Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Random. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2016

Make (to the) Up

Hmm... Melihat gambar ini, apa yang sedang Anda pikirkan? #PertanyaanKepo #AlaAlaFacebook

Pic from OWOP Group

Kamis, 13 Oktober 2016

Positif Saja


Entah kenapa, seminggu terakhir banyak banget dapat kabar teman-teman lagi pada hamil. Entah itu yang memang sengaja memberi tahu (berbagi kabar bahagia), atau pun yang tanpa sengaja ketika asik chatting, akhirnya memberi tahu bahwa dia sedang hamil. Alhamdulillah, benaran ikut senang. :)

Kenapa? Ya karena aku yakin, sesuatu itu menular, termasuk kehamilan. Hehehe. Entah ini mitos atau tidak, dulu para ibu-ibu komplek--waktu aku masih tinggal di komplek perumahan dan kadang ngumpul sama ibu-ibu--pernah bilang, "Eh, si A hamil ya? Wah, hati-hati nih, biasanya kalau udah hamil satu, nular ke yang lain," celetuk salah seorang ibu.

Minggu, 09 Oktober 2016

Candu

Ceritanya beberapa waktu lalu--bahkan aku udah lupa kapan waktunya--di salah satu grup menulis a.k.a One Week One Paper (OWOP), kita diminta bikin quote tentang dunia tulis menulis. Quote yang terpilih nanti, bakal dibuatin--hmm apa ya namanya--picture? poster? meme? Ah, apa-apalah namanya, yang penting salah satu qoute yang terpilih itu jadinya kayak ini. And this is one of my favorite. FYI, yang buat namanya Depi a.k.a Emib a.k.a Emaknya Ibra. #Julukanakuyangkasih Hahaha. 

Minggu, 02 Oktober 2016

Alasan

Alasan, ya aku akui, saat ini aku tengah beralasan--lebih tepatnya mencari-cari alasan. Mencari-cari alasan untuk tidak setoran tulisan, mulai dari nggak ada ide, writer block, sampai bilang (sok) sibuk. Begini pake bilang pengen nulis buku? *sodorinkacagede

Alasan. Lagi-lagi kita sebagai manusia emang sering banget beralasan. Mulai dari alasan yang masuk akal, sampai alasan yang akal-akalan, semuanya kita cari-cari, biar apa yang kita lakukan mendapat pemakluman. Kayak gini masih ngaku pengen meraih "mimpi"? *sodorin kaca lagi

Alasan. Tak hanya soal cita-cita, impian dan keinginan, alasan juga sering kita kemukan bahkan kepada Tuhan.

Senin, 26 September 2016

1 x 24

Gambar: kabarmuslimah.com 
Hari ini, lebih kurang 1x24 jam sudah,
kau menyandang status sebagai seorang istri.

Istri.
Hanya lima huruf.
I-S-T-R-I.
Lima huruf yang pencapaiannya luar biasa.
Didambakan gelarnya oleh setiap wanita,
melebihi gelar sebagai sarjana.

Sabtu, 24 September 2016

Terima Kasih, Bukan Aku.

Ceritanya tadi pagi, tepatnya ba'da subuh, aku nyempetin diri buat buka youtube.Sebenarnya nggak ada yang penting-penting amat yang harus dicari pagi buta gini, ditambah lagi beberapa kerjaan rumah sudah menanti. Tapi, demi sebuah kalimat, "Sayang, daripada mubazir nggak ke pake (red: kuota malam paket internet masih banyak tapi masa berlaku udah mau habis)," maka jadilah pagi tadi aku men-download beberapa video ceramah Aa Gym. #BukanPencitraan

So, selama lebih kurang satu jam, alhamdulillah ada tiga video yang berhasil aku download. Jadilah pagi tadi, iseng-iseng sambil bersih-bersih rumah, aku putar video yang barusan aku download. Nggak bisa nontonnya sih, tapi yang penting bisa denger suaranya. :D

Menjelang akhir sesi ceramah yang berjudul "Menyikapi Takdir" ada satu hal yang menarik dan sayang kalau aku simpen sendiri.

Jumat, 23 September 2016

Cici Banting Stir (?)

WARNING!
Tulisan ini mengandung curhat dan kata-kata "berbahaya" lainnya. Waspada terjangkit virus kangen tulisan Cici.

