Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Maret 2017

PENUH



"Bang, liat deh... Cantik, kan?" Aku memamerkan gamis yang tadi siang aku beli. 

"Iya, cantik." Suamiku memuji--entah hanya ingin aku terlihat senang. 

"Ini mau adek pakai besok ke acara walimahnya temen adek, Dini." Aku menjelaskan, walau ia tak bertanya. "Ya udah, adek simpan dulu di lema..." Tiba-tiba aku terdiam, setelah membuka lemari pakaian kami.

"Kenapa? Kok nggak jadi disimpen di lemari?" tanyanya polos.

"Gimana mau disimpen di lemari. Ini lemarinya udah penuh semua." Aku manyun. 

"Masa, sih?" Dengan mimik wajah sok polosnya, ia melongok ke lemari. Aku masih memasang wajah cemberut.
Entah kenapa, aku memang merasa kami pasangan yang aneh. Di saat pada umumnya pasangan suami istri lain lemari pakaian mereka dipenuhi pakaian istri lebih dari separuhnya, tapi tidak dengan kami. Lemari pakaian yang ada di kamar kami saat ini justru didominasi oleh pakaian suamiku, nyaris 90%. Aku serius. Ini bukan hoax. 

"Hehehe... Adek sabar ya, itu diatur aja baju-bajunya biar muat." Dia mengelus kepalaku dengan tampang sok imut dan tak bersalah. 

"Adek heran deh. Kenapa ya, di rumah ini semua ruangan kayaknya penuh sama barang-barang abang? Nggak di lemari, nggak di ruang depan, semuanya barang-barang keperluan abang. Sampe isi kulkas pun, yang biasanya didominasi keperluan dapur, juga penuh sama makanan dan cemilan abang yang bejibun. Kayaknya nggak ada lagi tuh space untuk adek." Kali ini aku benar-benar kesal. Cemberut. 

"Eeeh... Siapa bilang di rumah ini semua ruang dipenuhi sama abang? Adek lupa, ya? Ada kok satu ruang yang isinya adek semua."

Aku mengernyit. Masa, sih? Ruang apa?

Seolah bisa membaca kerutan dahiku, ia berujar, "Ruang yang semuanya dipenuhi adek itu... Ruang hati abang."

#%&*@*¥*#

-Cici Putri-

Rabu, 01 Maret 2017

Andilau

Huaaa... Setelah tiga bulan blog tak tersentuh, akhirnya hari ini bisa posting lagi itu rasanya... Ah, tak bisa diungkapan dengan kata-kata. #Terharu

Baiklah, kali ini mari awali postingan di blog ini dengan melanjutkan kisah dari anak-anak OWOP yang kece-kece. Cerita ini bergenre family-romance-comedy, berlatar anak muda dan keluarga betawi. Langsung aja, ini dia... *Semoga aku nggak merusak cerita* wakakaka.

Cerita sebelumnya:

1. Balada Cinta Udin dan Lela
2. Balada Cinta Udin dan Lela 2
3. Beras, Cabai, dan Selingkuh
4. Cinta ditolak
5. Luka yang Membawa Harapan
6. Hari terakhir ngojek
7. Titik Terang

Dan, inilah episode 8

Rabu, 20 April 2016

Ketika Yetno Jatuh Tresno

Yetno menghempaskan badannya ke atas kasur kamar kosan. Jadwal kuliah dan beberapa agendanya hari ini cukup menguras tenaga dan pikiran. Terlebih lagi, Pak Jaka, dosen mata kuliah Hukum Pernikahan, memberikan tugas kelompok yang membuat seisi kelas kompak berekspresi "Yaaaah..." dengan muka lemas. Ya, karena tugas kelompok yang diberikan memang sulit dan payah, terlebih bagi Yetno. Bukan, bukan karena Yetno mahasiswa yang kurang cerdas dalam memahami materi, tapi yang membuat kondisi sulit bagi Yetno, karena ia harus sekelompok dengan Anggi, perempuan yang tak jarang membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ya, Yetno menyukai Anggi, teman sekelasnya sejak awal pertemuan mereka di semester 3. Anggi adalah mahasiswi pindahan dari Universitas lain.

"Assalamu'alaikum. Maaf, ruang akademik sebelah mana, ya?" tanya seorang gadis berparas ayu dengan balutan gamis dan jilbab unggu.

