Rabu, 13 April 2016

BC BC Gemez

Sebenarnya dari beberapa hari yang lalu udah "gatel" pengen nulis ini. Eh, apa malah dari tahun lalu ya? Ah, pokoknya udah lama sih sebenarnya kerisauan ini ingin ditulis dan disampaikan. Bukan untuk "Sok mengajari" apa lagi "menggurui". Bukan karena merasa "Paling benar" ataupun "cari tenar". Bukan, bukan karena semua itu atau pun alasan yang sejenis dengan itu. Semoga Allah menjauhkannya dariku.

Oke, sekarang langsung aja. Jadi, ceritanya beberapa hari kemarin lagi marak banget BeCa BeCe (baca: Broadcast) tentang bulan Rajab. Yang pada kebagian BC seperti ini pasti udah ngerti dong ya... BC yang dimaksud yang seperti apa. Bagi yang belum tahu, baiklah, akan aku kasih tahu. Ini dia BC-nya. (Rencana mau discreenshoot, tapi kepanjangan. Jadi dicopas aja.)

Selasa, 12 April 2016

Putri Kentang (Part 2-End)

Putri Kentang part 1, baca di sini

***
Tong sampah yang tak teralu besar di sudut kamar penuh dengan bola-bola kertas berbentuk sembarang. Bukan bola sebenarnya, mungkin lebih tepat jika menyebutnya gumpalan kertas yang diremek-remek, ini entah sudah kertas yang keberapa, dan nyaris, jika aku tak bisa mengendalikan diri, habis sudah satu rim kertas HVS, hanya untuk menulis sebuah surat, surat untuk Pini.

'Tuhaaan... Kenapa sesulit ini???' Aku meremas-remas kepalaku yang plontos.

Menulis surat. Ya, mungkin terlihat aneh dan kuno untuk zaman serba canggih seperti sekarang. Tapi, apalah dayaku, ponsel pintarku seakan tak ada gunanya bila aku berhadapan dengan Pini. Bukan karena aku menjadi gagu ketika hendak menghubunginya--walaupun sebenarnya itu salah satu alasannya--tapi, alasan utamanya adalah karena Pini tidak punya ponsel pintar. Jangankan ponsel pintar, ponsel yang tak pintar pun dia tak punya. Karena seperti kalian tahu, Pini hanyalah gadis dari keluarga sederhana, gadis penjual kentang. Namun, kesederhanaan--dan paras ayu--yang dimilikinya inilah, yang membuatku jatuh cinta.

Senin, 11 April 2016

MEMULAI

Seberat-beratnya melangkah, lebih berat lagi untuk memulai. Ya. Memulai. Memulai apa saja. Kerja, memasak, menyelesaikan tugas kuliah, menyelesaikan skripsi, menuntaskan tumpukan cucian, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Dan tentunya tak terkecuali menulis.

Butuh tekad dan kemauan yang kuat dari dalam diri sendiri untuk bisa memulainya.
Mulai memikirkan kerisauan-kerisauan di hati lalu menuangkannya dalam tulisan.
Mulai untuk peka lebih peka menangkap ide-ide yang berkeliaran.
Mulai untuk meluangkan waktu untuk benar-benar menulis, bukan sekedar menunggu waktu luang.

Untuk memulai, akan ada banyak alasan memang.
Mulai dari rasa malas, malu, takut, dan sebagainya.

Namun, jika kita tidak pernah memberanikan diri untuk memulai, maka sudah dapat dipastikan kita tidak akan pernah sampai--pada tujuan kita--menjadi penulis.

Karena, bukankah untuk sampai pada tangga sepuluh, kita harus melewati tangga satu, dua, tiga, dan seterusnya? Maka, mulailah naiki anak tanggamu sekarang. Langkahkan kaki, jangan takut.
Karena, tak kan pernah sampai orang yang tak pernah memulai.

Dan untukmu yang sudah memulai langkah, jangan berhenti. Teruskanlah. Karena jika kamu berhenti, maka akan sulit untuk memulai lagi.

Semangat memulai, semangat meneruskan langkah.

Semoga jejak-jejak goresan pena, mengantarkan kita ke Jannah-Nya.

-Cici Putri-
@ciciliaputri09


Selasa, 05 April 2016

Putri Kentang

Aku tak tahu pasti sejak kapan aku punya kebiasaan seperti ini. Duduk menunggu seseorang tiap sore di teras rumah. Seseorang yang mungkin bagi kebanyakan orang, tidak begitu penting.  Ya, bisa jadi, karena dia memang bukan orang penting seperti para pejabat ataupun artis ibu kota. Namun bagiku, dia teramat penting. Karena dengan memandanginya di setiap sore, membawa gairah tersendiri bagiku, bagi masa depanku tentunya. 