*Ini tulisan apa-apaan, awalnya aja udah ada warning menyebalkan. -_-
Hahaha.

Jumat, 05 Agustus 2016

Trik Nitip Doa (Jodoh) ala Cici

Hai reader...! Apa kabar semua? Udah pada baca postingan aku sebelumnya kan, ya? Itu tuh... yang soal jomblo. *Kedip* Bagi yang belum baca, boleh baca dulu kok, biar makin nyambung ama tulisan yang sekarang, walaupun sebenarnya dibaca terpisah juga nggak papah. Tapi, kalau pengen makin deket jodohnya, ya harus baca dua-duanya. Hehe. Klik di sini
Oke, langsung aja. Postingan kali ini juga masih berbau-bau jomblo, jodoh, dan doa. Ya, karena masalah jomblo, jodoh dan kawan-kawannya ini, emang nggak bakal ada habisnya untuk dibahas. Selalu aja jadi topik yang menarik di sana sini, termasuk di kalangan mereka yang udah punya suami/istri. Hihihi.

Jumat, 22 Juli 2016

Menikmati Bully (Jomblo) ala Cici

Yuhuuu... Cici is back. Udah lama banget rasanya nggak update blog, ampe karatan gini. *gosok-gosok, bersihin kerak membandel* Hahaha.

Oh ya, mumpung masih bulan syawal dan suasana lebaran, mohon maaf lahir batin ya teman-teman semua. Taqaballahu minna wa minkum. :)

Ngomong-ngomong, kalau udah suasana lebaran gini, biasanya identik dengan satu kata ya... Hmm... apalagi kalau bukan "Nikahan". Di sana sini, bakal banyak banget bertaburan undangan nikah, terutama di daerah Sumatra Barat. #Berdasarkanpengamatanamatirpenulis

Senin, 13 Juni 2016

Tips Sederhana Biar Kantong Plastik dan Kosmetik Lebih Apik

Yuhuuu... Cici di sini. Kali ini mau bagi-bagi tips sederhana untuk pembaca setia.
Ya... Namanya juga tips sederhana ya... Jadi jangan berharap sesuatu yang luar biasa. Hahaha.

Jadi ceritanya ide ini muncul saat melihat tumpukkan plastik di dalam plastik #IniApaCoba yang kalau lagi butuh, susah nyarinya. Musti diubek-ubek sampe bagian terdalam, dan hal ini tentu saja membuat kantong plastik--bekas yang udah setia kamu kumpulin dan rapiin--menjadi berantakan lagi :(
So, dari pada kejadian ini terus berulang dan terkadang malah  menghabiskan waktu untuk mencari-cari ukuran yang pas #UdahKayakMilihBaju, maka terpikirlah untuk membuat kotak ajaib--yang sebenarnya nggak ajaib-ajaib amat--ini. :D

Minggu, 12 Juni 2016

Orak-arik telur sayur ala Cici

Yuhuu...
Masih ada Cici di sini. Kali ini mau bagi-bagi resep nih. Nggak ada resep spesial sih, soalnya di internet juga banyak bertaburan resep yang mirip, atau mungkin sama. Intinya jangan terlalu banyak berharap dari resep yang bakal aku bagikan. Karena (mungkin) resep ini bakal gaje. Hhahaha.

Nah, ini dia nih masakan yang akhirnya aku buat karena ada tumpukkan sayuran dan telur di kulkas. So, jadilah Orak-arik sayur ala Cici. Langsung aja, cekidot~

Sabtu, 11 Juni 2016

Lapak 1.5 x 0.5 m

Yuhuuu... Cici is back.
Seperti janji kemaren, hari ini In syaa Allah bakal mulai posting-posting cantik lagi. *kibas-kibas jilbab*

Eh, ini judulnya apa banget ya... Sampe ngomongin lapak-lapakan segala. Apa karena di sosmed sekarang pada rame yang buka lapak? *Eh, bukannya kamu juga, Ci?*
Iya, sih. Hahaha. Oke fix. Lupakan. Back to topik.