Selasa, 12 April 2016

Putri Kentang (Part 2-End)

Putri Kentang part 1, baca di sini

***
Tong sampah yang tak teralu besar di sudut kamar penuh dengan bola-bola kertas berbentuk sembarang. Bukan bola sebenarnya, mungkin lebih tepat jika menyebutnya gumpalan kertas yang diremek-remek, ini entah sudah kertas yang keberapa, dan nyaris, jika aku tak bisa mengendalikan diri, habis sudah satu rim kertas HVS, hanya untuk menulis sebuah surat, surat untuk Pini.

'Tuhaaan... Kenapa sesulit ini???' Aku meremas-remas kepalaku yang plontos.

Menulis surat. Ya, mungkin terlihat aneh dan kuno untuk zaman serba canggih seperti sekarang. Tapi, apalah dayaku, ponsel pintarku seakan tak ada gunanya bila aku berhadapan dengan Pini. Bukan karena aku menjadi gagu ketika hendak menghubunginya--walaupun sebenarnya itu salah satu alasannya--tapi, alasan utamanya adalah karena Pini tidak punya ponsel pintar. Jangankan ponsel pintar, ponsel yang tak pintar pun dia tak punya. Karena seperti kalian tahu, Pini hanyalah gadis dari keluarga sederhana, gadis penjual kentang. Namun, kesederhanaan--dan paras ayu--yang dimilikinya inilah, yang membuatku jatuh cinta.

Selasa, 05 April 2016

Putri Kentang

Aku tak tahu pasti sejak kapan aku punya kebiasaan seperti ini. Duduk menunggu seseorang tiap sore di teras rumah. Seseorang yang mungkin bagi kebanyakan orang, tidak begitu penting.  Ya, bisa jadi, karena dia memang bukan orang penting seperti para pejabat ataupun artis ibu kota. Namun bagiku, dia teramat penting. Karena dengan memandanginya di setiap sore, membawa gairah tersendiri bagiku, bagi masa depanku tentunya. 

Memperhatikan caranya tersenyum dengan semua orang, membuat hatiku berdesir, apatah lagi saat dia benar-benar menyambutku dengan senyumnya, hatiku meleleh. Ingin langsung kutemui ayahnya, dan mengajaknya ke kantor KUA. Dia gadis bermata bulat, dengan hitung mancung dan bibir merah munggil. Kulitnya tidak terlalu putih memang, namun bersih. Kelihatan sekali dia adalah gadis yang pandai merawat diri. Ah sungguh istri idaman para suami. Kerudung sederhana, yang menjulur ke dada, tidak terlalu panjang memang, tapi cukup menambah anggun penampilan dan pancaran kecantikkannya.

Rabu, 30 Maret 2016

Jodoh dikejar Deadline

"Aaaakkk... Ini kenapa, sih? Kenapa harus ada deadline-deadline-an gini?" Aku mengacak-acak rambut, mendengus sebal, manyun. Entah kenapa setiap kali aku kesal atau bingung, reflek reaksiku selalu begini--membuat gerakan yang akan disambut oleh komentar sahabatku, Rina.

"Kamu kenapa lagi sih, Dar? Itu rambut yang tadinya lurus, bisa jadi keriting loh, gara-gara kamu acak-acak gitu terus." Kalimat standar yang selalu diucapkan Rina setiap kali melihat reaksiku yang seperti ini. Tapi kali ini ada yang berbeda, karena otomatic reply-nya itu tidak disertai dengan ekspresi datar atau sebal. Justru kini dia memasang wajah menahan tawa.

"Ini nih, mamaku, kenapa coba pake nyuruh-nyuruh anaknya cepetan nikah? Pake dikasih deadline lagi! Udah kayak tugas kuliah aja tauuk, pake deadline segala." Aku mendengus sebal. Rina malah tertawa, nyaris menyemburkan kuah bakso yang baru saja masuk ke mulutnya.

"Udah aku duga. Haha."

"Maksud kamu?" Aku mendelik.

Selasa, 29 Maret 2016

Sandal Toska

"Jadi sandal kesayangan lo yang hilang kemaren udah ketemu?" tanya Pini yang baru saja pulang dari mengajar private malam ini. Sepertinya dia penasaran, setelah tadi aku memberi kabar bahwa sandal kesayanganku yang hilang beberapa minggu lalu, tiba-tiba ditemukan.

