukan sekedar menunggu waktu luang.

Untuk memulai, akan ada banyak alasan memang.
Mulai dari rasa malas, malu, takut, dan sebagainya.

Namun, jika kita tidak pernah memberanikan diri untuk memulai, maka sudah dapat dipastikan kita tidak akan pernah sampai--pada tujuan kita--menjadi penulis.

Karena, bukankah untuk sampai pada tangga sepuluh, kita harus melewati tangga satu, dua, tiga, dan seterusnya? Maka, mulailah naiki anak tanggamu sekarang. Langkahkan kaki, jangan takut.
Karena, tak kan pernah sampai orang yang tak pernah memulai.

Dan untukmu yang sudah memulai langkah, jangan berhenti. Teruskanlah. Karena jika kamu berhenti, maka akan sulit untuk memulai lagi.

Semangat memulai, semangat meneruskan langkah.

Semoga jejak-jejak goresan pena, mengantarkan kita ke Jannah-Nya.

-Cici Putri-
@ciciliaputri09


Senin, 04 April 2016

Sendiri Saja


Akan ada masa
Saat kau ingin sendiri saja
Bersama jam dinding mengeja masa

Menghitung detik-detik yang tlah terlewati
Dalam menapaki perjalanan di muka bumi
atau sekadar mereka kembali mimpi-mimpi.

Akan ada masa,
saat kau ingin sendiri saja,
menikmati senja
Mengumpulkan puing-puing asa,
Yang tlah mulai hilang entah ke mana.

Akan ada masa,
Saat kau ingin sendiri saja.
Menikmati mentari pagi tersenyum manja.
Menerpa wajah,
di bawah sinarnya yang begitu ramah.

Akan ada masa
Saat kau benar-benar ingin sendiri.
Bukan untuk lari.
Hanya ingin merasai
Dan menakar ke dalam diri.
Masih adakah cinta-Nya di hati.

Dan...
Akan ada masa
Akan ada masa
kita
Benar-benar akan sendiri,
Dan mati.


-Cici Putri-

Senin, 28 Maret 2016

Kemarilah

Kemarilah.
Di sinilah aku
Di rumah tak berpintu
Siapapun bisa bertamu
Untuk saling mengenali atau sekedar bertemu.
Tanpa peduli batas dan waktu.


Kemarilah
Selami aksaraku,
Dan kan temukan diriku
Dalam wujud yang mungkin tak sama,
Ini aku yang sebenarnya.

Rabu, 23 Maret 2016

"Pesta" Para Pendo'a

Bersama milyaran rintik air mencumbui bumi, 
ada jiwa yang merindu. 
Entah kapan bisa bertemu.

Bersama nyanyian bulir air di atas genting, 
ada tangis yang tergugu.
Entah kemana hendak mengadu.

Bersama gelegar suara petir.
Ada jiwa kian getir.
Nafsu tlah kalahkan otak tuk pikir.

Bersama hujan.
Ada jiwa-jiwa penuh harapan.
Menadahkan tangan.
Berdo'a pada Sang Maha.

Karena hanya bersama hujan,
para pendo'a bisa berpesta,
meminta apa saja,
penuh harapan.
Agar Tuhan berkenan beri ampunan,
Dan wujudkan berjuta harapan,
Yang tersimpan.


-Cici Putri-
@ciciliaputri09

Kamis, 17 Maret 2016

(Bukan) Hujan

Aku bosan menulis tentang hujan,
membaca kisah tentang hujan,
mendengar mereka mengenang kisah di kala hujan.
Aku bosan.

Kuakui hujan memang menyenangkan.
Karena ia membawa damai dalam jutaan bulir mesra dari langit.
Bersama nyanyian merdu saat ia beradu
dan berkecipak di atas genting.

Namun, bukan hujan yang membuatku bahagia.
Tapi kamu.
Bersamamu, aku tak peduli kemarau ataupun hujan.
Karena bahagiaku ada padamu,
bersamamu.

Hujan mungkin melengkapi,
tapi ia bukan pembahagia sejati.
Karena yang sejati hanya kamu,
Dan aku.
Kawan.


Ilustrasi: Kiriman Nicacaca

Selasa, 15 Maret 2016

(Bukan) Nasehat

Kali ini aku bakal bagiin sebuah lagu buat kalian semua. Sebuah lagu yang bikin aku "cukup kuat" saat dulu mengalami ujian yang cukup menguras pikiran dan jiwa. Ampe rasanya... aku nggak tahu lagi mau ngapain. Nyesek banget. Perang dingin. Pergolakan batin. Tapi... itu semua sekaligus pelajaran berharga banget buat aku, hingga aku akhirnya tahu, bahwa Allah itu emang super duper Amazing. Pokoknya Allah itu love banget deh. Thank you Allah for everything you've done to me.