Jadi gini nih ya... Kadang kita *eh, atau aku aja?* suka ngiri liat orang-orang yang pada punya usaha. Yang usahanya udah gede dan punya cabang di mana-mana. Bisa mempekerjakan orang, bantu orang, buka sekolah gratis, de el el. Duh, pokoknya suka ngiri sih kadang ya... Jadi pengen juga punya lapak kayak mereka.

Tapi, akhir-akhir ini aku jadi berpikir. Hei! Bukankah kita masing-masing sebenarnya sudah diberi lapak oleh Allah? Lapak yang sebenarnya. Lapak yang perniagaannya nggak akan pernah rugi. Lapak yang bakal bisa mewujudkan semua mimpi. Lapak yang bisa kasih kita apa aja. Jangankan penghasilan sembilan, atau sepuluh digit per bulan, bahkan seratus digit sekali pun, bisa diwujudkan. Lapak yang nggak bakal buat kita kecewa. Lapak yang nggak perlu bayar uang sewa. Lapak yang nggak bakal direbut orang. Lapak yang nggak bakal pernah berkurang.

Jumat, 10 Juni 2016

Tulisan Nggak Penting

Aaaakkk... Udah lebih dari sebulan ini blog nggak disentuh. huuuff... *tiupin debu*
Emang gini banget ya rasanya kalau udah lama nggak nulis. Rasanya tu... K.A.K.U. Serius KAKU bener deh. Nggak tahu rasanya mau mulai dari mana, mau mulai dari "a" atau dari "si dia" #eh

Intinya tuh ya... Emang bener banget, sesuatu itu harus terus dilatih dan dibiasakan, kalau nggak... Hmm... Ya gini deh, mau mulai aja rasanya susaaaaahhhh... banget. Maka jadilah ujung-ujungnya "curhat". Eh, betewe makasi loh ya... udah ngeklik tulisan ini yang isinya cuma curhatan galau cici yang udah lama nggak nulis. Hahaha. *ditimpuk*

Etapi, tenang aja, nggak usah buru-buru close dulu. Karena, sebentar lagi kamu akan tahu sesuatu. Ya sesuatu. Sesuatu yang selama ini aku rahasiakan. Seseuatu yang banyak membuat orang penasaran.

Dan...

Sesuatu itu adalah...

Bahwa...

Sebenarnya...

Aku

Nggak

Punya






Rahasia apa-apa yang mau ditulis di sini. Hahahaha. *digorok pembaca*

Udah ah... gini aja dulu, sebagai pemansan untuk jari-jari yang udah mulai kaku dan aksara yang telah membeku.

Jangan kapok pantengin blog aku ya... In syaa Allah bsok bakal ada postingan baru untuk kamu. So, keep stay tune guys. 

Oh ya, yang belum follow blog ini, boleh kok difollow. Hehe. :D

Jumat, 29 April 2016

Khawatir

Dalam menjalani hidup ini, terkadang kita sering merasa khawatir dan takut. Khawatir kerjaan tidak beres, lalu dimarahi bos. Khawatir saat telat bayar SPP lalu alpa study. Khawatir tidak dapat jodoh. Khawatir tidak ada uang untuk makan. Khawatir ini dan itu. Bahkan, tidak jarang kekhawatiran itu hanya sekedar kekhawatiran saja, dan masih praduka belaka. Tidak ada korelasi, bahkan bukti sama sekali jika itu benar-benar akan terjadi. Ah, kita memang terkadang terlalu khawatir.

Kamis, 28 April 2016

Dear Mantan (?)

Akhir-akhir ini lagi marak banget para pengguna sosial media yang bikin meme atau ngedit picture atau sejenisnya pakai tagline "Dear Mantan" yang ditambah dengan kalimat "Maafkan aku yang dulu". Hhmmmm... Nggak perlu disebutin lah ya, contohnya yang kayak gimanaaa... tinggal buka aja tuh beranda Facebook masing-masing, bakal langsung bertebaran meme yang dimaksud. Atau bagi kamu yang nggak nemu meme yang aku maksud--karena mungkin teman FB nya anak baik semua--bisa tanya sama uncle google, tinggal ketik aja "Meme Dear Mantan", dalam sepersekian detik--kalau internet kamu lancar tentunya--bakal muncul berbagai gaya "Meme Dear Mantan".