"Iya, gue nemu di balik pintu toilet kampus," jawabku datar.

"Terus, kenapa wajah lo sedih gitu? Bukannya lo seneng sandal lo udah ketemu?" Pini mengambil posisi duduk di sampingku, di atas tempat tidur, sembari melemaskan otot-otot kakinya.

"Ada yang aneh sama sandal gue," kataku sembari menerawang kondisi sandal kesayangan yang kutemukan.

Kamis, 03 Maret 2016

Lara

Panggil aku Lara. Aku gadis berusia 23 tahun. Seperti namaku, kisah cintaku juga melara. Karena aku hanya bisa bermimpi tentang cinta. Cinta yang entah kapan akan bersambut.

Ya. Mungkin aku tidak tahu diri, jatuh cinta pada Leo, lelaki super terkenal bak boy band di kampusku. Tidak hanya tampan, Leo juga lelaki yang ramah dan baik hati. Aku kenal betul dengannya, karena rumah kami berdekatan. Sejak dulu kami susah bertetangga. Tapi entah kenapa,

Kamis, 28 Januari 2016

Bayang-bayang Marni

Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper), temanya STORY BLOG TOUR, setiap  member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Aku Cici mendapatkan giliran untuk membuat episode lima dalam serial STORY BLOG TOUR ini.
Cerita sebelumnya
2. Lisma : Sepenggal Harap
Dan inilah episode lima. Cekidot~
 ***
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Itulah pepatah yang tepat untuk menggambarkan kondisi Kardi saat ini. Kecelakaan itu membuatnya harus dirawat berbulan-bulan di Rumah Sakit.

Rabu, 27 Januari 2016

Cakrawala

"Uh! Sebel. Sebeeeeeeeell!!! Kenapa sih, mereka itu pada rese banget? Ngata-ngatain aku mulu bisanya. Iiiihhh... Pengen aku cabik-cabik tuh orang." 

"Eh... eh... Anak mama kenapa ini? Pulang-pulang kok malah cemberut? Terus ngomel-ngomel nggak jelas. Ntar cepet tua loh," goda mama yang mendapatiku ngedumel pulang sekolah, masih lengkap dengan seragam putih biru, bahkan sepatu yang belum dilepas.  

"Iiih... Mama. Orang lagi kesel juga. Malah digodain." Aku memasang wajah cemberut dan pura-pura memalingkan muka dari mama.

"Hehe... Lagian kamu, nggak biasanya pulang sekolah cemberut kayak gini? Ada apa? Cerita dong sama mama," pinta mama seraya duduk dan merangkul pundakku. Ah, mama. Sentuhannya selalu berhasil membuatku nyaman.  

"Itu loh ma...

Selasa, 26 Januari 2016

Lampu Persegi Enam

"Beli. Enggak. Beli. Enggak. Beli. Enggak." Aku mengatupkan jemari satu per satu. Menghitung, mencoba megambil keputusan.

"Maaf Bu, jadi beli tiketnya?"

Ngek. Ibu?

Selasa, 19 Januari 2016

Chatting Rese-Resolusi Part 3

Hai hai... Yang udah pada nggak sabar mau intip lagi chatting-an Tommy dan Bagas, langsung aja. Cekidot~
Masih dari handphone yang sama, handphone Bagas.
Buat yang ketinggalan cerita sebelumnya, bisa baca di sini.

***
04 JANUARI 2016


Tom, gue barusan dapet tulisan bagus nih. Lo baca deh. 12.12
Tulisan apa tuh? 12.13
Punya siapa? 12.13
Anak2 di grup kita?

Minggu, 10 Januari 2016

Misteri Sebuah Kunci dan Sesosok Bayangan

Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper), temanya STORY BLOG TOUR. Di mana member lain yang sudah diberi urutan absen melanjutkan sesuai imajinasinya di blog pribadinya.
Aku Cici mendapatkan giliran untuk membuat episode ketiga dalam serial story blog tour ini.




Dan inilah episode ketiga. Cekidot~

Kamis, 07 Januari 2016

Chatting Rese-Resolusi part 1


Di sebuah chat room Whatsapp Bagas dan Tommy. Chat room Bagas.