Memperhatikan caranya tersenyum dengan semua orang, membuat hatiku berdesir, apatah lagi saat dia benar-benar menyambutku dengan senyumnya, hatiku meleleh. Ingin langsung kutemui ayahnya, dan mengajaknya ke kantor KUA. Dia gadis bermata bulat, dengan hitung mancung dan bibir merah munggil. Kulitnya tidak terlalu putih memang, namun bersih. Kelihatan sekali dia adalah gadis yang pandai merawat diri. Ah sungguh istri idaman para suami. Kerudung sederhana, yang menjulur ke dada, tidak terlalu panjang memang, tapi cukup menambah anggun penampilan dan pancaran kecantikkannya.

Senin, 04 April 2016

Sendiri Saja


Akan ada masa
Saat kau ingin sendiri saja
Bersama jam dinding mengeja masa

Menghitung detik-detik yang tlah terlewati
Dalam menapaki perjalanan di muka bumi
atau sekadar mereka kembali mimpi-mimpi.

Akan ada masa,
saat kau ingin sendiri saja,
menikmati senja
Mengumpulkan puing-puing asa,
Yang tlah mulai hilang entah ke mana.

Akan ada masa,
Saat kau ingin sendiri saja.
Menikmati mentari pagi tersenyum manja.
Menerpa wajah,
di bawah sinarnya yang begitu ramah.

Akan ada masa
Saat kau benar-benar ingin sendiri.
Bukan untuk lari.
Hanya ingin merasai
Dan menakar ke dalam diri.
Masih adakah cinta-Nya di hati.

Dan...
Akan ada masa
Akan ada masa
kita
Benar-benar akan sendiri,
Dan mati.


-Cici Putri-

Jumat, 01 April 2016

G.A.L.A.U

Galau.
Ini kata sebenernya berasal dari mana, sih? Kenapa dia sering banget menghampiri? Menghampiri para jomblo yang masih sendiri. *Lah, emang ada jomblo yang nggak sendiri?* Hahahaha. Oke abaikan.

Galau.
Galau seorang yang katanya penulis itu, biasanya ketika nggak ada ide, dan ketika ada ide terus bingung mulai dari mana. Nggak tahu deh ini bener apa nggak. Soalnya aku sendiri masih merasa belum jadi penulis, karena bisanya cuma corat-coret yang berakhir tragis. Hiks.

Galau.
Katanya anak intuiting itu susah move on, makanya gampang galau. Tapi, entah kenapa justru yang aku rasain sekarang beda. Galau bukan karena nggak bisa move on, tapi justru karena terlalu mudah untuk move on. Move dari satu ide ke ide lainnya. Belum selesai satu pengen yang lain, loncat sana loncat sini sesuka hati. Untung hati sendiri, bukan hati orang lain. Kalau hati orang lain kan bisa kacau. *Cici, ngomong apa sih? Pliizz fokus* Oke. Ini udah mulai ngelantur. Maafkan saiah pemirsah.

Galau.
Serius deh. Ini beneran lagi galau karena ide udah berjejer, tapi nggak ada yang beres satupun. Mau buat tulisan buat ikutan Give Away-nya Bang Syaiha juga nggak jadi-jadi, padahal deadline tinggal satu hari. Hiks :'(

Galau.
Berkaitan dengan move on, dan kini aku sadar, terlalu mudah untuk move on tidak baik untuk kesehatan tulisan. Karena tulisan hanya butuh kesetiaan, bukan ide yang berjejal tanpa ada kaitan.

Galau.
Makasi sih, udah mau baca tulisan galau super gaje ini. Dan sebelum ditutup (dikira lagi nge-MC), aku cuma mau bilang. Makasi buat Bang Syaiha dan temen-temen ODOP yang udah berhasil bikin aku "galau" tiap hari.

Salam Galau.

Oh ya, buat Gilang... Selamat kamu udah berhasil buat aku pengen cakar-cakar tembok (iri) karena presensi setoranmu selalu nangkring nomor satu. Dan aku entah kapan bisa begitu. Hiks :'(
Eh, eniwei kamu nggak tidur, ya? Ampe (nyaris) tiap hari selalu setoran jan 00.01 WIB?
Hmmm... Baiklah, dari pada ini semakin galau, gaje dan nggak penting, (sekali lagi) mari kita akhiri.

Salam Galau (Lagi)


#UdahGituAja
#MaafUdahBikinKeselKarenaBacaTulisanGaje