Oke, aku nggak bakal bahas lebih lanjut tentang "Meme Dear Mantan" yang kadang bikin miris ini. Syukurlah meme yang menggambarkan betapa sebenarnya yang buat meme kayak gini masih ada rasa "ngarep" ama mantannya, pengen balikan. Atau minimal, dia pengen bilang, "Nyesel kan ninggalin gue kemaren? Liat gue yang sekarang. Gigit jari, gigit jari deh lo." Yaaah... mungkin lebih kurang gitu kali ya, yang ingin disampaikan dari meme "Dear Mantan" ini. Sungguh miris. Pamer diri yang sekarang, hanya untuk "balas dendam". Fiyuuuh *lap keringet*

Rabu, 13 April 2016

BC BC Gemez

Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu udah "gatel" pengen nulis ini. Eh, apa malah dari tahun lalu ya? Ah, pokoknya udah lama sih sebenarnya kerisauan ini ingin ditulis dan disampaikan. Bukan untuk "Sok mengajari" apa lagi "menggurui". Bukan karena merasa "Paling benar" ataupun "cari tenar". Bukan, bukan karena semua itu atau pun alasan yang sejenis dengan itu. Semoga Allah menjauhkannya dariku.

Oke, sekarang langsung aja. Jadi, ceritanya beberapa hari kemarin lagi marak banget BeCa BeCe (baca: Broadcast) tentang bulan Rajab. Yang pada kebagian BC seperti ini pasti udah ngerti dong ya... BC yang dimaksud yang seperti apa. Bagi yang belum tahu, baiklah, akan aku kasih tahu. Ini dia BC-nya. (Rencana mau discreenshoot, tapi kepanjangan. Jadi dicopas aja.)

Senin, 11 April 2016

MEMULAI

Seberat-beratnya melangkah, lebih berat lagi untuk memulai. Ya. Memulai. Memulai apa saja. Kerja, memasak, menyelesaikan tugas kuliah, menyelesaikan skripsi, menuntaskan tumpukan cucian, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Dan tentunya tak terkecuali menulis.

Butuh tekad dan kemauan yang kuat dari dalam diri sendiri untuk bisa memulainya.
Mulai memikirkan kerisauan-kerisauan di hati lalu menuangkannya dalam tulisan.
Mulai untuk peka lebih peka menangkap ide-ide yang berkeliaran.
Mulai untuk meluangkan waktu untuk benar-benar menulis, bukan sekedar menunggu waktu luang.

Untuk memulai, akan ada banyak alasan memang.
Mulai dari rasa malas, malu, takut, dan sebagainya.

Namun, jika kita tidak pernah memberanikan diri untuk memulai, maka sudah dapat dipastikan kita tidak akan pernah sampai--pada tujuan kita--menjadi penulis.

Karena, bukankah untuk sampai pada tangga sepuluh, kita harus melewati tangga satu, dua, tiga, dan seterusnya? Maka, mulailah naiki anak tanggamu sekarang. Langkahkan kaki, jangan takut.
Karena, tak kan pernah sampai orang yang tak pernah memulai.

Dan untukmu yang sudah memulai langkah, jangan berhenti. Teruskanlah. Karena jika kamu berhenti, maka akan sulit untuk memulai lagi.

Semangat memulai, semangat meneruskan langkah.

Semoga jejak-jejak goresan pena, mengantarkan kita ke Jannah-Nya.

-Cici Putri-
@ciciliaputri09


Jumat, 01 April 2016

G.A.L.A.U

Galau.
Ini kata sebenernya berasal dari mana, sih? Kenapa dia sering banget menghampiri? Menghampiri para jomblo yang masih sendiri. *Lah, emang ada jomblo yang nggak sendiri?* Hahahaha. Oke abaikan.

Galau.
Galau seorang yang katanya penulis itu, biasanya ketika nggak ada ide, dan ketika ada ide terus bingung mulai dari mana. Nggak tahu deh ini bener apa nggak. Soalnya aku sendiri masih merasa belum jadi penulis, karena bisanya cuma corat-coret yang berakhir tragis. Hiks.