27 DESEMBER 2015

Woi Cuy! Banggguuuuuuuuunnn! 07.45

Gak pake tereak juga kallliii... 07.45
Gue udah bangun dari tadi. Emang kayak lo. Jam segini baru bangun, heh? 07.45


Wkakakkka. Tau aja lo. 07.46
Eh, gimana resolusi lo? Udah akhir tahun nih. Belum ada tanda-tandanya gue liat. Wkakaka. 07.46

Berisik! 07.46
BHAHAHAHAHA *devil laugh* 07.47
Makanya cuy, jangan kaku banget lo sama cewek.07.47
Kalau gitu mulu, ya gak bakal kawin-kawin lo. 07.47

Kayak lo udah kawin aja. Pake ngajarin gue

Chatting Rese-Resolusi part 2

Yuhuuu... Buat kamu yang udah nungguin and nggak sabaran mau ngintip chattingan-nya Tomy sama Bagas, langsung aja Guys. Cekidot ~
Eits, buat yang belum baca episode sebelumnya, bisa baca di sini.


01 JANUARI 2016

Happpyyyy New Year, Broooo... 00.01
Buat resolusi apa lagi tahun ini? 00.02
Resolusi nikah, ya? *oopss 00.02

Lo begadang ya tadi malam? 05.14
Sama Gita?

Jumat, 18 Desember 2015

Kamu--Aku

Kala itu kita masih sama. Sama-sama berseragam putih biru. Mereka bilang kita sahabat. Tapi entahlah, apakah ini bisa dikatakan persahabatan?

Kita selalu bersama. Nyaris setiap hari. Walau kita tak sebaya, karena kamu dua tahun lebih dua dariku, tapi entah kenapa kita selalu bisa membahas topik yang sama bersama. Bahkan, sesuatu yang tadinya biasa saja, terasa begitu menyenangkan jika aku membahasnya denganmu. Begitupun denganmu, kamu terlihat begitu antusias di dekatku. Entah itu benar atau tidak, tapi begitulah yang aku rasakan. Dan mereka yang melihat kita, juga sepakat dengan hal itu. Kita begitu dekat.

Mereka bilang kita pacaran. Kamu diam-diam memendam rasa padaku. Hah? Benarkah? Aku tak percaya. Bagaimana mungkin seseorang yang hampir setiap hari menjadi tempat curhat, adalah orang yang disukainya. Ini bukan dunia sinetron, kan? Bahkan, tentang pacar yang sering kamu ceritakan itu, bukan hanya satu. Tapi lebih. Ya, kamu adalah playboy, begitu kata mereka. Dan sepertinya kali ini aku sepakat dengan apa yang mereka katakan. Kamu playboy.

Bagaimana tidak, sekali punya pacar kamu bisa punya dua, tiga, bahkan empat sekaligus. Oh tunggu, bahkan jika aku tak salah, waktu itu kamu pernah punya lima. Ckckckck. Sungguh kelakuanmu terkadang membuatku geleng-geleng kepala. Apakah sebegitu tampannya dirimu? Sehingga dengan mudahnya kamu tebar pesona kemanapun kamu suka? Mendapatkan gadis-gadis yang kamu mau.

Sering aku berkata, "Sudahlah... hentikan saja semua kelakuanmu ini. Setialah pada satu gadis saja. Nanti kamu kena batunya." 

Bukannya merasa bersalah dan merenungi kata-kataku, kamu justru dengan santai menjawab, "Bukan aku yang ngejar-ngejar dan mau sama mereka, tapi mereka yang ngejar-ngejar aku. Lalu aku bisa apa?" katamu dengan raut wajah sok tampan. Lihatlah, betapa percaya dirinya kamu. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa berekspresi -,-, dan kamupun terpingkal. Merasa menang.

Terkadang ada yang membuatku lagi-lagi tak habis pikir. Saat kamu ketahuan selingkuh oleh salah satu pacarmu, kamu dengan mudahnya mengaku. Dan setelah kamu mengakui semuanya, masih saja ada di antara mereka yang dengan rela tetap mempertahankanmu, sebagai pacarnya.  "Oh ladies, please open your eyes. He is playboy!" Batinku menjerit. Tak terima ada kalangan hawa yang begitu mudah dibutakan oleh cinta, hingga dengan rela diduakan cintanya."Hey boy, kamu pake pelet apa, sih?"