Dan ini dia lagu yang dulu sering aku putar biar aku tetap tegar dan percaya pada-Nya.

Senin, 14 Maret 2016

Oleh-oleh Ketemu Bang Tere


Ceritanya kemarin habis ikutan bedah buku "Hujan" bareng Bang Tere Liye. Hmm... Udah pada tahu dong siapa itu Bang Tere? Nggak perlu dijelasin lagi kan yak? Kalau masih ada yang belum tahu, silahkan tanya uncle, uncle google. Hehehe.

Sebenarnya sih, aku nggak terlalu akrab ya sama (karya) beliau, tapi karena kepo dan pernah baca satu karyanya "Bidadari-bidadari surga" dan aku juga suka sama quote-quote nya di FB, maka jadilah kemarin itu pas ada novel terbaru "Hujan" langsung beli, terus ikutan bedah bukunya, kebetulan aja sih, karena ada yang ngadain and nggak perlu ke luar kota. #HemmatBeib. Hahaha

Oke, tanpa basa-basi (lagi) langsung aja aku mau kasih oleh-oleh dari acara kemarin. *Lalu bingung mau mulai dari mana* Whahaha.

Jadi ceritanya setelah Bang Tere mengupas sedikit tentang buku-bukunya, terutama novel Hujan, maka tibalah sesi tanya jawab, dan aku udah nyiapin pertanyaan dua hari sebelumnya buat ditanyain ke Bang Tere. Niat banget kan, yak? Hahaha. Dan pertanyaan yang ingin aku tanyakan kebetulan sama dengan pertanyaan titipan dari temen di salah satu komunitas nulis yang aku ikuti. So, mereka pasti nunggu-nunggu jawabannya dong, termasuk kamu. Iya, kamu. :D

Awalnya hampir aja putus asa nggak dapet bagian buat nanya, karena you know lah ya... Yang mau nanya banyak banget, malah yang nanya juga kadang pake mukadimahnya  puaanjang banget. Hahaha. Tapi, emang gitu sih ya, suka nggak sadar kalau udah ketemu idola. Aku kadang gitu juga. *Oops*

Setelah berjuang angkat tangan di setiap sesi--untung nggak sampe angkat kaki, akhirnya aku kebagian jatah buat nanya di sesi terakhir dan menjadi penanya terakhir. Fiyyuh...*Lap keringet*

So, langsung aja aku kasih bocoran jawaban Bang Tere soal gimana cara dapetin endorse/ testimoni dari Bang Tere. Berikut jawabannya:

Kamis, 10 Maret 2016

Luka-Kembali

Hatiku kacau.
Ada jutaan rasa yang entah apa ingin menyeruak berlarian.

Dadaku sesak.
Oksigen dan karbondioksida berdesakan berebut ruang dalam paru-paru.

Rasa ini, entah apa.
Berkecamuk dalam hati dan pikiran. Rasa kecewa, cinta, khawatir, benci, muak, bosan, harap, atau entahlah, aku tak tahu.
Semua rasa seolah bersatu padu, berjibaku ingin membunuhku dari dalam.

Perlahan.
Namun pasti.
Pengkhianatan menghujamkan pukulan tepat di jantungku.
Napasku mulai tak beraturan.

Lalu benci berhasil menggoreskan perih di dinding hati.
Kecewa membubuhkan asam di atasnya.
Perih.
Antibodi tak berfungsi lagi.
Mungkin ia tlah bosan dan muak dengan luka yang sama.

Kalah.
Aku benci kata-kata itu.
Tapi kini, aku benar-benar kalah.
Aku lemah.
Cinta semu tlah memperdayaku, lagi.
Tuhan,
aku ingin,
kembali.

Rabu, 09 Maret 2016

Tentang Persahabatan

Tak ada yang lebih menyenangkan dari persahabatan,
Walau kadang jiwa nelangsa dalam canda,
Sepotong kata maaf,
mampu kembalikan segala.

Senin, 07 Maret 2016

KCM

Ceritanya lagi diminta buat buat tulisan yang intinya menggambarkan alasan "Kenapa menulis". Karena pengen punya judul yang beda--selain sekadar "kenapa saya menulis", maka tercetuslah judul KCM alias Ketika Cici Menulis. Rada mirip judul novelnya Kang Abik, yaa... Emang iya sih. Orang emang terinspirasi dari judul itu, kok. Hehe.

Menurut aku... menulis itu mengekspresikan diri dengan caraku sendiri. Karena ketika menulis, aku bisa jadi siapa aja dan merasakan apa aja, terutama ketika nulis fiksi. Berasa bebas se-bebas-bebasnya. Yaaah... lebih kurang maknanya terselubung dalam tulisanku yang ini nih. Klik di sini.

Menulis itu...