Galau.
Katanya anak intuiting itu susah move on, makanya gampang galau. Tapi, entah kenapa justru yang aku rasain sekarang beda. Galau bukan karena nggak bisa move on, tapi justru karena terlalu mudah untuk move on. Move dari satu ide ke ide lainnya. Belum selesai satu pengen yang lain, loncat sana loncat sini sesuka hati. Untung hati sendiri, bukan hati orang lain. Kalau hati orang lain kan bisa kacau. *Cici, ngomong apa sih? Pliizz fokus* Oke. Ini udah mulai ngelantur. Maafkan saiah pemirsah.

Galau.
Serius deh. Ini beneran lagi galau karena ide udah berjejer, tapi nggak ada yang beres satupun. Mau buat tulisan buat ikutan Give Away-nya Bang Syaiha juga nggak jadi-jadi, padahal deadline tinggal satu hari. Hiks :'(

Galau.
Berkaitan dengan move on, dan kini aku sadar, terlalu mudah untuk move on tidak baik untuk kesehatan tulisan. Karena tulisan hanya butuh kesetiaan, bukan ide yang berjejal tanpa ada kaitan.

Galau.
Makasi sih, udah mau baca tulisan galau super gaje ini. Dan sebelum ditutup (dikira lagi nge-MC), aku cuma mau bilang. Makasi buat Bang Syaiha dan temen-temen ODOP yang udah berhasil bikin aku "galau" tiap hari.

Salam Galau.

Oh ya, buat Gilang... Selamat kamu udah berhasil buat aku pengen cakar-cakar tembok (iri) karena presensi setoranmu selalu nangkring nomor satu. Dan aku entah kapan bisa begitu. Hiks :'(
Eh, eniwei kamu nggak tidur, ya? Ampe (nyaris) tiap hari selalu setoran jan 00.01 WIB?
Hmmm... Baiklah, dari pada ini semakin galau, gaje dan nggak penting, (sekali lagi) mari kita akhiri.

Salam Galau (Lagi)


#UdahGituAja
#MaafUdahBikinKeselKarenaBacaTulisanGaje

Kamis, 31 Maret 2016

Mati Lampu yang (Tak) Dirindu


Saat menyebalkan itu adalah ketika tugas menumpuk untuk segera dikerjakan, lalu mendadak mati lampu. Atau saat kamu kelaparan dan berniat untuk memasak mie rebus yang tinggal sebungkus, pakai magic com mini--karena nggak punya kompor #anakkos, lalu mati lampu. Cek dompet uang tinggal seribu. Oh sungguh tragis. Sabar ya qaqa. Hehehe

Oke. Apapun itu, mati lampu adalah keadaan yang hampir tak pernah ditunggu oleh siapapun. Kalau pun ada yang menanti atau berbahagia dengan datangnya momen mati lampu ini, aku rasa dia adalah penjual lilin. Atau mereka adalah pasangan yang ingin terlihat romantis (Baca: pengen Candle light dinner) dengan modal tipis. :D 

Tapi entah kenapa, walaupun aku termasuk kategori orang kebanyakan--yang tidak merindui hadirnya mati lampu, namun akhir-akhir ini, aku merasa mati lampu adalah momen yang "membahagiakan" bagiku, bahkan aku tunggu-tunggu. Wow. Sebegitu berartinya kah mati lampu hingga harus aku tunggu? *Udah kayak jodoh* #eh

Hmm... sejujurnya bukan mati lampunya yang spesial, tapi karena dengan mati lampu aku bisa melakukakan hal spesial. Yap, apalagi kalau bukan menulis, menyelesaikan deadline dan komitmen yang sudah aku buat, untuk menulis tiap hari--walau tak jarang rasa malas menghampiri. Hihihi.

*Ya ampun... Si Cici, mau nulis malah nunggu mati lampu. Emang nggak gelap apa?*

Hahaha. Jadi, mati lampu yang (terkadang) aku rindukan di sini adalah mati lampu saat di kantor. Karena saat mati lampu inilah aku punya kesempatan untuk menulis. Saat mati lampu nggak ada kerjaan kantor yang bisa dikerjakan, karena semua kerjaan kantor rata-rata mengandalkan komputer yang tentunya butuh listrik. So, momen ini tentunya tidak aku sia-siakan begitu saja. Maka dengan cekatan aku pun memainkan duo jempol di ponsel pintarku. Menuangkan ide--yang entah apa--ke dalam sebuah aplikasi note, yang kemudian akan aku pindahkan (Baca: Copy paste) ke blog nantinya.