Lagi dan lagi, ini tentang pacarmu. Bukan. Bukan pacar, mungkin lebih tepat pacar-pacar. Karena gadis yang kamu ceritakan bukan hanya satu. Dan entah kenapa, mereka yang selalu menjadi pacar-pacarmu itu, selalu saja teman-temanku, dan mereka yang kukenal. Apakah kamu sengaja melakukannya? Sengaja ingin membuatku cemburu?

Hey! Tunggu dulu. Cemburu? Kenapa kamu ingin aku cemburu? Dan kenapa aku harus cemburu? Tidak ada kata cemburu dalam kamusku--untukmu. Ya. Sekali lagi aku katakan, TI-DAK-A-DA. Tidak ada kata cemburu, hingga seseorang tanpa sadar, telah lancang mengubah isi kamusku. Cemburu. Kini kata itu ada di dalamnya. Aku jatuh cinta--padamu.

Aku benci dengan rasa ini. Kenapa aku bisa jatuh hati? Pada seseorang yang sudah jelas-jelas sering mendua. Tak setia. Bahkan mungkin tak punya rasa--sama sekali. Apa ini karena kita selalu bersama? Berjumpa setiap hari? Berbagi cerita, tertawa, bermain, dan terkadang melakukan hal-hal konyol bersama.

Hari itu, kita berkejaran keliling masjid. Saat yang lain sedang berusaha untuk khusyuk melaksanaan shalat. Sedangkan kita, tanpa merasa berdosa, tetap saja berkejaran, hanya untuk saling membalas. Melempar air. Bajuku dan bajumu basah sudah.

Malam itu, selepas maghrib, karena peristiwa kejar-kejaran itu, kita disidang oleh guru ngaji. Untunglah kita tidak kena hukuman. Hanya sampai pada peringatan. Dan semenjak kejadian itu, kamu tentu tahu, gosip semakin menjalar kemana-kemana. Bahkan, guru ngaji kitapun beranggapan bahwa di antara kita ada rasa. Tapi sekali lagi, sebagaimana kita menanggapi pernyataan yang sama dari mereka sebelum-sebelumnya, dengan "tegas" kita sama-sama menolak. Sama-sama berkata, "Kami hanya sahabat."

Kejadian itulah yang akhirnya berhasil merevisi kamusku. Menambahkan kata "Cinta" dan "Cemburu" di dalamnya--khusus untukmu. Ah cinta. Kini aku baru tahu alasannya, kenapa mereka rela melakukan apa saja demi cinta. Mereka, mungkin sama denganku--bodoh. Merelakan pintu terbuka, sehingga "pencuri" yang sudah ahli sepertimu mudah untuk masuk, menyusup ke kamar hati.

Cinta. Sepertinya ini rasaku yang pertama. Tapi, benarkah ini cinta?
Ah. Terlalu cepat jika aku berkesimpulan seperti itu. Bahkan kita masih sama-sama
berseragam putih biru.


***
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan dari salah seorang teman. Tantangan nulis tentang "Cinta Pertama". 

PERHATIAN!!! 
Cerita ini mengandung fiksi, jika ada kesamaan tokoh, latar, dan cerita itu merupakan kesalahan yang disengaja. :p







Kamis, 12 November 2015

Morning Hectic

Seperti biasa, tiap pagi suasana di rumahku terasa ramai sekali--gaduh lebih tepatnya. Dua orang adikku yang duduk di taman kanak-kanak, si kembar, Rana dan Rani seperti biasa selalu berebutan ke kamar mandi. Mulai dari rebutan handuk--walau sudah punya masing-masing, hingga rebutan siapa yang harus lebih dulu ambil gayung dan pakai sabun. Tentu saja, pertikaian antara si kembar ini tidak akan berakhir jika mama belum turut ambil bagian untuk melerai.

Sementara Randy, adikku yang duduk di kelas 2 SMA tidak akan menunjukkan tanda-tanda ketertarikkannya untuk beranjak dari kasur--yang sudah lebih 6 bulan tidak diganti spreinya, jika si Bonny--jam waker berbentuk kucing kesayangannya belum berbunyi. Jika Bonny berbunyi, maka dengan kecepatan--entah apa, Randy akan segera bangun, melompat dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi, serta membuat kegaduhan bersama papa. Kegaduhan karena harus berdebat--rebutan kamar mandi dengan papa yang punya kebiasan bolak-balik buang air besar tiap pagi. Nyaris lebih dari 7 kali buang air sebelum akhirnya papa berangkat ke kantor. Sungguh kebiasaan papa yang aneh.

Seolah tidak peduli dengan kegaduhan yang terjadi di sekitarnya, Mba Tum, pembantu di rumah kami tengah asyik meramu bahan-bahan yang ada di dalam kulkas untuk diolah menjadi santapan lezat bagi penghuni rumah. Tentu saja seperti biasanya, sambil menyiapan masakan, Mba Tum berdendang-dendang ria dengan lagu dangdut terbarunya. Mba Tum penggemar dangdut tulen. Jika ingin tahu perkembangan dunia perdangdutan masa kini, tanyakan saja pada Mba Tum, dia tahu segalanya.

Sedangkan Farel, dan mungkin memang hanya Farel yang tidak turut serta menyumbangkan kegaduhan pagi hari di rumah. Adik laki-lakiku yang duduk di kelas 1 SMP ini, terlihat sudah rapi dengan seragam putih-birunya. Si Mr.Kaku kutu buku ini, seolah tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi. Dia hanya tertarik dengan hal-hal yang bisa menambah wawasan dan menaikkan nilai rapornya. Maka, jadilah buku-buku tebal menjadi santapan favoritnya tiap pagi. Bahkan saat di meja makan sekalipun, buku-buku tebal itu seolah menjadi hidangan pelengkap baginya.

Dan aku, mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi negeri, masih setia di sini. Sejak ayam mulai tertidur hingga bangun kembali, berkutat dengan file-file di depan laptop dan printer yang tintanya ngadat lagi pagi ini.


-Cici Putri-



#Challenge
#BukuTintaKulkas

Selasa, 10 November 2015

Kotak Pos

"Kakaaaakkk... Itu punya aku mau dikemanain?"

"Mau dibuat sesuatu. Aku minta, ya." Alis Jony naik turun, menggoda--lebih tepatnya membujuk paksa adiknya.

"Tapi itu kan, tempat mainan aku," protes Danu.

"Udah, Untuk mainan kamu nanti pake yang lain aja. Pake keresek juga bisa. Ini lebih penting," jawab Jony. Tangannya sibuk mematut-matut kardus yang semula menjadi markas mainan adiknya.

"Kakak... Sebenernya mau buat apa, sih?" Danu mendekati Jony yang tengah men-design kardusnya.

"Sebentar. Nanti kamu juga tahu," jawab Jony masih sibuk dengan kardus, gunting, spidol dan beberapa peralatan lainnya. "Bisa tolong ambilin tangkai sapu yang udah nggak kepake di gudang, nggak?" pinta Jony.

Danu menurut, dan mengambilkan tangkai sapu yang dimaksud kakaknya, walau masih heran apa sebenarnya yang tengah dilakukan kakaknya yang duduk di kelas lima Sekolah Dasar ini. Sedangkan otak taman kanak-kanaknya, masih terlalu polos untuk menerka-nerka.

"Nah, siap." Jony berdiri berkacak pingang, dengan senyum sumringah seraya memamerkan karyanya.

"Itu apa, kak? Tongkat nenek sihir?" komentar Danu polos, melihat kardus yang sedikit dicoret-coret, atau digambar entahlah dengan tangkai sapu sebagai penyangganya. Mirip seperti tongkat sihir--atau lebih tepatnya tongkat ibu peri versi jumbo.

"Ini kotak pos. Mau aku letak di depan rumah," jawab Jony cuek. Tidak mempedulikan tatapan heran adiknya.

"Kotak pos? Tapi untuk apa, kak?" Danu masih saja dengan pertanyaan polos dan tatapan herannya.

"Buat naruh paket, surat atau apalah sejenisnya. Biar Pak pos yang tampangnya serem itu nggak perlu lagi ketok-ketok pintu kalau mau ngantarin paket untuk Kak Manda. Sebel tahu, kalau lagi-lagi aku yang disuruh ibu bukain pintu, trus aku harus jumpa sama Pak Pos serem dengan barisan gigi kuningnya gitu. Kayaknya Pak Pos itu nggak mandi-mandi deh, sampe tampangnya jadi kayak gitu," jelas Jony sambil bersungut.