So, ketika hati dan tangan ini sudah gatel pengen nulis, tapi di kantor banyak kerjaan, maka mati lampu menjadi momen yang dirindu. #SemogaPakBosNggakBacaPostinganIni. 

Hmm... Mati lampu. Sebenarnya banyak lagi sih ya, yang pengen aku sampein soal mati lampu ini. Tapi kerjaan juga udah nunggu. Sekian dulu deh.

Sssstt... terakhir. Yang pengan aku sampein. Apapun kondisi yang kita hadapi, jangan mengeluh. Hadapi aja. Just enjoy it. Seperti mati lampu yang terkadang (tak) dirindu. :D

#HappyWriting
#OneDayOnePost

Jumat, 25 Maret 2016

Kulkas, ada?

Setelah kemarin nulis tentang hati yang suka ngedumel dengan yang itu-itu aja, kali ini mau bahas yang berkaitan dengan kajian (lagi).

Hmmm... Jadi ceritanya--entah kenapa--tiba-tiba teringat waktu dulu pernah ikut kajian. Waktu itu bahas tentang apa ya... lupa. Hehehe. Tapi intinya sih, waktu itu Pak Ustadz bertanya sama jama'ahnya (baca:peserta kajian), "Jadi, berapa orang di sini yang sudah ada buku tafsir di rumahnya?"

Dan seketika hening. Peserta kajian saling pandang--sambil menunduk-nunduk tentunya. Karena tak satupun ternyata yang mengangkat tangan untuk menyatakan bahwa dirinya punya buku tafsir di rumah.

Pak ustadz menarik napas, dan melanjutkan pertanyaan, "Kalau kitab fiqih? Siapa yang punya kitab fiqih di rumahnya?" Kembali peserta menunduk dan saling pandang. Pak ustadz menarik napas--lagi.

"Oke. Kalau pertanyaanya saya ganti. Kalau yang ini saya yakin rata-rata pasti angkat tangan dan menjawab ada. Siapa yang di rumahnya ada kulkas?"

Deg. Peserta langsung terdiam--beribu-ribu bahasa. Tertohok dengan pertanyaan yang diajukan. Mereka--termasuk aku, tentunya mulai mengerti ke mana arah pertanyaan dari sang ustadz.

"Ada kan, Bu?" Peserta mesam mesem, cengengesan.
"Kalau tv? Handhpone? Pasti juga ada kan, Bu?" Peserta makin tertohok.
"Kira-kita mahalan mana kulkas sama kitab tafsir, Bu?" Peserta terkunci mulutnya. Merasa tertampar jiwanya.
"Jadi, Bu. Bisa atau tidaknya kita membeli sesuatu, sebenarnya bukan faktor mahal atau tidaknya. Tapi apakah kita mau dan merasa butuh atau tidak. Itu saja. Jika kita merasa lebih butuh kulkas dari kitab tafsir Qur'an dan kitab fiqih, tentu kita akan memprioritaskan kulkas dari kitab-kitab itu. Begitu juga sebaliknya, jika kita merasa kitab tafsir dan fiqih lebih kita butuhkan dalam hidup kita sebagai pedoman dan pencas ruhiyah kita, sebagai jalan kita memahami kalam-kalam-Nya, tentu kita akan prioritaskan membelinya dari pada kulkas, tv, AC, dan lain sebagainya."

Pak ustadz menarik napas sejenak, menatap para peserta kajian. Sepertinya sang ustadz mengerti, bahwa para peserta sedang tertampar jiwanya, maka sang ustadz melanjutkan, "Tidak masalah jika sekarang memang belum ada dan belum merasa butuh, tapi saya akan do'akan, semoga kita semua di sini, termasuk orang-orang yang bisa memilah dan memilih dengan baik, mana yang lebih prioritas dalam kehidupan dunia dan akhiratnya." Pak Ustadz pun tersenyum. Peserta terlihat sedikit lega, termasuk aku.

Dan mulai saat itu, aku sudah mulai bertekad, suatu saat nanti, aku akan beli kitab tafsir dan fiqih. Dan saat tulisan ini dibuat, alhamdulillah...Allah izinkan aku sudah memiliki salah satunya, kitab fiqih. :)

#SemogaNggakSekedarJadiPajangan