"Haha..." Tawa Danu pecah. Dia kini mulai mengerti kenapa kakaknya ingin segera membuat kotak pos. Jony ingin menghindar dari Pak Pos yang sering sok ramah dengan barisan gigi kuning dan tampang mirip penculik.


-cici putri-
#TelPicNightOWOP


Senin, 09 November 2015

"Mengetuk" pintu

Hufh. Kuhempaskan badan yang penat di atas kasur kamar kosan. Tas selempang yang setia menemani perjalanan kuliahku selama tujuh semester ini, kuletakkan sembarang di samping kasur. Kunyalakan kipas angin mini yang terletak di samping tempat tidur. Syukurlah siang ini dosenku nggak jadi masuk, jadi aku bisa istirahat. Jarang-jarang bisa istirahat siang kayak gini. Dan kebetulan anak-anak kos yang lain belum pulang, jadi aku bisa bocan--bobok cantik. Siapa tahu nanti mimpi dilamar pangeran, kan lumayan. Hehehe.

Angin sepoi-sepoi mulai membelai rambutku yang basah oleh keringat. Oh, betapa nikmatnya bisa tidur siang seperti ini, pikiranku pun mulai melayang entah kemana. Terlena bersama belaian mesra angin dari kincir mini yang berputar di sampingku. Baru saja aku terlena dan hendak memejamkan mata, saat terdengar suara seseorang mengetuk pintu.

Tok... tok.. tok...

"Assalamu'alaikum." Ya ampuuun, ini siapa sih yang datang siang-siang begini. Nggak bisa banget liat orang seneng apa, yah?

"Wa'alaikumussalam," jawabku lirih, masih dengan kepala menekur ke bantal.


Tok... tok... tok...

"Assalamu'alaikum." Terdengar ucapan salam untuk kedua kalinya.

"Wa'alaikumussalam. Iya sebentar," jawabku malas. Dengan tampang kusut dan mata setengah terbuka, aku menyambar kerudung instan di belakang pintu kamar. Bukan jilbab lebar seperti yang kebanyakan digunakan para penghuni kos ini. Tapi setidaknya aku sudah menutup aurat selalu, kan? Menutup aurat versi aku tentunya. Kulangkahkan kaki menuju pintu depan sambil misuh-misuh dalam hati, Hmm... Awas ya, kalau yang datang ini abang-abang galon yang sok kegenitan itu, terus belagak minta tagihan galon siang-siang gini. Langsung aku usir dan bilang mulai hari ini penghuni kos nggak minum air galon lagi, cukup nampung air hujan aja.

Tok... tok... tok...

Ketukan ronde ketiga, membuatku semakin sebal. Iya, iya. Sebentar. Ni orang nggak sabaran amat sih. 

"Ya, cari siapa?" kataku ketus seraya membuka pintu. Namun perasaan kesal karena ada yang mengganggu rencana bocan-ku tiba-tiba menguap bersama panas udara hari ini, saat mendapati seorang pria dengan tinggi 170-an, berkulit sawo matang, rambut rapi dengan sedikit "acakan cakep"  di bagian jambul, berdiri di hadapanku.

Oh Em Ji. Ini bukan mimpi kan? Ada angin apa, siang-siang gini ada pangeran cakep nyamperin aku ke kosan? Aku menepuk-nepuk pipi, meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi.

"Eh. Reyna ada?" tanya pria itu sambil menunduk-nunduk sopan, sambil menyugingkan senyuman yang membuatku meleleh. Aku terpana.

"Maaf, Reyna ada?" tanyanya lagi, membuyarkan lamunanku.

"E eh." Aku gelagapan, ketahuan melamun. "Oh, Reyna. Reyna... masih di kampus, ya di kampus." jawabku menebak-nebak, karena memang mungkin dia masih di kampus. Ya ampun, ini cowok cakep amat sih, siapanya Reyna coba? Pacar? Kayaknya nggak mungkin deh, Reynakan jilbaber gitu, masa punya pacar. Kalau emang bukan pacar Reyna, berarti boleh dong buat aku? Khayalanku mulai beraksi lagi.

"Oh. Ya udah, kalau nggak ada. Saya titip ini aja, ya." Cowok berkemeja coklat dengan lengan panjang yang sedikit digulung itu menyerahkan kantong plastik berukuran lumayan besar padaku. "Itu dari ibunya Reyna, bilang aja tadi Bang Arya yang antar ke sini."

"Oh ya, nanti aku sampaikan," jawabku. Setelah berterima kasih, diapun pamit. Sebelum dia benar-benar membalikkan badan, "Oh ya, mas ini siapanya Reyna, ya?" tanyaku polos, lalu aku mengutuk diri sendiri karena lancang bertanya tanpa malu.

"Saya abangnya, bukan abang kandung sih. Tapi kami sepupu dan saudara sepersusuan, dan kebetuluan rumah kami berdekatan. Jadi, semalam waktu aku pulang, ibu Reyna nitip itu buat Reyna. Tolong sampaikan, ya." Aku mengangguk mengiyakan, diapun pamit dan berlalu.


Aku kembali ke kamar dengan wajah berseri-seri atau lebih tepatnya mesam mesem sendiri. Dan karena kejadian barusan, gen ngayal yang sedari dulu melekat di diriku mulai beraksi lagi. Aku kembali membaringkan badan dengan indah di tempat tidur sambil mengkhayal menjadi putri dan Bang Arya pangerannya. Aaa... Pasti keren banget deh. Akupun mulai terlarut dalam buaian mimpi--yang kuciptakan sendiri.

Tok... Tok... Tok...

Aduh. Siapa lagi, sih? Dengan berat aku melangkahkan kaki membuka pintu depan.

"Ya, cari si--" Suaraku tercekat saat melihat Bang Arya sudah berada di depan pintu dengan seikat bunga mawar merah di tangannya.

"Sa, maaf kalau udah ganggu istirahat kamu. Tapi aku ke sini cuma mau ngasih ini buat kamu." Bang Arya menyerahkan bunga mawar di tangannya ke padaku. Ya ampuuun... So sweet banget sih. Mukakku merah tomat, bahkan mungkin lebih merah lagi.

"Makasi ya, Bang. Jadi nggak enak, Bang Arya sampai repot-repot gini." Aku menerima bunga mawar itu dan menciumnya. Seperti adegan di tivi-tivi.

"Nggak repot, kok. Untuk gadis secantik kamu, aku seneng-seneng aja direpotin." Kata-kata Bang Arya membuatku makin meleleh.

"Oh ya. Bang Arya kenapa balik lagi? Dan kok tahu namaku Salsa?"

"Karena aku... Aku sayang kamu, Sa." jawab Bang Arya seraya menyentuh pundakku.

"Bang Arya sayang aku?" Bagaimana mungkin baru kenal udah bisa bilang sayang? Mendadak otak khayalanku mulai mendarat di bumi--bisa berpikir logis.

"Iya, aku sayang kamu. Sayang kamu." Kini yang kurasakan bukan hanya sentuhan tangan-romantis, tapi, lebih seperti Bang Arya sedang menggoncang-goncang badanku. Aku mulai linglung.

"Sa, kamu gimana? Ini udah jam berapa? Ayo, Saa..." Hah? Jam berapa? Bang Arya kenapa? Aku semakin bingung. Tubuhku terasa semakin digoncangkan oleh tangannya--yang kurasa bukan tangannya.


"Salsaaa.... Ayo bangun. Ini udah jam berapa?" Hah? Tiba-tiba aku melihat Tantri, teman sekamarku sudah berdiri di samping tempat tidur. "Kamu itu mimpi apa, sih? Siang-siang gini tidur sambil senyam-senyum. Dibangunin dari tadi susah banget lagi," omel Tantri.

"Hehehe..." Aku nyengir. "Mimpi ada seorang pangeran mengetuk pintu hatiku," jawabku sambil cengengesan.

"Pangeran ngetuk pintu aja udah sampe lupa waktu. Tuh, ada yang dari tadi ngetuk pintu ngantarin cinta nggak kamu gubris."

"Hah? Siapa?" tanyaku dengan muka cengo.

"Allah. Udah dari tadi adzan ashar tahu. Udah digedor-gedor sama Allah. Kamunya cuek aja. Tuh, udah mau jam lima. Udah ashar, belum?" tanya Tantri sambil melilrik jam dinding di kamarku.

Astaghfirullah. Hatiku tersentil.